LAJUR.CO, KENDARI – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari mencatat peningkatan signifikan jumlah klien rehabilitasi penyalahgunaan narkoba sepanjang 2025. Total ada 105 klien yang ditangani meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 97 klien.
Kepala BNN Kota Kendari Kombes Pol Widi Haryawan mengatakan, mayoritas klien rehabilitasi merupakan laki-laki. Dari total 105 klien, sebanyak 98 orang berjenis kelamin laki-laki dan 7 orang perempuan.
“Kalau dilihat dari kelompok usia, klien berusia 18 tahun ke bawah ada 22 orang, sedangkan usia di atas 18 tahun sebanyak 83 orang,” ujar Widi Haryawan saat ditemui, Jumat (23/1/2026).

Ia mengungkapkan, klien di bawah usia 18 tahun paling banyak berasal dari kalangan pelajar. Fenomena ini menjadi perhatian serius, mengingat jenis narkoba yang marak digunakan di lingkungan sekolah adalah narkotika sintetis atau sinte.
Sementara secara umum, narkotika jenis sabu-sabu masih menjadi zat yang paling banyak digunakan oleh klien rehabilitasi di Kota Kendari.
BNN Kota Kendari juga mencatat setidaknya 97 pelajar dari 16 sekolah berhasil dijangkau melalui berbagai kegiatan pencegahan, seperti sosialisasi, penyuluhan, serta rujukan dari guru Bimbingan Konseling (BK). Namun, tidak semua pelajar tersebut masuk dalam kategori rehabilitasi.
“Kalau tingkat keparahannya cukup tinggi, biasanya kami lakukan rehabilitasi di sini. Kalau masih kategori ringan, cukup diberikan edukasi dalam beberapa sesi, tergantung kondisi anaknya,” jelasnya.
Mantan Kepala BNN Provinsi Maluku Utara itu menyebutkan, sebagian besar pelajar yang menjalani pendampingan datang melalui rujukan pihak sekolah, guru BK, kepolisian, maupun hasil penjangkauan langsung BNN di lapangan. Bahkan, ada pula pelajar yang diamankan aparat kepolisian dan selanjutnya diarahkan ke BNN Kota Kendari.
BNN Kota Kendari bekerja sama dengan Puskesmas Lepo-Lepo dan Puskesmas Puuwatu untuk menangani klien dengan kategori ringan. Sementara klien dengan kategori sedang hingga berat dirujuk ke luar daerah untuk menjalani rehabilitasi rawat inap.
“Kami masih merujuk ke luar daerah karena di Sultra belum tersedia. Biasanya ke Makassar, Bogor, Padang, dan Kalimantan,” kata Widi.
Ia menambahkan, pengguna narkoba umumnya menunjukkan perubahan perilaku, seperti emosi yang tidak stabil dan kontrol diri yang menurun. Namun, gejala tersebut dapat berbeda-beda tergantung jenis zat yang dikonsumsi.
BNN Kota Kendari pun mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor jika menemukan anggota keluarga atau lingkungan sekitar yang terindikasi menyalahgunakan narkoba. Pelaporan dini, kata Widi, justru akan mempermudah proses evakuasi dan rehabilitasi.
Kepada para pelajar, ia mengingatkan agar tidak mudah tergoda mencoba rokok, vape, maupun menerima barang dari orang lain yang tidak jelas kandungannya.
“Kalau ada keluarga atau lingkungan yang terlibat penyalahgunaan narkoba, segera laporkan. Kami akan datang untuk melakukan evakuasi dan rehabilitasi,” pungkasnya.
Laporan: Ika Astuti



