BERITA TERKINIHEADLINE

Haroa Bhalano, Tradisi Penutup Idulfitri Masyarakat Muna yang Sarat Makna Kebersamaan

×

Haroa Bhalano, Tradisi Penutup Idulfitri Masyarakat Muna yang Sarat Makna Kebersamaan

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Tradisi Ramadan masyarakat Muna tidak hanya berhenti saat menggelar Haroa di hari H lebaran. Enam hari pasca Idulfitri, masyarakat Muna mengadakan baca-baca “Haroa Bhalano” sebagai penutup rangkaian perayaan hari raya.

Melalui tradisi “Haroa Bhalano” yang digelar pada Jumat (27/3/2026), masyarakat suku Muna mempererat tali silaturahmi antar sesama. Acara yang disebut juga ‘Nomoalono Idulfitri’ itu juga menjadi momentum penting yang menyatukan masyarakat dalam sebuah pertemuan akbar.

Haroa Bhalano kini telah ditetapkan sebagai agenda tahunan oleh Pemerintah Kabupaten Muna dan Muna Barat. Diinisiasi Komunitas Pemerhati Budaya Warisan Suku Muna (Kambawuna), kegiatan itu turut dihadiri unsur pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh adat, serta perwakilan masyarakat dari berbagai wilayah, termasuk tokoh dari Buton Tengah.

Baca Juga :  10 Warna Cat Teras Rumah yang Bikin Kelihatan Mewah di Tahun 2026

Salah satu tokoh yang hadir yakni Ketua DPD Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Kabupaten Muna, La Ode Riago, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk ajakan kepada seluruh masyarakat setempat untuk memeriahkan semarak haroa pasca Idulfitri.

“Haroa Bhalano adalah pertemuan besar masyarakat sebagai wujud kebersamaan setelah Idulfitri. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga ajakan untuk mempererat silaturahmi,” ujar La Ode Riago, Sabtu (28/3/2026).

Secara filosofis, Haroa Nomoalono memiliki makna mendalam sebagai “kasongkono” atau penutupan setelah fase spiritual Ramadan, khususnya setelah malam Lailatul Qadar.

Bagi masyarakat Muna, momen ini menjadi bentuk syukuran sekaligus perpisahan. Baik terhadap keberkahan malam Lailatul Qadar maupun antar sesama umat Muslim yang telah menjalani silaturahmi sejak 1 hingga 6 Syawal.

Baca Juga :  Panen Padi Demplot Organik PT Vale di Kolaka Capai 15 Ton

“Ini bentuk syukuran sekaligus perpisahan. Setelah saling memaafkan selama Idulfitri, masyarakat kembali berkumpul untuk menutup rangkaian itu dengan doa bersama,” tambahnya.

Pelaksanaan Haroa Bhalano dipusatkan di Masjid Muna atau Masigino Wuna yang berada di Kotano Wuna, Kabupaten Muna. Masjid bersejarah peninggalan Kerajaan Muna ini menjadi simbol kuat keterkaitan antara tradisi, agama, dan sejarah masyarakat setempat.

Dalam prosesi pelaksanaannya, dulang berisi haroa disusun berjajar di tengah lingkaran hadirin, tepat di depan imam atau Modhi. Sesuai namanya, jumlah haroa yang disiapkan sangat banyak, bahkan bisa lebih dari sepuluh dulang, yang dibawa oleh perwakilan desa, tokoh adat, maupun tokoh masyarakat.

Baca Juga :  Tebar Cahaya Ramadan, GenBI UHO Gelar Kegiatan Sosial di Panti Asuhan Amaliyah

Acara kemudian dimulai dengan pembacaan doa-doa khusus oleh imam, yang menjadi inti dari tradisi tersebut. Setelah doa selesai, hidangan tradisional seperti lapa-lapa, ayam parende, serta aneka kue khas seperti cucur, waje, hingga sanggara dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan.

Sebagai tradisi turun-temurun, haroa tidak hanya dilaksanakan saat Idulfitri. Haroa juga dilaksanakan dalam berbagai momen penting sebagai bentuk rasa syukur. Haroa menjadi simbol “membersihkan” diri, mempererat silaturahmi, sekaligus media doa agar terhindar dari marabahaya.

Haroa Bhalano pun menjadi penegas bahwa dalam kehidupan masyarakat Muna, Idulfitri bukan sekadar perayaan satu hari. Idulfitri mempunyai rangkaian nilai spiritual dan sosial yang ditutup dengan penuh khidmat melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi. Red

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x