BERITA TERKINIHEADLINEHUKRIMNASIONAL

Sejarah Kelompok Abu Sayyaf, Separatis Filipina Paling Sadis Yang Sandera Nelayan Wakatobi

×

Sejarah Kelompok Abu Sayyaf, Separatis Filipina Paling Sadis Yang Sandera Nelayan Wakatobi

Sebarkan artikel ini

SULTRABERITA.ID, KENDARI – Kelompok Abu Sayaf diketahui hingga kini masih melakukan penyanderaan terhadap lima WNI masing-masing Tungku Lahad Datu, N Sabah. Mereka disandera saat sedang mencari ikan di perairan Tambisan, Malaysia, 16 Januari 2020.

Beberapa diantara sandera Abu Sayyaf adalah nelayan Kabupaten Wakatobi. Miris, salah satu korban yang diculik yang merupakan warga Wakatobi yang masih berusia 11 tahun bernama Muhammad Khairuddin.

Kelompok Abu Sayyaf sendiri dikenal sebagai separatis paling berbahaya dan sadis. Mereka kerap membajak kapal nelayan dan meminta tebusan sebagai barter nyawa sandera yang ditawan. Tak jarang mereka membunuh para tawanan jika tuntutan tebusan tak dipenuhi.

BACA JUGA :

Baca Juga :  Syarat dan Cara Mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu

Kelompok Abu Sayyaf secara tidak resmi dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah – Provinsi Filipina. Juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya, adalah sebuah kelompok separatis yang terdiri dari milisi yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.

Nama kelompok ini adalah bahasa Arab berarti Untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf).

Separatis yang mulai aktif tahun 1991 ini tercatat pernah terlibat dalam konflik Moro, serangan lintas perbatasan di Sabah dan perang global melawan teror.

Adalah Khadaffi Janjalani dinamakan sebagai pemimpin kelompok ini oleh Angkatan Bersenjata Filipina.

Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Kelompok ini sering melakukan rangkaian pengeboman, pembunuhan, penculikan dan pemerasan dengan tidak pandang bulu.

Hal tersebut dilakukan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu serta menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar ‘Pan-Islami’ di Semenanjung Melayu (Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara.

Berbasis di Mindanau Filipina

Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Dukung Kebangkitan Pariwisata Wakatobi

Rekrutan pertama Abu Sayaf adalah Abdurajik Abubakar Janjalani. Ia adalah tentara MNLF dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Namun, baik MNLF dan MILF menyangkal hubungan dengan Abu Sayyaf. Keduanya secara resmi menjauhkan diri karena serangannya terhadap warga sipil dan dugaan pencatutannya.

Militer Filipina telah mengklaim bahwa elemen dari kedua kelompok memberikan dukungan kepada Abu Sayyaf. Kelompok ini pada awalnya tidak dianggap menerima dana dari sumber luar. Tetapi laporan intelijen dari Amerika Serikat, Indonesia dan Australia menemukan hubungan yang terputus-putus dengan kelompok teroris Jemaah Islamiyah Indonesia.

Berafiliasi dengan Al-Qaedah

Pemerintah Filipina menganggap Abu Sayyaf sebagai bagian dari Jemaah islamiyah. Pemerintah mencatat bahwa dana awal untuk ASG berasal dari al-Qaeda melalui saudara Osama bin Laden dan Mohammed Jamal Khalifa.

Teroris yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, Ramzi Yousef beroperasi di Filipina pada pertengahan 1990-an dan melatih tentara Abu Sayyaf. 

Edisi 2002 Pola Terorisme Global Departemen Amerika Serikat menyebutkan tautan ke Al-Qaeda. Hubungan yang berlanjut dengan kelompok-kelompok Islam di Timur Tengah menunjukkan bahwa al-Qaeda mungkin akan terus memberikan dukungan. 

Baca Juga :  Kadin Sultra Bangga, Wakil Sultra Tembus 6 Besar Putri Indonesia di Jakarta

Pada pertengahan 2005, personel Jemaah Islamiyah dilaporkan telah melatih sekitar 60 kader Abu Sayyaf dalam merakit dan meledakkan bom.

Barter Nyawa Tawanan Dengan Uang

Kelompok ini memperoleh sebagian besar pembiayaannya melalui tebusan penculikan dan pemerasan. Satu laporan memperkirakan pendapatannya dari pembayaran tebusan pada tahun 2000 adalah antara $ 10 dan $ 25 juta.

Menurut Departemen Luar Negeri, mungkin menerima dana dari dermawan Islam radikal di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dilaporkan bahwa Libya memfasilitasi pembayaran uang tebusan kepada Abu Sayyaf. Juga disarankan agar uang Libya bisa disalurkan ke Abu Sayyaf.  

Badan intelijen Rusia yang terhubung dengan pesawat Victor Bout dilaporkan memberi Abu Sayyaf senjata.  Pada tahun 2014 dan sejak itu, penculikan untuk tebusan telah menjadi cara utama pendanaan.

Abu Sayyaf telah melakukan banyak pemboman, penculikan, pembunuhan dan kegiatan pemerasan. Ini termasuk penculikan di pulau Sipadan pada tahun 2000, penculikan Dos Palmas tahun 2001 dan pemboman 14 SuperFerry 2004.

Terkini, lima nelayan WNI termasuk asal Kabupaten Wakatobi disandera kelompok Abu Sayyaf sejak 16 Januari 2020. Belum diketahui persis bagaimana nasib para sandera yang diantaranya adalah bocah berusia 11 tahun.

Sumber : Wikipedia



0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x