LAJUR.CO, KENDARI — Harga emas yang terus bergerak di level tinggi kian mengukuhkan posisinya sebagai safe haven atau aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Per hari ini, Senin (2/2/2026), harga emas batangan di pasar domestik berada di kisaran Rp2,9 juta hingga Rp3 juta per gram. Kondisi ini menjadikan logam mulia tetap diminati sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Tren penguatan harga emas tersebut sejalan dengan perilaku masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra), yang sejak lama menjadikan emas sebagai sarana menyimpan nilai kekayaan.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, terdapat tiga daerah di Sultra dengan persentase tertinggi rumah tangga yang menyimpan emas atau perhiasan minimal 10 gram.
Kabupaten Wakatobi menempati posisi teratas dengan 43,74 persen rumah tangga tercatat memiliki emas minimal 10 gram. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh rumah tangga di wilayah kepulauan tersebut menjadikan emas sebagai tabungan jangka panjang.
Posisi kedua ditempati Kota Baubau, dengan 32,05 persen rumah tangga menyimpan emas minimal 10 gram. Kabupaten Kolaka Utara berada di urutan ketiga dengan 26,21 persen, menandakan bahwa minat terhadap emas sangat kuat baik di wilayah perkotaan, kepulauan, hingga daratan Sultra.
Tingginya kepemilikan emas tersebut mencerminkan peran emas yang tidak sekadar sebagai perhiasan, melainkan juga sebagai aset safe haven yang dinilai aman, mudah dicairkan, serta relatif tahan terhadap tekanan inflasi dan gejolak ekonomi.
Selain Wakatobi, Baubau, dan Kolaka Utara, sejumlah daerah lain di Sultra juga mencatat tingkat kepemilikan emas yang cukup signifikan.
Kabupaten Bombana berada di posisi keempat dengan 25,99 persen, disusul Kolaka (23,27 persen) dan Kolaka Timur (22,05 persen). Ibu kota provinsi, Kendari, mencatat 18,08 persen rumah tangga menyimpan emas minimal 10 gram.
Sementara itu, daerah lain seperti Buton Tengah (13,37 persen), Buton Selatan (11,99 persen), Muna Barat (10,53 persen), Buton Utara (10,32 persen), dan Konawe Utara (10,10 persen) masih berada di atas ambang 10 persen.
Adapun wilayah dengan persentase lebih rendah antara lain Buton (8,81 persen), Muna (7,89 persen), Konawe Selatan (6,33 persen), Konawe Kepulauan (6,10 persen), dan Konawe (5,15 persen).
Di tengah harga emas yang terus meroket, masyarakat Sultra khususnya di Wakatobi, Baubau, dan Kolaka Utara telah lama menjadikan emas sebagai tabungan jangka panjang sekaligus strategi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga. Red



