LAJUR.CO, KENDARI – PT Vale Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan dan operasional yang solid sepanjang 2025. Perusahaan tambang nikel dengan kode saham IDX:INCO itu berhasil meningkatkan produksi serta mencatat pertumbuhan laba bersih, meski menghadapi tekanan harga komoditas di pasar global.
Data diterima Lajur.co, Senin (16/3/2026), berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, produksi nikel dalam matte Perseroan sepanjang 2025 mencapai 72.027 metrik ton, naik dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 71.311 ton. Kinerja tersebut menunjukkan ketangguhan operasional perusahaan di tengah dinamika industri nikel.
Secara triwulanan, produksi pada kuartal IV 2025 tercatat 17.052 ton, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi proyek pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November 2025 dan ditargetkan rampung pada Mei 2026. Meski begitu, secara tahunan volume produksi tetap lebih tinggi dibandingkan 2024.

Perusahaan juga terus memperluas sumber pendapatan melalui penjualan bijih nikel saprolit. Sepanjang tahun lalu, penjualan bijih tersebut mencapai 2,31 juta wet metric tons. Kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi, sementara penjualan dari Blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengujian bulk sampling.
Stabilnya produksi turut mendorong peningkatan pengiriman nikel matte yang mencapai 73.093 ton, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini membantu Perseroan menjaga EBITDA sebesar US$228,2 juta pada 2025.
Di sisi lain, harga realisasi rata-rata nikel matte tercatat US$12.157 per ton, turun sekitar 7 persen dibandingkan 2024. Meski menghadapi penurunan harga, Perseroan tetap mampu meningkatkan pendapatan menjadi US$990,2 juta, naik 4 persen dari tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut ditopang oleh volume pengiriman yang lebih tinggi serta kenaikan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku sejak Juli 2025. Pada kuartal IV saja, pendapatan tercatat US$284,8 juta, didorong oleh pemulihan harga nikel yang mulai terlihat.
Dari sisi efisiensi, perusahaan berhasil menjaga biaya kas penjualan pada level kompetitif sebesar US$9.339 per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi biaya tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, menunjukkan disiplin pengelolaan biaya yang konsisten.
Sementara itu, bisnis penjualan bijih nikel juga mencatat biaya operasional yang stabil, berada di kisaran US$17 hingga US$19 per ton. Biaya tersebut mencakup royalti serta logistik untuk bijih saprolit campuran yang dipasok dari Bahodopi.
Sepanjang 2025, Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$76,1 juta, meningkat sekitar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian ini mencerminkan perbaikan operasional yang berkelanjutan serta strategi efisiensi yang dijalankan perusahaan.
Dari sisi investasi, perusahaan mengalokasikan belanja modal sekitar US$485,9 juta sepanjang tahun lalu. Nilai ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan terutama digunakan untuk proyek pengembangan serta kebutuhan operasional jangka panjang.
Hingga akhir Desember 2025, posisi kas Perseroan tercatat US$376,3 juta, memberikan fondasi keuangan yang kuat untuk mendukung berbagai proyek pertumbuhan.
Sepanjang tahun lalu, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan operasional, termasuk insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025. Peristiwa tersebut menjadi ujian penting bagi perusahaan dalam menjaga standar keselamatan, integritas operasional, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Di tengah tantangan tersebut, komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan tetap diperkuat. Hal ini tercermin dari pelaksanaan audit Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) pada kuartal IV 2025 serta peningkatan peringkat risiko ESG dari Sustainalytics yang menempatkan perusahaan sebagai salah satu perusahaan tambang dengan kinerja keberlanjutan terbaik di Indonesia.
Memasuki 2026, perusahaan semakin fokus mempercepat pengembangan proyek hilirisasi dan fasilitas pengolahan mineral bersama mitra strategis. Proyek tambang di Pomalaa kini telah mencapai sekitar 60 persen progres pembangunan.
Sementara itu, proyek pengolahan High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan kemajuan signifikan dengan progres konstruksi sekitar 50 persen. Proyek tersebut ditargetkan mencapai tahap penyelesaian mekanis pertama pada kuartal III 2026.
Dengan berbagai proyek strategis yang berjalan, perusahaan optimistis dapat memperkuat pertumbuhan jangka panjang sekaligus mempertahankan kinerja operasional yang tangguh di tengah dinamika pasar nikel global. Adm




