BERITA TERKINIHEADLINETravel

Semarak Kabuenga Wa Sinta, Tradisi Cari Jodoh Khas Pesisir Wakatobi

×

Semarak Kabuenga Wa Sinta, Tradisi Cari Jodoh Khas Pesisir Wakatobi

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI — Puncak perayaan Festival Kabuenga Wa Sinta yang digelar pada Minggu (5/4/2026) di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi dipadati pengunjung. Masyarakat tumpah ruah memadati lokasi festival untuk menyaksikan pertunjukan budaya “cari jodoh” khas Wakatobi.

Festival Kabuenga Wa Sinta merupakan tradisi budaya masyarakat Kapota yang dikenal sebagai ajang pencarian jodoh. Tradisi ini dimaknai sebagai proses mencari pasangan hidup yang dilandasi nilai ketulusan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap adat.

Kata “Kabuenga” sendiri berarti ayunan. Dalam prosesi tradisi, sarung tenun atau leja digantung pada ayunan sebagai simbol pilihan hati. Penanda ini merepresentasikan perasaan sekaligus menjadi bentuk komunikasi halus dalam sistem perjodohan tradisional.

Baca Juga :  Fakta Skandal Putra Eks Gubernur Sultra: Abang Dilaporkan Hilang, Adik Diperiksa Kasus Korupsi

Acara yang telah berlangsung sejak 1 April itu diinisiasi Komunitas Kapota Maliga dengan menggandeng sejumlah unsur pemerhati budaya, seperti Lembaga Adat Kesultanan Buton Kadie Kapota, Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan Wakatobi (AKKP Wakatobi), serta Balai Taman Nasional Wakatobi.

Ketua Kapota Maliga, Nasrun, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur.

“Sebagai perayaan budaya, festival ini menampilkan kembali tradisi perjodohan adat yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir Wakatobi,” ujar Nasrun, Senin (6/4/2026).

Baca Juga :  Marwah Wisata Bokori Disebut Tenggelam, Dispar Sultra Gagas Revitalisasi Lewat Festival

Di tengah perkembangan zaman, tradisi Kabuenga dikemas dalam bentuk festival yang menarik perhatian publik. Bersama timnya, Nasrun menata arena festival menggunakan anyaman dan elemen lokal seperti bubu yang dirangkai menjadi venue yang estetik.

Beragam kegiatan budaya dihadirkan sepanjang penyelenggaraan festival. Mulai dari permainan tradisional Heksan Salu, pertunjukan seni, kadandio, hingga teatrikal budaya yang mengangkat legenda Pulau Kapota.

Konon, tradisi Kabuenga berakar dari kisah pemilihan jodoh putra Raja Kapota, La Lili Alamu, yang jatuh cinta kepada seorang gadis sederhana bernama Wa Siogena. Legenda ini mengisahkan tentang cinta yang tidak memandang status sosial maupun rupa.

Baca Juga :  Basarnas Kendari Tangani 3 Kejadian Darurat Selama Siaga SAR Lebaran 2026

Nilai-nilai tersebut kemudian diwariskan dalam praktik Kabuenga. Tradisi ini juga menjadi medium pelestarian nilai lokal, seperti gotong royong dan solidaritas sosial.

Saat penampilan budaya berlangsung, muda-mudi hingga ibu-ibu mengenakan pakaian adat. Pada malam hari, ibu-ibu bahkan melantunkan kadandio / pantun di bawah Kabuenga. Dengan balutan busana adat Buton, suasana terasa semakin hangat dan penuh makna.

Melalui festival ini, Nasrun berharap tradisi lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga mampu berkembang menjadi daya tarik wisata unggulan yang berdaya saing. Red

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x