BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Petani di Sultra Tekor, BPS Sebut Daya Beli Merosot 1,64 Persen

×

Petani di Sultra Tekor, BPS Sebut Daya Beli Merosot 1,64 Persen

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Daya beli petani di Sulawesi Tenggara (Sultra) tercatat melemah pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) turun 1,64 persen dibandingkan Februari 2026.

Kondisi tersebut menjadi indikator menurunnya tingkat kesejahteraan petani. Sebagaimana diketahui, NTP selama ini digunakan untuk mengukur kemampuan petani dalam membiayai kebutuhan produksi sekaligus konsumsi rumah tangga dari hasil penjualan komoditas pertanian.

“NTP Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 tercatat 98.55 atau mengalami penurunan sedalam 1,64 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 100,19,” kata Kepala BPS Sultra Hadi Susanto siaran persnya, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga :  Harga Nikel Global Tertekan, PT Vale Klaim Tetap Ekspansi & Perkuat Hilirisasi

Merosotnya NTP dari 100,19 menjadi 98,55 menunjukkan jika pendapatan petani tidak lagi seimbang dengan pengeluaran. Artinya, hasil penjualan panen yang diperoleh belum mampu menutup biaya produksi maupun kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data BPS, kondisi tersebut dipicu oleh melemahnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,22 persen. Situasi tersebut mengindikasikan harga jual komoditas pertanian mengalami penurunan sehingga berdampak langsung pada pendapatan. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani justru meningkat 0,43 persen, mencerminkan adanya kenaikan biaya produksi serta kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga :  Arab Saudi Rilis Aturan Baru Bagi Jemaah Umrah, Dilarang Overstay!

Keadaan ini memperlihatkan tekanan ganda yang dihadapi petani, dimana pemasukan yang menyusut di tengah beban pengeluaran yang terus meningkat.

Meski demikian, tidak seluruh subsektor mengalami kerugian. Sejumlah sektor masih mencatatkan NTP di atas angka 100 yang berarti pendapatan petani relatif masih mampu menutupi pengeluaran. Subsektor tanaman pangan berada di angka 103,36, hortikultura 107,11, peternakan 108,43, serta perikanan 109,32.

Berbeda dengan subsektor lainnya, tanaman perkebunan rakyat justru mencatat NTP sebesar 89,58. Angka itu menunjukkan petani di sektor tersebut mengalami tekanan paling berat karena pendapatan yang diperoleh belum mampu menutup total pengeluaran.

Baca Juga :  Bahaya Kopi Sachet yang Perlu Kamu Waspadai

Sementara itu, dii tingkat nasional, NTP berada di angka 125,35 atau turun tipis 0,08 persen dari bulan sebelumnya sebesar 125,45. Hal ini menandakan secara umum petani di Indonesia masih berada dalam posisi surplus, berbeda dengan Sultra yang sudah berada di bawah titik seimbang.

Tekanan tambahan petani sendiri datang dari sisi konsumsi rumah tangga. Pada Maret 2026, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Sultra tercatat meningkat 0,46 persen. Kenaikan dipicu oleh naiknya harga pada kelompok pakaian dan alas kaki yang turut menambah beban pengeluaran petani. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x