BERITA TERKINICORNEREKOBISHEADLINE

Ramadan Tiba! Pedagang di Kendari Panen Orderan Anyaman Lapa-Lapa dan Ketupat

×

Ramadan Tiba! Pedagang di Kendari Panen Orderan Anyaman Lapa-Lapa dan Ketupat

Sebarkan artikel ini
Anyaman Ketupat dari bahan daun pandan (bawah). Panganan Lapa-lapa terbuat dari anyaman daun kelapan muda yang tersaji di dulang (atas)
Anyaman Ketupat dari bahan daun pandan (bawah). Panganan Lapa-lapa terbuat dari anyaman daun kelapan muda yang tersaji di dulang (atas)

LAJUR.CO, KENDARI – Ramadan tak hanya menghadirkan suasana religius di Sulawesi Tenggara (Sultra), tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga. Menjelang Ramadan atau hari besar misalnya, permintaan anyaman kulit lapa-lapa dan ketupat meningkat signifikan.

Seperti jelang Ramadan kali ini. Pedagang musiman kebanjiran pesanan dan panen rezeki dari tingginya permintaan anyaman lapa-lapa dan ketupat di pasar tradisional Kota Kendari.

Muliyana, pedagang sayur di Pasar Anduonohu, Kota Kendari pun mengaku panen orderan jelang bulan puasa. Perempuan lanjut usia itu memanfaatkan momentum bulan suci untuk menjual daun kelapa muda dan daun pandan yang dianyam menjadi kulit lapa-lapa dan ketupat.

Di hari biasa, ia berjualan sayuran. Namun saat Ramadan tiba, lapaknya dipenuhi anyaman daun yang menjadi incaran pembeli. Bahan dasar kulit lapa-lapa yang berbentuk lonjong terbuat dari janur kelapa. Sementara kulit ketupat, tersedia dua jenis. Ada yang berbahan daun kelapa yang masih muda dan terbuat dari anyaman pandan.

Baca Juga :  Gubernur ASR Canangkan Indonesia ASRI di Sultra, Selasa-Jumat Wajib Korve

“Hari habya jualan sayur. Ini cuma bulan puasa dan lebaran ji jual lapa-lapa dan pandan untuk ketupat. Biasanya sa jual sayur,” ujar Muliyana, Rabu (18/2/2026).

Ia menjual kulit ketupat dari daun kelapa muda seharga Rp5 ribu per 10 lembar. Sementara ketupat berbahan daun pandan dibanderol Rp15 ribu per 10 lembar. Untuk kulit lapa-lapa, harganya Rp10 ribu per 10 lembar.

Kata dia, daun pandan lebih diminati sebagian pembeli karena aromanya yang harum dan ukurannya lebih lebar dibanding daun kelapa muda.

“Kalau daun pandan itu lebih wangi dan besar, beda kalau pakai daun kelapa,” katanya.

Dalam sehari, Muliyana mengaku bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu saat pembeli ramai. Jika tidak terlalu padat, penghasilannya berkisar Rp300 ribu per hari. Lonjakan tersebut menjadi berkah musiman yang sangat membantu perekonomian keluarganya.

Di Sultra, Ramadan dan Idul Fitri tidak bisa dilepaskan dari tradisi haroa, yakni doa dan syukuran bersama yang dilakukan masyarakat dengan menyajikan beragam panganan tradisional.

Baca Juga :  Sekolah Unggulan Garuda di Sultra Umumkan Jadwal Pendaftaran Siswa Baru Februari ini

Dalam tradisi lokal, keluarga dan warga berkumpul membaca doa sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keberkahan. Di atas dulang atau nampan besar, tersaji aneka kue tradisional seperti cucur, baruasa, onde-onde, serta sajian utama berupa lapa-lapa dan ketupat.

Lapa-lapa dan ketupat sama-sama berbahan dasar beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun, lalu direbus hingga matang. Lapa-lapa dianyam menggunakan daun kelapa muda atau daun pandan dengan bentuk lonjong memanjang.

Sementara ketupat dibuat dalam anyaman berbentuk kotak persegi yang lebih padat dan simetris.

Keduanya berisi nasi dengan cita rasa khas yang dipengaruhi aroma alami dari daun pembungkusnya.

Ketupat secara historis dikenal luas di Nusantara dan sering dikaitkan dengan tradisi Lebaran sejak masa penyebaran Islam di Jawa. Ketupat dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan dan kebersihan hati setelah menjalani ibadah Ramadan.

Adapun lapa-lapa merupakan panganan khas masyarakat Sulawesi Tenggara yang telah lama mengakar dalam kehidupan sosial budaya, terutama di wilayah Kabupaten Muna dan Kota Baubau sebagai pusat kebudayaan Buton.

Baca Juga :  All New Honda Vario 125 Mengaspal di Sultra, Usung Desain Lebih Sporty dan Fitur Kekinian

Lapa-lapa diyakini telah hadir jauh sebelum tradisi Lebaran modern berkembang seperti sekarang.

Dahulu, masyarakat pesisir dan pelaut membungkus nasi dengan daun agar lebih tahan lama saat dibawa melaut atau berkebun. Bentuknya yang lonjong memudahkan penyimpanan dan distribusi.

Seiring waktu, lapa-lapa tak sekadar menjadi bekal perjalanan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari tradisi haroa dan perayaan hari besar keagamaan. Bagi masyarakat Muna dan Buton, lapa-lapa bukan hanya makanan pendamping lauk berkuah, melainkan simbol identitas dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.

Momentum Ramadan pun memperlihatkan bagaimana tradisi dan ekonomi berjalan beriringan. Anyaman daun kelapa dan pandan yang sederhana berubah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pedagang kecil.

Di tengah denyut pasar Ramadan Kendari, lapa-lapa dan ketupat menjadi penanda bahwa warisan budaya lokal tetap hidup, sekaligus membawa berkah bagi warga.

Laporan : Ika Astuti

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x