LAJUR.CO, KENDARI — Komunitas literasi BookScape Sulawesi Tenggara (Sultra) menghadirkan kegiatan Ulik Tilik Buku sebagai ruang diskusi bagi masyarakat untuk tak sekadar membaca, tetapi juga mengamati dan mengulik karya sastra hingga ke lapisan makna terdalamnya.
Pada kegiatan perdananya, BookScape mengangkat novel “Di Tanah Lada” karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Karya tersebut dipilih karena menghadirkan semesta cerita yang muram serta merekam pengalaman anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh luka dan ketidakadilan.
Ketua Komunitas BookScape, Amaya, menyatakan Ulik Tilik Buku merupakan program baru yang pertama kali digelar pada 2026.

Program digagas komunitas itu menjadi pembeda dari agenda BookScape sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada kegiatan membaca di ruang publik terbuka serta kelas menulis bertajuk Writers Hangout.
“Melalui Ulik Tilik Buku, kami ingin mengajak teman-teman untuk benar-benar mengamati dan mengulik bacaan, terutama karya sastra. Selama ini, banyak pembaca hanya melihat bagian luarnya saja, belum masuk ke isi dan lapisan maknanya,” ujar Amaya.
Berbeda dari kegiatan rutin sebelumnya, diskusi kali ini digelar di ruang tertutup, tepatnya di Perpustakaan Daerah Provinsi Sultra. Kegiatan ini diikuti peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa S1 dan S2, hingga pegiat literasi, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Amaya, karya sastra menyimpan banyak lapisan yang dapat dikaji lebih dalam, mulai dari persoalan psikologis, sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, BookScape menghadirkan narasumber dari latar belakang berbeda untuk membantu peserta memahami novel “Di Tanah Lada” secara lebih komprehensif.
Sesi diskusi dihadiri Asrit Yunita, psikolog klinis, serta Fitriani, penggiat sastra, yang membedah karya dari sudut pandang psikologi dan sastra. Kehadiran keduanya membuka ruang dialog yang lebih kaya dan kritis bagi peserta.
Melalui kegiatan tersebut, BookScape berharap semakin banyak generasi muda, khususnya Gen Z, yang terlibat aktif dalam komunitas literasi. Menurut Amaya, komunitas dapat menjadi ruang aman untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring, sekaligus melahirkan karya-karya baru.
“Harapan kami, BookScape bisa menjangkau lebih banyak orang dan mengajak lebih banyak lagi untuk membaca,” tutup Amaya.
Laporan: Ika Astuti



