BERITA TERKINIHEADLINE

Lawan Misinformasi Migran, Lajur.co dan 16 Jurnalis se-Asia Terpilih Ikuti Training Internasional IOM di Bangkok

×

Lawan Misinformasi Migran, Lajur.co dan 16 Jurnalis se-Asia Terpilih Ikuti Training Internasional IOM di Bangkok

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, BANGKOK – Jurnalis Lajur.co, Siti Marlina dari Indonesia terpilih sebagai satu dari 17 jurnalis lintas negara Asia yang mengikuti Training on Migration Reporting bertema “Beyond Borders – Reporting Forced Displacement and Migration in Asia” di Courtyard by Marriott, Bangkok, Thailand yang berlangsung 21–24 November 2025.

Ia menjadi satu dari tiga jurnalis asal Indonesia masing-masing berasal dari TEMPO dan BBC yang lolos seleksi dalam program internasional yang diselenggarakan oleh International Organization for Migration (IOM) bekerja sama dengan DW Akademie.

 

Pelatihan diikuti jurnalis dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Bangladesh, Myanmar, Afghanistan, dan Pakistan yang memiliki ketertarikan dan komitmen dalam isu komunikasi serta peliputan migrasi. Selama empat hari, peserta dibekali perspektif dan keterampilan untuk meliput isu migran secara akurat, berimbang, dan beretika di tengah meningkatnya tantangan misinformasi dan disinformasi.

Dalam sesi wrap up and closing remarks, Michiko Ito, Chief of Mission IOM Thailand, menegaskan bahwa migration is normal sebagai fenomena manusia.

Baca Juga :  Beli Rumah Bebas PPN Tahun Ini, Cek Syaratnya!

“Because we want to survive, we want a better life,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menghapus stereotip negatif terhadap migran melalui peliputan yang empatik dan manusiawi.

Pesan tersebut diperkuat Kate Pochapsky, Senior Policy Officer UNHCR Regional Bureau for Asia and The Pasific dan Sheilla Myrokerar, Trainer from DW Akademie, yang mengingatkan prinsip utama peliputan migrasi.

“There is no story about us without us. Don’t talk about us without us,” kata Sheila menyampaikan pesan penting kepada jurnalis kala melakukan reporting isu migran.

Sheilla Myrokerar menegaskan stereotipe negatif terhadap migran semakin menguat akibat penggunaan istilah yang keliru dalam pemberitaan maupun percakapan publik. Menurutnya, bahasa yang digunakan media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap migran.

Salah satu contoh yang kerap ditemui adalah penggunaan istilah illegal migrant. Sheilla menekankan bahwa tersebut tidak tepat, karena tidak ada manusia yang ilegal. Istilah yang lebih akurat dan beretika adalah irregular migrant yang merujuk pada status administrasi, bukan pada identitas atau nilai kemanusiaan seseorang.

Baca Juga :  Gubernur ASR dan Kapolda Sultra Sambangi Empat Gereja Besar di Kendari Saat Misa Natal, Sisir Pos Pengamanan

Sebagai peserta, Siti Marlina mengatakan selama pelatihan para jurnalis mempelajari berbagai materi inti, mulai dari Key Concepts in Migration Reporting, Types of Migration and Migrants in Vulnerable Situations, hingga Legal Aspects of Migration. Peserta juga dilatih melakukan wawancara dengan kelompok rentan, memahami aspek consent, privacy, and vulnerabilities, serta mengenali bahaya over-reporting dan under-reporting dalam pemberitaan.

“Senang sekali bergabung menjadi bagian keberagaman IOM-DW Akademie. Pelatihan ini memberi pemahaman dan perspektif baru bagi saya sebagai jurnalis, terutama di Indonesia yang juga menjadi area perlintasan migran. Anggapan negatif karena banyak misinformasi tentang migran. Di sini, cara pandang kami terhadap isu migrasi benar-benar diperluas, terutama bagaimana menulis dan melaporkan cerita migran secara lebih empatik, adil, dan manusiawi,” ujar Siti Marlina, menambahkan bahwa pengalaman tersebut mengubah pendekatannya dalam melihat serta menuliskan isu-isu migrasi.

Baca Juga :  Harga Cabai di Kendari Kian 'Pedas' Jelang Nataru: Tembus Rp70 Ribu/Kg, Diprediksi Makin Melonjak

Tak hanya teori, pelatihan IOM – DW Akademie mendorong kolaborasi lintas negara melalui Group Work on Collaborative Reporting Story Ideas, yang mempertemukan jurnalis dari berbagai latar belakang isu migrasi dan konflik di Asia. Diskusi lintas batas diharapkan dapat memperkaya sudut pandang serta memperkuat jejaring jurnalis kawasan.

Pelatihan diselenggarakan IOM-DW Akademie sebagai respons atas meningkatnya anti-migrant sentiments yang dipicu oleh misinformation, disinformation, dan hate speech, terutama di media sosial. Narasi berbasis ancaman terhadap migran dinilai berpotensi membahayakan keselamatan mereka serta menghambat akses terhadap layanan dan kehidupan yang bermartabat di negara tujuan.

Melalui Training on Migration Reporting, IOM dan DW Akademie berupaya membangun kapasitas jurnalis agar mampu menghadirkan liputan migrasi yang etis, akurat, dan berperspektif kemanusiaan, sekaligus memperkuat peran media dalam mendorong koeksistensi damai dan saling memahami di kawasan Asia. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x