LAJUR.CO, KENDARI – Ekspor komoditas non-tambang Sulawesi Tenggara (Sultra) kian bergairah di awal 2026. Wakil Gubernur Sultra Ir Hugua mengatakan, sepanjang Januari hingga Februari, nilai penjualan produk non-tambang Sultra ke pasar global tercatat mencapai Rp 31 miliar.
Akumulasi tersebut berasal dari sejumlah komoditas unggulan seperti ubur-ubur, arang tempurung kelapa, tuna, dan gurita. Produk ubur-ubur serta arang tempurung kelapa bahkan telah dikirim untuk memenuhi permintaan pasar China.
Di tengah dominasi ekspor sektor tambang, produk non tambang mencakup komoditas perikanan, kelautan, pertanian, hingga perkebunan banyak diminati pasar internasional serta memiliki punya potensi besar sebagai penopang ekonomi daerah.

Dalam dua bulan terakhir saja, Pemerintah Provinsi Sultra beberapa kali melepas ekspor non-tambang secara langsung ke luar negeri. Salah satunya ekspor ubur-ubur seberat 15,45 ton ke China yang dilepas pada 28 Januari 2026 dari Pelabuhan Murhum, Kota Baubau, Kepulauan Buton.
Terbaru, Hugua kembali melepas ekspor 50 ton arang tempurung kelapa produksi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Awunio pada Sabtu (21/2/2026). Pengiriman dilakukan langsung ke China melalui Pelabuhan Petikemas Newport Kendari, PT Pelindo Regional IV, dengan nilai devisa mencapai Rp 734 juta.
“Kami dari desa bukan lagi kaleng-kaleng, tapi bisa menjadi penopang ekonomi. Peluang ekspor kita semakin bagus,” ujar Hugua.
Ia menjelaskan, pada periode Januari–Februari 2026, ekspor sektor tambang Sultra tercatat lebih dari Rp 4,3 triliun melalui Pelabuhan Newport Kendari. Sementara komoditas non-tambang menyumbang Rp 31 miliar.
Meski nilainya masih di bawah sektor tambang, Hugua menegaskan prospek non-tambang sangat menjanjikan untuk jangka panjang.
“Komoditas non-tambang bisa jadi penopang ekonomi Sultra di masa datang, dan kita mendukung penuh dan penuh semangat mendukung,” katanya.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan peti kemas bertaraf internasional di Kendari membuka peluang ekspor langsung tanpa harus transit di Makassar atau Surabaya. Infrastruktur ini dinilai menjadi kunci percepatan ekspor Sultra ke pasar dunia.
“Sekarang kita sudah punya fasilitas, bisa datangkan mother vessel. Sudah penuhi syarat. Pelabuhan bertaraf internasional, kita bisa datangkan mother vessel langsung diekspor, sudah penuhi syarat. Muatan dari Muna, Baubau, Kolaka kalau ada mother vessel kita harapkan berangkat langsung,” jelasnya.
Ekspor arang tempurung kelapa oleh Kopdes Merah Putih Awunio asal Konsel mencatat sejarah tersendiri. Koperasi desa tersebut menjadi yang pertama di Indonesia Timur melakukan ekspor langsung komoditas non-tambang ke pasar global.
Sejalan dengan itu, General Manager PT Pelindo Regional IV, Herianto, menyatakan pihaknya menyiapkan fasilitas memadai untuk menunjang ekspor berbagai komoditi asal Sultra. Termasuk ekspor non tambang yang butuh treatment khusus demi menjamin kualitas produk. salah satunya menyediakan 90 titik pembekuan (cold storage).
“Sultra sebagai penghasil ikan semestinya manfaatkan fasilitas. Semoga bisa terkonsolidasi dalam sehari berapa yang bisa dikumpul sehingga bisa datangkan kapal direct langsung. Tidak lagi lewat Makassar atau Surabaya sehingga multiplier effect bisa terasa di Sultra,” jelasnya. Adm





