SULTRABERITA ID, KENDARI – Aktifitas mudik secara besar besaran pada musim lebaran Idul Fitri berpotensi menyebarkan Virus Corona hingga ke penjuru desa di seluruh Indonesia. Keadaan ini mengharuskan pemerintah daerah lebih cepat tanggap mencegah penyebaran virus corona dan dampak ekonominya di masyarakat jelang hari raya umat muslim.
BACA JUGA :
- Deretan Giat Jajaran Polresta Kendari Selama Ramadan, Berbagi Takjil Hingga Pengamanan Tarawih
- Pengumuman! Mendag Tarik Minyakita Kemasan 1 Liter di Pasaran
- PT Anindya Wiraputra Konsul Salurkan 3.000 Takjil di Eks MTQ
- Kantor Perwakilan LPS III Bagikan 200 Paket Sembako di Makassar & Takalar
- Buruan Daftar ! Kementan Cari Duta Petani Untuk Kampanye Potensi Sektor Pertanian Modern
Terkait potensi penyebaran virus Corona pada momen mudik yang kian dekat, Anggota Komisi II DPR RI, Ir Hugua mendesak Mendagri mengeluarkan ultimatum tegas pada gubernur, bupati/wali kota se-Indonesia agar memaksimalkan alokasi APBD guna menangani masyarakat yang terpapar corona. Termasuk memporsikan anggaran untuk backup masyarakat yang secara sosial ekonomi terdampak wabah mematikan tersebut.
Pentingnya penanganan cepat wabah ini sebelum musim mudik bergulir, kata Hugua, mengharuskan kepala daerah tak perlu lagi menunggu konfirmasi lembaga legislatif sebagaimana lumrah untuk ketuk palu anggaran.
“Tidak ada alasan lagi bagi pemda untuk terlambat atau ragu merevisi anggaran walaupun tanpa persetujuan DPRD, karena sudah ada payung hukum berupa Inpres No 4 Tahun 2020, Permendagri No 20 Tahun 2020 serta Permenkeu No. 19 PMK. 07 /2020 dan dana tersebut dapat segera dibelanjakan tegasnya,” tegas Hugua.
Ia berharap anggaran penanganan Covid-19 rampung dalam waktu pekan ini juga.
“Ini mengingat proses mudik puluhan juta penduduk berjalan terus dan eskalasi wabah virus corona semakin hari semakin meluas di seluruh Indonesia,” tambah Hugua.
Lebih lanjut, mantan Bupati Wakatobi tersebut menyarankan APBD digelontorkan untuk membasmi Corona diprioritaskan pada komponen yang tidak terjangkau oleh APBN.
Semisal untuk peningkatan kompetensi paramedis di tingkat Puskesmas dan Polindes/Poskesdes dalam penanganan infeksi Virus Corona. Termasuk edukasi tata cara melindungi diri bagi petugas kesehatan agar tak terpapar virus kala menangani pasien. Dengan begitu, lanjut Hugua mereka tidak justru menjadi korban atau carrier Corona ke tempat lain.
Yang tak kalah penting, anggaran penanganan Corona di Sultra yang nilainya mencapai Rp 300 Miliar dapat dibagi untuk membantu masyarakat pekerja yang terdampak wabah. Diantaranya adalah korban PHK.
Pemeirntah mesti menyiapkan pengaman sosial bagi masyarakat rentan tidak tercover oleh paket stimulus ekonomi dari pemerintah pusat.
“Disamping itu juga pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) serta obat obatan umum yang berkaitan dengan infeksi yang ditimbulkan oleh virus tersebut ditingkat Puskesmas. Tentang latihan paramedis bisa dilaksanakan dengan metode online atau youtube untuk tetap menjaga social distancing,” ungkap Hugua.
Ketua Asosiasi Pemda Maritim 6 Negara CTI ( LGN -CTI) ini menilai Sultra sebagai daerah kepulauan kendali penanganan kasus virus Corona menjadi begitu sulit akibat akses yang susah. Ditambah keterbatasan fasilitas kesehatan di sejumlah pulau, Hugua khawatir petaka Covid-19 menimbulkan kepanikan tenaga medis di daerah yang sejatinya belum siap memberi pelayanan maksimal.
“Sulit membayangkan kegaduhan dan kepanikan petugas medis dan masyarakat desa jika kasus wabah Corona terjadi di pulau tertentu apa lagi karena kendala angin dan ombak. Pasien tidak bisa dirujuk ke Rumah Sakit yang umumnya berlokasi di Ibu kota. Saya berharap kepada Pak Gubernur, Bupati dan Wali Kota mempunyai cara dan metode mitigasi bencana yang tepat dan harus teranggarkan dalam APBD masing masing,” papar Hugua. Adm