LAJUR.CO, KENDARI – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, memberi apresiasi terhadap kinerja Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Sultra yang mulai menunjukkan tren positif. Dalam waktu relatif singkat, perusahaan milik daerah itu mampu mencatatkan dividen lebih dari Rp1 miliar serta membukukan aset hingga di atas Rp6 miliar.
Capaian tersebut disampaikan ASR kepada media usai menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Sultra, Jumat (13/3/2026). Ia menilai, perkembangan itu menjadi indikator perbaikan tata kelola di tubuh BUMD Sultra.
“Selama lima bulan sudah punya modal Rp6 miliar sekian serta bersiap menyetorkan dividen Rp1 miliar lebih,” kata ASR.

Menurut mantan Kabinda Sultra itu, pencapaian Perumda Sultra patut diapresiasi. Terlebih mengingat track recorde perusahaan plat merah milik pemerintah itu yang kerap dipersepsikan hanya membenani APBD setiap tahun, tanpa kontribusi berarti.
Direktur Utama Perumda Sultra, Ahmad Rizal, mengakui perubahan itu tidak lepas dari pembenahan internal sejak dirinya dipercaya memimpin perusahaan sekitar enam bulan lalu.
“Saya definitif enam bulan lalu. Gubernur tekankan seluruh direksi bahwa tata kelola BUMD ini harus diperbaiki,” ujar Rizal, Senin (16/3/2026).
Usai resmi dilantik, langkah awal yang dilakukan adalah menelusuri aset yang dimiliki dan mengoptimalkan lini usaha yang sudah berjalan. Termasuk menyiapkan strategi bisnis baru untuk tahun 2026.
“Yang pokok penyetoran dividen dananya sudah disiapkan. Awal bulan depan April ini akan disetorkan ke Pemprov Sultra,” katanya.
Rizal menegaskan, penyetoran dividen menjadi momentum penting untuk mengubah citra buruk Perumda Sultra di mata publik. Pasalnya, sejak berdiri, perusahaan tersebut nyaris tak pernah menyumbang dividen bagi daerah.
“Saya ubah persepsi masyarakat. Selama berdirinya Perumda secara history belum pernah memberikan dividen,” ungkapnya.
Dalam periode kepemimpinan baru, manajemen berhasil menghimpun laba sekitar Rp1 miliar dengan likuiditas yang kini mencapai lebih dari Rp6,3 miliar. Kondisi ini dinilai sebagai fondasi awal menuju kemandirian perusahaan.
Sejumlah sektor usaha pun terus didorong untuk meningkatkan pendapatan lewat lini bisnis digeluti. Seperti kemintraan penyediaan avtur melalui kerjasama dengan Pertamina Patra Niaga, kemitraan pengelolaan SPBN Djayanti, serta rencana ekspansi ke sektor pertanian.
Bisnis outsourching dikelola PT PUS yang merupakan anak usaha Perumda Sultra dibenahi agar memberi kontribusi maksimal. Layanan penyediaan tenaga alih daya itu banyak dipakai oleh instansi pemerintah maupun sektor industri.
“Roda perekonomian Perumda jalan dengan tambahan anak usaha lain sehingga bisa berkontribusi bagi daerah,” jelasnya.
Rizal memastikan, pihaknya berkomitmen menjalankan bisnis secara mandiri tanpa terus bergantung pada suntikan modal dari pemerintah daerah. Langkah ini sejalan dengan upaya efisiensi anggaran yang tengah dilakukan.
“Selama saya di sini, saya tidak ambil dana penyertaan dari Pemprov Sultra,” tegasnya. Adm




