BERITA TERKININASIONAL

Bermunculan Komunitas Jalan Kaki, Geser Tren Kebugaran ‘Toksik’ Penuh Tekanan?

×

Bermunculan Komunitas Jalan Kaki, Geser Tren Kebugaran ‘Toksik’ Penuh Tekanan?

Sebarkan artikel ini
Jalan kaki
Ilustrasi Jalan kaki. Foto : Ist

LAJUR.CO, KENDARI – Di tengah budaya yang serba cepat, jalan kaki terdengar seperti aktivitas fisik yang bukan jadi pilihan utama. Dianggap terlalu pelan, terlalu santai, dan seperti bukan berolahraga seperti yang lain.

Padahal, dari langkah-langkah santai itulah banyak orang kembali menemukan makna sehat yang sebenarnya. Selama yang dipilih bukan ‘jalanin aja dulu’, sepertinya semua akan baik-baik saja.

Dari sinilah mulai muncul komunitas jalan kaki di beberapa kota di Indonesia. Mereka hadir bukan untuk menantang siapa pun, melainkan untuk mengajak siapa saja ‘kalau bisa pelan, kenapa harus tergesa?’

Jalan Kaki dan Bersosial

Jalan kaki tak hanya sekadar mencari sehat. Lebih dari itu, ini merupakan cara untuk seseorang bisa sambil bersosial mengenal orang baru, menambah kawan baru.

Seperti yang dilakukan oleh Tita (37) seorang karyawan swasta di Malang. Bersama sang suami, Erick, keduanya mulai membentuk komunitas jalan kaki bernama ‘Uklamtahes’ di Malang pada September 2023 silam.

“Ternyata jalan-jalan itu nagih. Nggak bosen karena nggak cuma nge-loop CFD atau stadion atau lapangan olahraga. Kita bisa explore sisi lain kota Malang yang belum pernah kita lewati seumur hidup kita tinggal di Malang,” kata Tita kepada detikcom, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga :  Wabup Kolut Kini Miliki Rumah Jabatan Baru, Diresmikan pada Momen Tahun Baru

Dari sinilah komunitas ini mulai berkembang hingga memiliki 60 anggota, serta seringkali melakukan kolaborasi dengan komunitas-komunitas jalan kaki lainnya.

“Rata-rata mereka pengen ikut jalan-jalan karena pingin tahu sisi-sisi lain kota. Awalnya mereka pikir cuma jalan biasa, kayak gerak jalan RW pas 17 Agustusan. Tapi, rute kita penuh dengan kejutan dan penyiksaan,” katanya.

“Hampir semua member selalu datang kalau kami ada agenda jalan. Aku lebih suka grup yang sedikit tapi punya bonding yang oke banget,” sambungnya.

Harus Bergerak Agar Tetap Sehat

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memang sedang gencar-gencarnya mendorong masyarakat untuk memiliki gaya hidup aktif. Termasuk mendukung penuh komunitas jalan kaki ini.

“Bagus dong. Yang penting aktif. Mau olahraga apa pun, lari, jalan kaki, padel, yang penting sesuai anjuran WHO, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,” beber Budi saat ditemui detikcom Senin (19/1/2026).

Ia menegaskan, aktivitas fisik tidak harus selalu berat atau kompetitif. Selama tubuh bergerak secara rutin, manfaat kesehatan tetap bisa dirasakan, baik untuk kebugaran fisik maupun kesehatan mental.

Olahraga Santai Tanpa ‘Drama’ Persaingan Tidak Sehat

Baca Juga :  5 Makanan yang Diam-Diam Mempercepat Kerusakan Ginjal

Beberapa olahraga tidak bisa dipungkiri mulai menonjolkan persaingan. Tentang outfit paling keren, tentang gear paling terbaru, atau apapun itu. Bagi sebagian orang, hal ini justru melelahkan.

Hal ini lah yang dirasakan oleh Mahesa (28), walking enthusiast di Malang yang mulai mengikuti agenda-agenda dari komunitas jalan kaki mulai tahun 2023. Baginya, ini adalah cara untuk ‘kabur’ sementara dari dunia persaingan.

“Di lain sisi kan sekarang banyak komunitas lari, terus komunitas sepeda juga. Mereka kan bisa dibilang kompetitif ya, terus dengan adanya komunitas jalan kaki ini, kita bisa olahraga yang santai gitu,” kata Mahesa.

“Karena kan ini jalan, masuk-masuk gang. Jadi nggak terlalu yang membutuhkan effort. Kalau lari kan butuh effort yang keras banget,” sambungnya.

Jalan Kaki dan Dampak Kesehatan

Meskipun terdengar remeh, jalan kaki juga bisa memberikan dampak baik ke kesehatan tubuh. Setidaknya mengubah kebiasaan, dari yang awalnya harus naik kendaraan bermotor, kini memilih jalan kaki jika dirasa jaraknya tak terlalu jauh.

“Contohnya kalau mau ngopi, jarak 1 km katakanlah, sekarang ini bisa ditempuh jalan kaki,” kata Mahesa.

Manfaat lain yang dirasakan Mahesa adalah olahraga ringan ini membantunya mengontrol berat badan dan mendapatkan kualitas tidur lebih baik.

Baca Juga :  Tukar Poin 'Sembako' di GraPARI Kendari Banyak Diburu Pelanggan

“Kemarin itu di 2023 itu saya berat di 87 kg. Nah masuk awal tahun ini, lumayan turunnya, nggak terlalu signifikan sih sekarang di 80 kg, turun 7 kg lah,” katanya.

“Ngaruh juga sih di waktu tidur. Dulu kan seringnya begadang ya, setelah melakukan olahraga jalan itu, tidur jadi lebih cepet lebih pulas juga,” sambungnya.

Senada, Aurel (24), seorang walking enthusiast dari Malang mengatakan jalan kaki sekarang menjadi salah satu cara untuk menyegarkan diri di sore hari usai bekerja.

“Kalau untuk aku pribadi lebih kayak untuk nge-refresh aja sih terus kayak nafsu makan bertambah,” kata Aurel.

Aurel yang beberapa bulan ke belakang mulai aktif di komunitas jalan kaki mengaku tidak ada beban dalam berolahraga. Menurutnya, jalan kaki ramai-ramai membuat perjalanan jauh menjadi tidak terasa.

“Misalnya kita mau jalan 10 km gitu jadinya nggak kerasa. Enjoy aja, happy aja gitu. Kalau sendiri kan kayak sepi, bosen terus baru dapet berapa langkah udah cukup gitu,” tutupnya. Adm

Sumber : Detik.com

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x