Penulis :
SULTAN MUSA
(Traveler, Editor & Penulis Buku)
Ada kisah panjang yang tersimpan di antara helaian benang. Ia lahir dari jemari para perajin, diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Muna.
Di Sulawesi Tenggara, warisan itu bernama Sarung Tenun Tradisional Suku Muna.
Di tengah gempuran tren mode yang serba cepat dan instan, sarung Muna tetap bertahan melalui proses yang panjang dan penuh ketekunan. Bagi masyarakat Muna, kain ini bukan sekadar sandang, melainkan bagian dari sejarah, adat, dan identitas kultural.
Tradisi menenun diperkirakan telah dimulai sejak abad ke-18 Masehi. Pada masa keemasan Kerajaan Muna, sarung memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat. Selain digunakan sebagai pakaian, kain ini juga kerap menjadi bagian dari busana bela diri para Kesatria Muna.
Penggunaannya pun diatur oleh adat. Motif, warna, dan cara mengenakan sarung menjadi penanda stratifikasi sosial antara golongan bangsawan (kaomu) dan rakyat jelata (maradika).
Dengan demikian, sehelai sarung pada masa itu bukan hanya pakaian, tetapi juga bahasa sosial yang menunjukkan identitas pemakainya.
*Benang, Alam, dan Pengetahuan Leluhur*
Keistimewaan tenun Muna terletak pada proses pembuatannya yang masih berakar pada kearifan lokal.
Dahulu, benang berasal dari pintalan kapas murni dan serat sutra. Prosesnya melalui tahapan Hani atau Kasoro, yakni menyusun benang, sebelum dilanjutkan dengan proses penenunan untuk membentuk corak.
Pewarnaan tradisional pun memanfaatkan kekayaan alam. Akar pohon, daun, dan rempah-rempah lokal diolah untuk menghasilkan warna khas.
Pengetahuan tersebut tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil pengalaman panjang yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, ketika tradisi menenun terancam, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan kain, tetapi juga pengetahuan leluhur yang berada di balik proses pembuatannya.
Puluhan motif berkembang dalam tradisi tenun Muna, antara lain bharalo, samasili, panino toghe, bhotu, bhia-bhia, ledha, finda ngkonini, mango-manggopa, dhadha lima, lante-lante, jhalima, gunung-gunung, kambheano bhanggai, kaparanggigi, katamba ghawu, kapododo, kaburino, hingga kaso-kasopa.
Setiap motif merefleksikan kedekatan masyarakat Muna dengan alam, flora, fauna, dan tanah leluhur mereka.
Kain pun menjadi semacam arsip kebudayaan yang dapat dikenakan.
Senja Para Penenun
Di balik keindahan itu, Sarung Tenun Muna kini menghadapi persoalan serius: regenerasi.
Sebagian besar penenun ahli merupakan perempuan paruh baya hingga lanjut usia. Sementara itu, minat generasi muda untuk meneruskan keterampilan tersebut masih rendah.
Menenun membutuhkan kesabaran dan waktu. Satu lembar kain dapat dikerjakan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Di sisi lain, pendapatan yang diperoleh belum selalu sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan.
Generasi muda akhirnya memilih profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
Persoalannya bukan hanya berkurangnya jumlah penenun. Jika tidak ada penerus, pengetahuan tentang teknik, motif, warna, dan filosofi tenun juga berisiko ikut hilang.
Tantangan lain datang dari lingkungan. Alih fungsi lahan membuat tumbuhan pewarna alami semakin sulit ditemukan. Kondisi ini mendorong sebagian perajin menggunakan benang dan pewarna sintetis yang lebih praktis.
Modernisasi pun menghadirkan dilema: mempertahankan tradisi atau beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Membawa Tenun Muna ke Masa Depan
Perubahan tidak selalu berarti ancaman. Justru di tengah perubahan terdapat peluang untuk membuat tenun Muna tetap hidup.
Fungsi sarung yang dahulu erat dengan pakaian adat dan busana bela diri kini telah berkembang menjadi cinderamata dan bagian dari fesyen kontemporer. Perubahan ini dapat menjadi jalan untuk memperluas pasar tanpa kehilangan identitas budaya.
Motif tradisional dapat dikembangkan menjadi busana, aksesori, dan produk ekonomi kreatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan inovasi dan promosi yang konsisten, tenun Muna berpeluang menembus pasar nasional hingga internasional.
Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, perajin, pelaku industri kreatif, komunitas budaya, dan generasi muda.
Pelestarian tidak cukup dengan menyimpan kain atau menampilkannya dalam acara seremonial. Tradisi harus digunakan, diproduksi, dikembangkan, dan mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya.
Generasi muda tidak harus meninggalkan modernitas untuk mencintai tradisi. Sebaliknya, mereka dapat membawa warisan leluhur ke dalam kehidupan masa kini.
Motif lama dapat menemukan bentuk baru. Teknik tradisional dapat bertemu kreativitas generasi baru.
Dengan begitu, Sarung Tenun Muna tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai bagian dari masa depan.
Pada akhirnya, menjaga Sarung Tenun Muna bukan sekadar menyelamatkan selembar kain dari kepunahan. Ia adalah upaya menjaga sejarah, pengetahuan, identitas, dan martabat masyarakat Muna.
Sarung Tenun Muna mungkin sedang berada di senja para penenunnya. Namun, senja tidak harus menjadi akhir.
Selama masih ada generasi yang mau belajar, masyarakat yang bangga mengenakannya, dan keberanian untuk membawa tradisi ke zaman baru, benang-benang itu masih dapat dirajut menjadi masa depan.






