LAJUR.CO, KENDARI — Alih-alih menjadi puncak musim liburan, Lebaran 2026 justru berlalu tanpa geliat wisata di Wakatobi. Pegiat usaha wisata mengaku tidak merasakan lonjakan kunjungan, bahkan nihil wisatawan selama periode tersebut.
Situasi ini menandai anomali di salah satu destinasi unggulan Sulawesi Tenggara yang biasanya ramai saat libur panjang. Sepinya kunjungan turut dirasakan operator wisata selam yang selama ini mengandalkan wisatawan luar daerah hingga mancanegara.
Salah satunya Seto Ariyadi, pengelola Wakatobi Dive Trip, yang selama ini rutin mendampingi pelancong dari negara-negara seperti Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, Polandia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Tiongkok. Namun, sepanjang libur Lebaran 2026, usahanya tidak menerima kunjungan wisatawan sama sekali.

“Kami nihil. Kalau pun ada, hanya tamu lokal yang mudik,” ujar Seto, Selasa (31/3/2026).
Kondisi itu dinilai tidak biasa, mengingat Lebaran umumnya menjadi momentum ramai bagi destinasi wisata. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan transportasi udara. Penerbangan menuju Wakatobi baru kembali beroperasi pada 17 Februari 2026 setelah sempat berhenti cukup lama.
Wisatawan terutama dari luar daerah dan mancanegara, kata Seto, biasanya merencanakan perjalanan jauh-jauh hari. Dibukanya kembali penerbangan yang berdekatan dengan periode Lebaran membuat waktu persiapan menjadi terlalu sempit.
Akibatnya, aktivitas selama libur Lebaran lebih didominasi pergerakan masyarakat lokal, bukan kunjungan wisata. Minimnya wisatawan luar daerah ini berdampak langsung pada penurunan omzet pelaku usaha.
“Sebelum pesawat aktif, paling hanya tiga sampai lima orang yang kami handle. Jadi turun drastis omzetnya,” ungkap Seto.
Meski demikian, geliat wisata mulai terlihat lagi pasca Lebaran. Pemesanan untuk April 2026 meningkat, seiring normalnya kembali akses transportasi dan promosi yang mulai digencarkan.
“Khusus di kami, bulan April sudah ada sekitar 40 orang. Bulan Mei baru empat orang, dan Juni dua orang dari Eropa,” pungkasnya. Red





