LAJUR.CO, KENDARI – Rasa bangga terpancar dari wajah Alimudin saat menggenggam medali perak di Kamboja. Atlet kelahiran Muna Barat yang kini berdomisili di Kota Kendari itu sukses menorehkan prestasi di kancah internasional.
Alimudin berhasil mengharumkan nama Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Indonesia setelah meraih juara II pada Kejuaraan Dunia Kun Khmer yang digelar di Negeri Seribu Pagoda.
Ia mengaku bangga atas pencapaian tersebut, meski harus puas di posisi kedua.
“Yang memotivasi saya bukan seberapa keras lawanmu, tetapi seberapa besar engkau terlatih,” ujar Alimudin, Senin (16/02/2026).

Meski hanya menjalani persiapan sekitar dua bulan, Alimudin mampu bersaing dengan atlet-atlet dari berbagai negara. Ia menyebut dukungan Presiden Kun Khmer Indonesia, pelatih, serta rekan-rekannya menjadi faktor penting di balik keberhasilannya.
“Yang berperan penting adalah teman-teman di sekeliling saya yang selalu mendukung dan membantu saya mengikuti event besar ini. Terima kasih juga kepada Presiden Kun Khmer Indonesia dan pelatih saya,” katanya.
Di partai final, atlet yang kinj bekerja sebagai petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Kendari itu harus menghadapi atlet tuan rumah. Menurutnya, laga tersebut menjadi momen paling menegangkan sepanjang turnamen.
Sorakan ribuan penonton yang memadati arena sempat membuatnya grogi. Namun, ia berusaha tetap fokus dan mengendalikan emosi di atas ring.
“Momen paling menegangkan itu saat melawan tuan rumah di final. Kita tahu mereka pasti lebih diunggulkan oleh wasit dan juri,” ungkapnya.
Meski baru sekitar empat bulan menekuni latihan secara intensif, Alimudin bertekad meningkatkan porsi latihan demi menghadapi kompetisi berikutnya. Ia juga berpesan kepada generasi muda, khususnya di Kota Lulo, agar tidak cepat puas jika ingin meraih prestasi.
“Teruslah berlatih. Jika ingin menjadi juara, jangan pernah puas dengan hasil sekarang. Puaslah saat kamu benar-benar berlatih keras dan menguasai teknik,” pesannya.
Dilansir dari Kompas.com, Kun Khmer merupakan seni bela diri tradisional asal Kamboja yang berkembang dari perpaduan bela diri kuno Yutakhun Khom dan teknik bela diri modern.
Kun Khmer, yang juga dikenal dengan sebutan pradal serey, dalam bahasa Khmer berarti “tinju bebas”. Cabang olahraga ini mengandalkan kombinasi tendangan, pukulan, serta serangan lutut dan siku. Tidak hanya pria, perempuan pun dapat berpartisipasi dalam bela diri tersebut.
Laporan: Ika Astuti




