BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Sejarah Hotel Aden yang Ikonik di Kota Kendari, Kini Menjadi Masjid An Nur Bergaya Timur Tengah

×

Sejarah Hotel Aden yang Ikonik di Kota Kendari, Kini Menjadi Masjid An Nur Bergaya Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Hangatnya Ramadan 2026 terasa begitu hidup di Masjid An Nur, yang berdiri di jalur strategis Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Tak banyak yang menyangka, bangunan megah berwarna putih susu itu dulunya adalah Hotel Aden, hotel legendaris yang pernah menjadi simbol kemewahan di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Bagi generasi 1990-an, Hotel Aden bukan sekadar tempat menginap. Ia adalah ikon Kota Lulo, representasi kemajuan daerah di masanya. Berdiri sekitar awal dekade 90-an, hotel ini dikenal sebagai yang termegah dan termewah di Kendari. Letaknya berada di kawasan elite, nyaris tanpa pesaing sekelas pada eranya.

Hotel Aden bahkan tercatat sebagai hotel pertama di Kendari yang memiliki fasilitas transportasi vertikal atau lift, sebuah kemewahan yang kala itu menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai agenda penting pernah berlangsung di sana, mulai dari pertemuan pemerintahan, kegiatan bisnis, hingga hajatan sosial masyarakat.

Hotel tersebut diketahui milik almarhum H. Husein. Namun, seiring waktu dan masuknya hotel-hotel berbintang baru di Kendari, pamor Aden perlahan meredup. Operasionalnya terhenti dan bangunan itu sempat tak terurus selama kurang lebih delapan tahun, meninggalkan memori kolektif bagi warga.

Baca Juga :  Bulog Sultra Siapkan Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng, Alokasi Diproyeksi Naik Dua Kali Lipat

Titik balik terjadi pada 2022. Hotel Aden diwakafkan kepada Ustaz Dani Sofyan untuk dialihfungsikan menjadi masjid. Informasi tersebut sempat terpampang jelas melalui spanduk di depan bangunan, menandai babak baru perjalanan gedung ikonik itu.

“Putra pertama Pak Haji Husein, yakni Pak Najib, berinisiatif untuk kembali memakmurkan hotel ini. Kalau dulu hanya sebatas Ramadan, sekarang diniatkan untuk difungsikan sebagai masjid sehingga manfaatnya bisa lebih luas,” ujar Ustaz Dani Sofyan saat ditemui pada Kamis (28/10/2022).

Sejak diwakafkan pada 2022, bangunan ini mulai digunakan untuk salat tarawih. Artinya, Ramadan 2026 bukanlah kali pertama Masjid An Nur diramaikan jemaah. Namun, tahun ini menjadi momentum yang terasa semakin semarak seiring proses pembangunan yang terus berjalan.

Dari sisi arsitektur, perubahan tampak signifikan pada bagian depan bangunan. Fasad lama dirombak dengan sentuhan khas Timur Tengah, didominasi warna putih dan emas yang menghadirkan kesan bersih dan teduh. Meski sebagian struktur lama masih dipertahankan, identitasnya kini sepenuhnya sebagai rumah ibadah.

Baca Juga :  Ramadan Jadi Lebih Berkesan: Muslim Pro Kini Tersedia di MyTelkomsel

Ramadan tahun 2026, masjid tersebut kembali dipadati jemaah. Menjelang waktu magrib, mereka mulai berdatangan. Mereka duduk bersila di dalam masjid, berbincang ringan sembari menunggu azan berkumandang. Ruang yang dahulu menjadi lobi hotel kini berubah menjadi hamparan sajadah dan lantunan doa.

Pantauan jurnalis Lajur.co, setiap sore selama Ramadan, pengurus masjid menyiapkan hidangan berbuka puasa bagi jemaah dan warga sekitar. Kurma, aneka takjil, gorengan, hingga minuman segar tersaji dan dibagikan cuma-cuma. Tradisi berbuka bersama ini menghadirkan kehangatan, seolah menyatukan jejak masa lalu dengan kehidupan spiritual masa kini.

Tak hanya difungsikan sebagai tempat salat, Masjid An Nur juga diproyeksikan menjadi pusat pembinaan generasi muda. Bangunan ini akan dimanfaatkan untuk program hafalan Al-Qur’an bagi para santri, mayoritas pemuda milenial Kendari berusia 15 tahun ke atas.

“Kita bidik anak-anak milenial karena di Kendari banyak pesantren dari lulusan SD. Kalau ini anak-anak muda, daripada mereka nongkrong yang tidak jelas,” kata Ustaz Dani.

Baca Juga :  Redam Inflasi Jelang Ramadan, Bahan Pokok Dibanderol Murah di Halaman Disperindag Sultra

Respons masyarakat pun terbilang positif. Dukungan datang dari warga sekitar hingga aparat setempat seperti lurah, camat, RT, dan RW. Menurut Ustaz Dani, banyak warga mengaku pernah melaksanakan salat tarawih di lokasi tersebut bahkan sebelum resmi dialihfungsikan.

“Antusiasme tinggi karena mereka katakan bahwa dulunya mereka salat tarawih di sini. Kita minta dulu kepada Haji Husein supaya dijadikan masjid. Mungkin ini bagian dari doa warga di sini, karena kita lihat di pinggir jalan ini belum ada masjid,” tuturnya.

Transformasi Hotel Aden menjadi Masjid An Nur bukan sekadar perubahan fungsi bangunan. Ia menjadi simbol perjalanan sejarah Kota Kendari, dari pusat aktivitas komersial menuju pusat spiritual dan sosial.

Jika dulu Hotel Aden merepresentasikan geliat ekonomi Sultra pada dekade 1990-an, kini Masjid An Nur memancarkan nilai ketenangan, kebersamaan, dan penguatan iman.

Dari ikon kemewahan menjadi simbol keteduhan, bangunan tersebut membuktikan jika sejarah tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menemukan bentuk barunya.

Laporan : Ika Astuti

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x