BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Mati Suri Pasar Sentral Wua-Wua Kendari: Megah di Luar, Kumuh di Dalam, Lapak Kosong Melompong

×

Mati Suri Pasar Sentral Wua-Wua Kendari: Megah di Luar, Kumuh di Dalam, Lapak Kosong Melompong

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Di tengah geliat Kota Kendari yang terus berkembang, ada satu kawasan perdagangan yang justru perlahan kehilangan pamor. Bangunannya berdiri megah, tetapi denyut perdagangan di dalamnya tak lagi seramai dulu. Seperti mati suri.

Namanya Pasar Sentral Wua-Wua Kendari. Dari luar, gedung berlantai dua itu tampak megah. Namun, kondisi di dalamnya justru kontras. Banyak lapak kosong. Sebagian besar kios nganggur ditinggal empunya. Aktivitas jual beli sepi.

Padahal, pasar ini sempat digadang-gadang menjadi salah satu ikon perdagangan di Kota Kendari setelah selesai direhabilitasi. Di era Wali Kota Ir. Asrun, Pemkot Kendari kala itu menggelontorkan budget hingga Rp67 miliar.

Pasar Sentral Wua-Wua kemudian diresmikan pada 1 November 2016 oleh Ir. Asrun. Kehadiran pasar tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menata kawasan perdagangan sekaligus menghadirkan pasar yang lebih representatif bagi masyarakat.

Sebelum dikenal sebagai Pasar Sentral Wua-Wua, kawasan ini lebih dikenal masyarakat sebagai Pasar Baru.

Pasar tersebut pernah menjadi salah satu titik perdagangan yang ramai. Disesaki pedagang maupun pembeli. Namun, kondisi itu kini jauh berubah.

Baca Juga :  PT VDNI Morosi Digugat Rp33,4 Miliar atas Dugaan Wanprestasi

Pantauan Lajur.co pada Kamis (13/8/2026), fakta paling mencolok terlihat di lantai dua Pasar Sentral Wua-Wua. Sebagian besar lapak di area tersebut kosong melompong. Berdebu dan tak terurus.

Deretan lapak yang seharusnya menjadi tempat pedagang menjalankan usaha justru mati suri. Suasana di lantai tersebut juga lengang dengan sejumlah bagian yang terlihat kurang terawat.

Tak terlihat aktivitas jual beli layaknya sebuah pasar. Kondisi itu membuat lantai dua Pasar Sentral Wua-Wua seperti kehilangan denyut perdagangannya.

Kontras tersebut semakin terasa jika dibandingkan dengan tampilan bangunan dari luar yang masih terlihat megah.

Seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi pasar yang sepi bukan persoalan baru. Menurutnya, para pedagang telah menghadapi keadaan tersebut selama lebih dari 10 tahun.

Ia berharap Pemerintah Kota Kendari, khususnya Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, turun langsung melihat kondisi Pasar Sentral Wua-Wua dan mendengar keluhan para pedagang.

Baca Juga :  Action Kampung Nelayan Merah Putih di Kota Kendari Dimulai, Sasar 1.139 Nelayan

“Ini pasar begini-begini terus, kita menderita. Kenapa wali kota begini, tidak pernah muncul-muncul,” keluhnya kepada Lajur.co, Kamis (13/8/2026).

Pedagang tersebut juga menyinggung persoalan kios. Ia menyebut selama ini ada informasi bahwa kios di pasar tidak diperjualbelikan. Namun, dirinya mengaku mengetahui adanya aktivitas jual beli kios.

“Lebih sepuluh tahun, tinggal tahun 2027 habis masa anunya. Pemerintah kadang bilang tidak jual kios, banyak orang yang beli kios,” ujarnya dengan nada kesal.

Tak hanya persoalan sepi, kondisi fisik kios juga menjadi sorotan. Pedagang itu menyebut banyak kios sudah tidak terurus, bahkan sejumlah pintunya telah hilang.

“Kurang lebih hampir seribu kios begini, sudah habis. Habis dicuri pintu-pintunya, tidak ada juga tindakan,” jelasnya.

Upaya menghidupkan kembali Pasar Sentral Wua-Wua sejatinya telah dilakukan pemerintah. Pada Februari 2026, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) menunjuk pasar tersebut sebagai Pasar Tematik Khusus Pakaian Bekas atau pusat RB/rombengan.

Penunjukan itu diharapkan menjadi pemantik aktivitas ekonomi baru sekaligus menyelamatkan aset gedung yang disebut telah hampir 10 tahun mati suri dan sepi pembeli.

Baca Juga :  Wali Kota Siska Resmikan Pasar Banteng, Bisa Tampung Hingga 250 Pedagang

Namun, beberapa bulan setelah diarahkan menjadi pusat perdagangan pakaian bekas, kondisi di lantai satu juga belum sepenuhnya menunjukkan geliat yang diharapkan.

Sejumlah lapak masih terlihat kosong. Aktivitas pedagang dan pembeli pun belum berlangsung ramai.

Kondisi tersebut membuat persoalan Pasar Sentral Wua-Wua tak sekadar soal sepinya pembeli. Ada pula persoalan pemanfaatan lapak, perawatan fasilitas hingga keberlanjutan aktivitas perdagangan yang perlu mendapat perhatian.

Bagi pedagang, pasar yang dibangun dan direhabilitasi dengan anggaran besar tersebut seharusnya tidak hanya tampak megah dari luar. Mereka berharap pemerintah menghadirkan solusi agar Pasar Sentral Wua-Wua kembali hidup dan menjadi pusat perdagangan yang ramai seperti masa lalu.

Pedagang tersebut juga meminta bantuan wartawan untuk menyuarakan kondisi pasar agar persoalan yang dialami para pedagang diketahui dan mendapat perhatian pemerintah.

“Kita wartawan, tolong minta tolong viralkan. Bisa viralkan, tolong ke Menteri Perdagangan, ada pasar Kota Kendari,” ungkapnya.

Laporan: Ika Astuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *