LAJUR.CO, KENDARI — Di tengah polemik komitmen kepulangan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sejumlah pemuda asal Sulawesi Tenggara (Sultra) justru menunjukkan arah berbeda. Mereka menembus kampus-kampus top dunia lewat beasiswa LPDP dan kembali ke daerah untuk berkontribusi.
Beasiswa LPDP yang dikelola Kementerian Keuangan RI dikenal dengan proses seleksi ketat. Para pendaftar harus bersaing dengan ribuan kandidat dari seluruh Indonesia, melewati seleksi administrasi, tes bakat skolastik, hingga wawancara substansi. Tak sedikit yang gagal berkali-kali sebelum akhirnya lolos sebagai awardee.
Dari Bumi Anoa, ada sejumlah nama yang mencatatkan kisah inspiratif.

Alif Rasyidi Baking, pemuda asal Bombana, berhasil menembus Central South University, China, pada School of Metallurgy and Environment. Perjalanannya tak instan. Ia baru lolos LPDP di percobaan ketiga dan total telah 13 kali mencoba berbagai beasiswa.
“Untuk LPDP di kali ketiga. Secara total percobaan ke-13 dari beberapa beasiswa. Persiapan persyaratan bahasa bagian yang paling menantang,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Selama menempuh studi di Negeri Tirai Bambu, Alif merasakan pengalaman lintas budaya, termasuk merayakan Idulfitri jauh dari kampung halaman. Setelah menyelesaikan studi, ia memilih kembali ke Sultra untuk mengimplementasikan ilmunya di bidang metalurgi dan lingkungan.
Kisah serupa datang dari Muhammad Irsyad, arsitek lulusan Universitas Halu Oleo (UHO) yang melanjutkan studi Urban Planning di University of Sheffield, Inggris. Ia juga sempat beberapa kali gagal sebelum akhirnya lolos LPDP.
Selama kuliah, Irsyad aktif mengikuti kompetisi dan pada 2023 bersama timnya memenangkan sayembara desain Musala Taman Kolam yang diselenggarakan Pusat Perencanaan Program Strategis BP Batam. Meski peluang karier di luar negeri terbuka, pemuda asal Konawe Utara ini memilih pulang dan terlibat dalam penataan kota di daerahnya. Salah satu karyanya adalah desain “The Link”, gerbang batas Kota Kendari melalui Ai Architecture and Urban Studio.
Dari Buton Utara, Febriant Isabella Yusuf menempuh studi Forest and Nature Conservation di Wageningen University & Research, Belanda. Selama di Negeri Kincir Angin, ia aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Wageningen dan Muslim Student Association Avicena. Adaptasi di negeri orang menjadi tantangan tersendiri, namun ia mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan capaian akademik. Usai lulus, ia kembali ke kampung halaman untuk berkontribusi di sektor kehutanan dan konservasi.
Sementara itu, Muh. Siddik Ibrahim memilih melanjutkan studi Kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain fokus akademik, ia aktif menyosialisasikan beasiswa LPDP melalui komunitas Mata Garuda Sultra dan menjabat sebagai Ketua Umum periode 2023–2025. Ia mendorong lebih banyak pemuda daerah berani bersaing di tingkat nasional.
Nama terbaru, Shofa Nur Amirah Khairiyah, lulusan terbaik UHO dengan IPK 3,99, juga berhasil menembus LPDP setelah sempat gagal pada percobaan pertama. Ia kini melanjutkan Magister Penginderaan Jauh di UGM. Shofa memperkuat esai dan rekam jejak kontribusinya sebelum akhirnya dinyatakan lolos pada LPDP batch 2 tahun 2025. Dari riset mitigasi bencana di Kendari hingga aktif sebagai relawan Dompet Dhuafa, ia menunjukkan konsistensi antara prestasi akademik dan kontribusi sosial.
Kisah para awardee LPDP asal Sultra tersebut memperlihatkan satu benang merah, kegigihan menghadapi kegagalan dan komitmen untuk pulang membangun daerah. Di tengah sorotan publik terhadap komitmen penerima beasiswa luar negeri, mereka menjadi bukti bahwa semangat mengabdi di Tanah Air tetap hidup dan nyata. Red





