LAJUR.CO, KENDARI – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) bersama mitra strategisnya, GEM Co. Ltd. dan EcoPro, menandai kemajuan penting dalam pembangunan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi dengan tibanya autoclave di Bungku Pesisir, Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7). Kedatangan peralatan utama tersebut menjadi tonggak penting dalam pembangunan fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah yang diproyeksikan memperkuat hilirisasi nasional sekaligus memasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik dunia.
Momentum tersebut dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Arniwaty Lamadjido, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto, jajaran manajemen PT Vale, PT Bahodopi Nickeluksi proyek HPAL Sambalagi. Peralatan tersebut merupakan inti dari teknologi High Pressure Acid Leaching yang digunakan untuk mengolah bijih limonit melalui kombinasi suhu tinggi, Smelting Indonesia (BNSI), GEM Co. Ltd., EcoPro, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Kehadiran autoclave menjadi salah satu milestone terbesar dalam tahapan konstruksi proyek HPAL Sambalagi. Peralatan tersebut merupakan inti dari teknologi High Pressure Acid Leaching yang digunakan untuk mengolah bijih limonit melalui kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat sehingga menghasilkan nikel dan kobalt secara efisien.
Produk akhir dari proses tersebut berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), material antara yang menjadi salah satu komponen utama dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.
Proyek HPAL Sambalagi dikembangkan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co. Ltd., dan EcoPro. Fasilitas tersebut dibangun di kawasan Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali, sebagai bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.
Selain menjadi proyek strategis perusahaan, HPAL Sambalagi juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2022 dan Nomor 21 Tahun 2022. Status tersebut diberikan karena proyek mengintegrasikan pengembangan tambang PT Vale di Blok Bahodopi dengan fasilitas pengolahan nikel yang menjadi bagian penting dalam penguatan industri hilir nasional.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengatakan kedatangan autoclave menjadi simbol nyata bahwa pembangunan proyek terus berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
“Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi. Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik,” ujar Bernardus.
Menurut dia, proyek HPAL Sambalagi merupakan bagian dari komitmen PT Vale bersama para mitra untuk mempercepat hilirisasi mineral Indonesia melalui pembangunan fasilitas pengolahan yang memiliki daya saing global sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Hilirisasi tidak hanya soal meningkatkan nilai tambah mineral. Kami juga memastikan proyek ini dijalankan dengan mengedepankan keselamatan kerja, efisiensi operasional, keberlanjutan lingkungan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” katanya.
Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90 ribu ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pabrik akan mengolah sekitar 10,4 juta ton bijih limonit setiap tahun yang dipasok dari area pertambangan PT Vale di Bahodopi.
Pembangunan fasilitas dilakukan dalam tiga jalur produksi, yakni Line A, Line B, dan Line C. Seluruh konstruksi ditargetkan mencapai tahapan first mechanical completion pada akhir 2026 sebelum memasuki proses commissioning dan pengoperasian komersial.
Selain pembangunan fasilitas utama, proyek ini juga mencakup pengembangan berbagai infrastruktur penunjang, mulai dari dermaga logistik, fasilitas utilitas, kawasan hunian pekerja, hingga berbagai fasilitas sosial yang akan mendukung operasional dalam jangka panjang.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan proyek adalah penerapan konsep industri rendah karbon. PT Vale menyatakan kebutuhan listrik operasional fasilitas HPAL akan didukung melalui Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG), yakni sistem yang memanfaatkan panas sisa proses produksi menjadi energi listrik sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
Perusahaan juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya sebagai bagian dari strategi memperbesar pemanfaatan energi bersih di kawasan industri.
Menurut Bernardus, pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga mampu mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut kedatangan autoclave merupakan simbol dari kemajuan pembangunan industri hilir nasional.
Ia menilai proyek HPAL Sambalagi menjadi contoh bagaimana investasi strategis mampu menghasilkan nilai tambah mineral sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.
“HPAL Sambalagi hari ini menempatkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi lintas negara—Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok—dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional kita, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Rosan.
Menurut Rosan, yang sedang dibangun bukan hanya sebuah fasilitas industri, tetapi ekosistem hilirisasi yang terintegrasi dari sektor pertambangan hingga pengolahan bahan baku baterai.
“Hari ini kita memang menyambut kedatangan autoclave di HPAL Sambalagi. Namun yang sesungguhnya sedang kita bangun bukan hanya sebuah fasilitas industri. Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia,” ujarnya.
Rosan mengapresiasi konsep pengembangan kawasan industri yang tidak hanya menghadirkan fasilitas produksi, tetapi juga menyediakan sarana olahraga, ruang rekreasi, kawasan hunian, dan fasilitas sosial bagi masyarakat maupun pekerja.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kawasan industri dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Arniwaty Lamadjido mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mendukung penuh pengembangan proyek HPAL Sambalagi karena dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperhatikan aspek sosial.
“Kami mengapresiasi komitmen PT Vale dan para mitra yang tidak hanya membangun kawasan industri, tetapi juga memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk berkembang serta membuka akses bagi masyarakat terhadap berbagai fasilitas yang telah dibangun. Pendekatan seperti inilah yang kami harapkan, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Dukungan serupa disampaikan Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf. Ia mengatakan proyek HPAL Sambalagi menjadi salah satu investasi terbesar yang akan memperkuat posisi Morowali sebagai pusat hilirisasi mineral nasional.
Menurut Iksan, kehadiran proyek tersebut diperkirintah Kabupaten Morowali akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif dan memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan kawasan industri dapat memberikan manfaat optimalakan membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, serta menciptakan efek berganda bagi pembangunan daerah.
“Kami meyakini kehadiran investasi seperti ini akan membuka lebih banyak peluang kerja, menggerakkan sektor usaha lokal, serta memberikan multiplier effect bagi pembangunan daerah.”
Ia menambahkan Pemerintah Kabupaten Morowali akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif dan memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan kawasan industri dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Dengan tibanya autoclave, pembangunan proyek HPAL Sambalagi memasuki tahapan penting menuju pemasangan peralatan utama, proses commissioning, hingga operasional fasilitas. Melalui proyek ini, PT Vale bersama PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) memperkuat kontribusinya dalam mendukung agenda hilirisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pemain strategis dalam rantai pasok global industri baterai dan transisi energi. Adm


