LAJUR.CO, KENDARI – Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menorehkan prestasi sebagai peringkat pertama capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) tahun 2025 di lingkup fakultas UHO. Fakultas tersebut tercatat telah mempertahankan prestasi serupa selama tiga tahun bertutut.
Dalam Rapat Kerja UHO 2026, FHIL diketahui meraih capaian IKU sebesar 104,68 persen. Atas pencapaian itu, fakultas yang dinahkodai Dr Lies Indiryani itu menerima reward berupa tambahan anggaran sebesar Rp500 juta dari Plt Rektor UHO Dr Herman.
Dekan FHIL UHO, Dr Lies Indriyani, mengatakan prestasi ini merupakan hasil dari proses panjang dan konsistensi peningkatan kinerja yang dilakukan secara bertahap.

“Ini bukan pencapaian yang instan. FHIL mengalami peningkatan selama tiga tahun berturut-turut. Tahun 2024 kami berada di peringkat kelima, tahun 2025 naik ke peringkat ketiga, dan tahun ini Alhamdulillah menjadi peringkat pertama,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari semangat kolaborasi yang menjadi fondasi kerja FHIL, yang dirangkum dalam tagline “FHIL Unggul dengan Semangat Kolaborasi”.
“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Peran program studi sangat penting. Teman-teman di Prodi bekerja luar biasa, tentu dengan arahan dan kepemimpinan dekanat,” kata Lies.
Ia mengungkapkan, salah satu program unggulan FHIL adalah dukungan terhadap mahasiswa berprestasi, termasuk beasiswa dan kegiatan akademik di luar negeri. Selain itu, FHIL turut menjalin kerja sama luas dengan berbagai mitra, khususnya Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
“Ada 16 KPH yang kami libatkan. Kerja sama ini menghasilkan mahasiswa magang yang menjadi salah satu indikator penilaian tinggi pada program magang berprestasi di luar kampus,” ungkapnya.
Tak hanya fokus pada mahasiswa, fakultas yang resmi berdiri sejak 2012 ini juga memiliki program khusus bagi dosen, yakni program peneliti dan pengabdian informal. Melalui program tersebut, dosen didorong aktif melakukan penelitian dan pengabdian yang berdampak di daerah maupun tingkat provinsi.
“Di situ kami memacu dosen untuk mengajukan proposal yang kemudian kami bantu pembiayaannya dari pagu fakultas,” tuturnya.
Dari program tersebut, tercatat sebanyak 34 proposal dinyatakan lolos dan telah dipublikasikan, baik di bidang penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.
Memasuki tahun 2026, Lies menyebutkan terdapat perubahan sistem penilaian IKU. Jika sebelumnya masih menggunakan indikator lama, kini UHO menerapkan IKU saintis yang menuntut dampak nyata bagi masyarakat.
“Ini menjadi tantangan baru. Setiap fakultas diminta membuat kegiatan yang berdampak langsung, dengan mengangkat isu-isu global seperti pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, dan isu pesisir,” jelasnya.
Ia optimistis FHIL mampu menjawab tantangan tersebut karena selama ini telah banyak terlibat dalam isu perubahan iklim dan wilayah pesisir.
“Insyaallah kami sudah punya pijakan. Nantinya akan kami distribusikan ke setiap Prodi sesuai bidang ilmunya masing-masing,” pungkas Lies.
Laporan: Ika Astuti



