LAJUR.CO, KENDARI – Kasus penebangan pohon jati raksasa di kawasan Cagar Alam Napabalano, Kabupaten Muna menjadi peringatan serius bagi kelestarian satwa yang hidup di dalamnya.
Di samping sebagai habitat jati tua, hutan dataran rendah seluas 10,5 hektare itu juga menjadi rumah bagi berbagai fauna khas Sulawesi.
Sebelumnya diberitakan Lajur.co, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengamankan satu batang kayu jati log sepanjang kurang lebih enam meter dengan diameter sekitar 60 sentimeter yang ditebang dari dalam kawasan cagar alam.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I KSDA Sultra, La Ode Kaida, membenarkan lokasi penebangan berada di area inti kawasan yang statusnya dilindungi negara.
“Kalo ini ya, TKPnya di dalam Cagar Alam Napabalano,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Barang bukti berupa kayu jati dan satu unit mobil dumping tanpa nomor polisi telah diamankan untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Kayu tersebut diduga berasal dari jati tua yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Penebangan di kawasan konservasi ini berpotensi mengancam satwa yang bergantung pada tegakan hutan tua. Berikut daftar satwa yang terancam jika kerusakan terus terjadi:
1. Monyet Hitam Sulawesi
Primata dengan nama lain Macaca nigra atau Yaki ini sangat bergantung pada tutupan kanopi hutan untuk berlindung dan mencari makan. Hilangnya pohon besar mempersempit ruang jelajah satwa ini. Selain itu, juga meningkatkan risiko konflik dengan manusia, mengingat permukiman hanya berjarak sekitar 25 meter dari batas kawasan.
2. Betet Sulawesi
Burung dengan nama latin Psittacula ornata atau Loriculus stigmatus ini memanfaatkan lubang alami pada batang pohon tua sebagai tempat bersarang. Penebangan jati berdiameter besar seperti yang terjadi baru-baru ini di Cagar Alam Napabalano akan menghilangkan lokasi reproduksi yang aman bagi populasinya.
3. Perkici Hijau
Memiliki nama latin Trichoglossus meyeri, spesies khas Sulawesi ini hidup di hutan dataran rendah dan bergantung pada pepohonan besar untuk bertengger dan berkembang biak. Fragmentasi hutan membuat populasi Perkici semakin rentan.
4. Rusa Timor
Satwa dengan nama latin Cervus timorensis ini membutuhkan tutupan vegetasi untuk pakan dan perlindungan. Pembukaan hutan akibat pembalakan liar dapat mempermudah akses perburuan dan mengganggu populasi Rusa Timor.
Selain itu, babi hutan, biawak, serta sejumlah jenis burung hutan lainnya juga hidup dalam kawasan tersebut. Dengan luas yang relatif kecil, lenyapnya pohon membawa dampak signifikan terhadap keseimbangan ekosistem.
Penebangan pohon yang terjadi di dalam area inti cagar alam menjadi alarm keras bagi perlindungan kawasan konservasi bersejarah ini. Selain jati raksasa yang akan hilang, keberlangsungan hidup satwa di hutan juga terancam. Red





