BERITA TERKINIHEADLINE

Kawasan Karst Sultra Diusul Masuk Geopark, Wagub Hugua: Belum Ada IUP, Masih Bisa Selamat!

×

Kawasan Karst Sultra Diusul Masuk Geopark, Wagub Hugua: Belum Ada IUP, Masih Bisa Selamat!

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Kawasan kars di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang membentang dari Konawe Utara hingga Kolaka Utara kini terancam exploitasi besar-besaran dan deforestasi. Melihat kondisi tersebut, organisasi internasional asal Prancis Naturevolution, bersama para ilmuwan dari Universitas Halu Oleo (UHO) dan sejumlah institusi akademik sepakat mengusulkan pembentukan Geopark Nasional seluas 6.000 km² demi melindungi keanekaragaman hayati dan fungsi vital cadangan air terbesar di Sultra.

Hal tersebut diutarakan tim Naturevolutuion saat penutupan seri Wallacea Expeditions, Senin (5/1/2026). Evrard Wendenbaum, Direktur Naturevolution secara gamblang mempresentasikan hasil Ekspedisi Tangkelaboke dihadapan Wakil Gubernur Sultra Ir. Hugua, perwakilan Kementerian Kehutanan, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Expedisi Tangkelaboke merupakan bagian rangkaian penutup dari expedisi Wallace yang berlangsung sejak tahun 2023.

Rangkaian expedisi tersebut memetakan keanekaragaman hayati pada tiga gunung karst terbesar di Sultra yakni Gunung Tangkelamboke, Matarombeo dan Mekongga yang membentang di wilayah Konawe, Konawe Utara, dan Kolaka Utara yang memperkuat kajian kawasan konservasi nasional seperti Taman Nasional dan juga Geopark. Ketiganya berada dalam garis Wallacea, sehingga sangat kaya akan plasma nutfah dan satwa endemik yang kini diusul masuk dalam peta Geopark.

Baca Juga :  Momen Hari Ibu, Gubernur ASR Dorong Peran Aktif Perempuan di Berbagai Sektor

Evrard Wendenbaum menjelaskan, usulan Geopark semata menyelamatkan kawasan kars tersebut yang sejatinya merupakan sumber mata air utama bagi ratusan ribu warga Sultra dari potensi kerusakan akibat penambangan dan degradasi lingkungan.

“Kita harus melindungi kawasan ini sebelum rusak. Data yang kami kumpulkan selama ekspedisi menunjukkan adanya degradasi dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati,” ujar Evrard.

Wagub Sultra yang sempat melepas expedisi ilmiah Naturevolution ke gunung Tangkelaboke pada 17 November lalu mengaku salut atas kerjakeras tim expedisi yang berhasil merangkumkan data spesifik bentang karst di Sultra. Data ilmiah tersebut menjadi dasar bagi pengusulan taman nasional ke pemerintah pusat. Hugua menyatakan, usul taman nasional sebagai langkah jitu menyelamatkan kawasan karst Sultra.

Baca Juga :  BGTK Sultra Tegaskan Tunjangan Profesi Guru Akan Diupayakan Cair Setiap Bulan

“Sebuah keberanian luar biasa. Gunung Tangkelambole bisa jadi taman nasional. Kebetulan belum ada IUP, masih bisa diselamatkan,” ujar Hugua.

Dukungan sama diutarakan Wakil Rektor UHO Prof Muh Santiaji Bande yang ikut dalam pemaparan hasil expedisi Wallacea. Ia menegaskan pentingnya melestarikan kekayaan alam Sultra untuk generasi mendatang. “Kekayaan alam ini seyogyanya diwariskan ke anak cucu. Jangan sampai dirusak,” katanya.

Usulan pembentukan Geopark di Sultra bukan hanya soal konservasi alam, tetapi juga perlindungan sumber air, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang unik. Jika terealisasi, kawasan ini akan menjadi contoh penting bagaimana konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan bisa berjalan seiring di Indonesia, sekaligus menjamin bahwa kekayaan alam dan sejarah Sultra tetap lestari untuk generasi mendatang.

Kawasan karst yang diusulkan masuk dalam peta Geopark seluas 6.000 km² meliputi Matarombeo, Tangkelaboke, Mekongga, dan Sombori. Kawasan tersebut memiliki lanskap kars unik sekaligus menyimpan warisan budaya dan arkeologi penting, termasuk gua dengan lukisan kuno, keramik, makam, dan artefak penting.

Baca Juga :  7 Cara Meningkatkan Kualitas Diri yang Mudah Dilakukan!

Selama ekspedisi Tangkelaboke, tim menemukan banyak spesies baru dan langka, termasuk burung, ular, dan terumbu karang. Namun, beberapa area, seperti Sombori-Labengki, menghadapi ancaman serius dari penambangan dan praktik penangkapan ikan destruktif seperti bom dan bius.

Tim peneliti mencatat beberapa sedimen di Sombori sudah terkontaminasi logam berat, menegaskan urgensi perlindungan kawasan karst

Selain nilai konservasi, kawasan karst Sultra menawarkan potensi geowisata. Sungai Lalindu, Karst Tangkelaboke, summit Matarombeo, dan Sungai Lasolo menjadi destinasi alam yang menonjol secara estetika, sementara Tangkelaboke memiliki sistem waduk alami dengan cekungan tertutup yang menyimpan air bawah tanah sebagai cadangan penting bagi wilayah Sultra.

Expedisi Walacea sendiri merupakan hasil kolaborasi lintas institusi, termasuk UHO, Naturevolution, Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), University of California Davis (UC Davis), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x