LAJUR.CO, KENDARI – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari Andi Adi Umar Dani menegaskan fungsi Kolam Retensi Boulevard Kota Kendari sudah bekerja optimal mengurangi dampak banjir di sekitar kawasan Sungai Wanggu. Pernyataan ini membantah kabar yang menyebut jika sistem proteksi infrastruktur penangkal banjir tersebut mengalami gangguan.
Selang musim penghujan, BWS Kendari mencatat sudut elevasi Kolam Retensi jauh lebih tinggi daripada elevasi permukaan aliran Sungai Wanggu.
“Elevasi di kolam 1,95. Di Sungai Wanggu 1,00. Kolam retensi ini sifatnya hanya parkir sementara air,” jelas Umar Dani, Rabu (2/7/2025).
Data batimetri sedimen di Sungai Wanggu menunjukkan fakta mengejutkan. Muara sungai dipenuhi sedimen lumpur sehingga mempersempit penampang aliran Sungai Wanggu. Alhasil, ketika debit air tinggi selama musim penghujan, limpasan air merembes ke kawasan pemukiman dan memicu banjir parah.
“Kita sudah lakukan batimetrik (ukur sedimentasi), memang sedimen di muara sangat memprihatinkan. Pada saat surut atau air laut surut, air susah ditahan. Setiap sungai harusnya ada palung, di Wanggu justru rata karena terlalu banyak sedimen,” terang Andi Umar Dani.
Hasil peninjauan BWS Kendari bersama Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, belum lama ini menemukan fakta mengejutkan. Sejumlah pintu air tanggul di Kota Kendari malah dirusak. Total tiga unit pintu air tanggul milik Pemprov Sultra amblas alias dicuri.
“Punya BWS ada 12 pintu kondisi baik. Yang rusak ada tiga pintu tanggul. Provinsi punya. Dicuri,” ulasnya.
Kejadian miris tersebut membuat penanganan banjir kian pelik. Pemicu bencana banjir di Kota Kendari terutama kawasan DAS Wanggu memang terbilang sangat kompleks. Mulai dari pembangunan kawasan perumahan yang masih mengabaikan RTRW, sedimen parah, tata kelola hulu aliran Sungai Wanggu di Kabupaten Konawe Selatan, hingga tindak kriminal pencurian pintu tanggul.
Inilah mengapa, menurut BWS Kendari, permasalahan penanganan banjir Kota Kendari butuh pelibatan berbagai stakeholder, baik Pemkot Kendari, Pemprov Sultra dan pemerintah kabupaten terkait.
“Untuk sedimen, jalannya harus normalisasi, ini butuh biaya besar. Mesti dijaga agar sedimentasi tidak tambah. Wanggu ini kita tidak bisa hanya satu pihak. Harus semua kolaborasi. Di Wanggu tidak bisa masuk intervensi karena bukan kewenangan BWS,” jelasnya.
Rencana Pemprov Sultra menambah satu unit embung di kawasan Nanga-nanga tengah dibahas serius diharapkan bisa cepat terealisasi. Sebab, infrastruktur serupa Kolam Retensi Boulevard dapat membantu mengendalikan banjir di kawasan DAS Sungai Wanggu.
“Daya tampungnya yang di Nanga-nanga 1,5 juta meter kubik, luasan sekitar 50-an hektar. Kalau di retensi maksimal hanya 445.000 meter kubik,” pungkasnya. Adm