LLAJUR.CO, KENDARI – Slogan “Liwu Mokesa” yang berarti kampung indah di Kabupaten Muna Barat kini terasa ironis. Pantauan terbaru menunjukkan, wajah pintu masuk wilayah justru jauh dari kesan bersih dan tertata.
Di kawasan perbatasan Kabupaten Muna dan Muna Barat, tepatnya di Punto, tumpukan sampah terlihat memenuhi sisi jalan. Ruas jalan sepanjang kurang lebih 50 meter berubah fungsi menjadi lokasi pembuangan liar.
Kantong sampah tampak berserakan di pinggir jalan, seolah mengubah jalur utama ini sebagai tempat pembuangan terbuka. Padahal, kawasan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan Kota Raha, Muna Barat, hingga Buton Tengah.

Setiap hari, kendaraan melintasi jalur ini, menjadikannya etalase awal bagi siapa saja yang memasuki wilayah Muna Barat. Namun, pemandangan yang tersaji justru menciptakan kesan kumuh dan tidak terkelola.
Ironisnya, titik pembuangan sampah ini berada tidak jauh dari salah satu ikon daerah, yakni Bundaran Patung Kuda. Simbol kebanggaan daerah berdiri sebagai penanda identitas. Namun, ruas jalan sekitar spot ikonik itu jadi area pembuangan dengan dominasi sampah rumah tangga.
Kondisi ini menimbulkan kejanggalan karena kawasan tersebut tampak jauh dari permukiman warga. Sebagai gerbang wilayah, area ini semestinya menjadi prioritas dalam menjaga kebersihan dan kerapian.
Kontras yang tajam pun terlihat dengan semangat “Liwu Mokesa” yang selama ini digaungkan. Tumpukan sampah telah lama berada di lokasi tersebut tanpa penanganan berarti.
Situasi itu jadi cerminan belum optimalnya pengelolaan kebersihan di titik strategis. Di tengah visi menghadirkan kampung yang indah, pintu masuk Muna Barat justru berubah menjadi titik pembuangan sampah. Red





