LAJUR.CO, KENDARI – Alquran yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mungkin sudah lumrah ditemui. Bagaimana jika, kitab suci umat islam itu diterjemahkan dalam bahasa daerah Muna?
Ide menyusun terjemahan quran dalam bahasa daerah Muna kini tengah digagas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari bersama Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Rektor IAIN Kendari Prof. Husain Insawan bersama Wakil Rektor III Dr. Sitti Fauziah yang menerima langsung kunjungan dari Kepala Balai Bahasa Provinsi Sultra Dewi Pridayanti di Rapat Rektorat, Senin (26/1/2026), antusias membahas program penerjemahan kitab suci alquran ke bahasa daerah.
Kedua institusi tersebut serius merancang kolaborasi penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Muna sebagai bagian dari komitmen menjaga keberlangsungan bahasa daerah di Bumi Anoa.

Kampus Biru itu sendiri sudah menyelesaikan terjemahan Alquran dalam beberapa bahasa daerah lokal di Sultra. Sebut saja, quran versi bahasa Tolaki dan saat ini. Kemudian menyusul quran dalam bentuk terjemahan bahasa Wolio, Muna dan Moronene .
“Hal ini saya anggap penting, sebab salah satu tugas kita semua adalah menjaga bahasa daerah agar tidak tergerus oleh zaman. Kolaborasi ini juga akan membawa dua misi yakni misi dakwah dan linguistik,” ucap Prof. Husain Insawan.
Prof. Husain Insawan, mengungkapkan, IAIN Kendari terus meningkatkan kualitas bahas bagi mahasiswanya lewat komunitas UPT Bahasa yang telah melakukan berbagai program mulai dari pelatihan hingga uji kemahiran berbahasa bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studi.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sultra, Dewi Pridayanti menyatakan dukungannya terhadap rencana kerja sama tersebut.
Selain mendukung penerjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah, Balai Bahasa membuka peluang kerja sama lain, salah satunya melalui rencana pelaksanaan sertifikasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi dosen IAIN Kendari.
Menurutnya, sertifikasi UKBI bagi dosen sangat penting sebagai bagian dari penguatan profesionalisme dan peningkatan mutu kebahasaan di lingkungan akademik.
“Semoga ke depan rencana kerja sama ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan bahasa serta peningkatan kualitas sivitas akademika,” tutur Dewi Pridayanti.
Laporan : Ika Astuti



