BERITA TERKINIDAERAHEKOBISHEADLINE

Makna “Haroa”, Tradisi Baca-Baca Sambut Pendaratan Perdana Sriwijaya Air di Bandara Sugimanuru Muna Barat

×

Makna “Haroa”, Tradisi Baca-Baca Sambut Pendaratan Perdana Sriwijaya Air di Bandara Sugimanuru Muna Barat

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Detik-detik pendaratan perdana pesawat Sriwijaya Air di Bandara Sugimanuru, Kabupaten Muna Barat, Kamis (15/1/2026), berlangsung penuh makna dan nuansa budaya lokal.

Begitu roda pesawat jenis Boeing 737 seri 500 itu menyentuh landasan, suasana Bandara Sugimanuru berubah riuh. Sejak pagi, sejumlah masyarakat memadati area bandara. Mereka ingin menyaksikan langsung momen bersejarah kembalinya penerbangan komersial di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Muna Barat mengawali rangkaian penyambutan dengan pengalungan kain tenun khas Pulau Muna kepada pilot dan kru pesawat. Langkah kaki mereka diiringi tarian daerah, maskot sapi dan kepiting yang merepresentasikan potensi unggulan lokal Muna Barat di sektor peternakan dan kelautan.

Proses penyambutan kemudian dilanjutkan dengan adanya “Haroa”, tradisi baca-baca masyarakat Muna yang sarat doa dan harapan. Ritual ini menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan, kelancaran, dan keberkahan atas hadirnya penerbangan perdana Sriwijaya Air di Muna Barat.

Baca Juga :  Sultra Termasuk Dua Provinsi Ini Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Mulai Januari 2026

Tradisi dan simbol budaya tersebut menjadi pesan bahwa penerbangan ini bukan sekadar konektivitas transportasi, tetapi juga pintu masuk bagi penguatan identitas dan ekonomi daerah.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting, di antaranya Bupati Muna Barat La Ode Darwin, Bupati Muna Bachrun Labuta, Ketua DPRD Sultra La Ode Tariala, Ketua DPRD Muna Barat, Wakil Bupati Buton Tengah, Direktur Utama Sriwijaya Air beserta jajaran kru, pimpinan OPD, Forkopimda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Bupati Muna Barat, La Ode Darwin menyampaikan harapannya terhadap kehadiran maskapai penerbangan di Bandara Sugimanuru. Ia berharap, dengan skema subsidi pemerintah daerah, maka geliat penerbangan bisa berjalan secara berkelanjutan. Ia menegaskan komitmennya menghadirkan penerbangan ini agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca Juga :  Pecah Tradisi, Dua Perempuan Pimpin BEM UHO Bawa Kepemimpinan Inklusif dan Progresif

“Penerbangan ini kami subsidi. Kalau penumpang tidak mencukupi sampai 120 orang, maka kekurangannya ditanggung oleh pemerintah daerah. Harapan kami, penerbangan ini setiap hari terisi penuh,” ujar La Ode Darwin.

Pesawat Sriwijaya Air juga membuka peluang pengangkutan kargo hasil pertanian dan peternakan masyarakat. Kehadiran penerbangan ini, menurut La Ode Darwin, menjadi langkah awal untuk membuka isolasi wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Muna Barat.

Selain pemerintah daerah, Kepala Otoritas Bandara Wilayah V Makassar, Capt Muhammad Mauludin yang mewakili Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga mengaku terkesan dengan suasana penyambutan dan tingginya antusiasme masyarakat Pulau Muna.

Capt Muhammad Mauludin menyebut, kehadiran ratusan warga yang memadati Bandara Sugimanuru pada penerbangan perdana ini menjadi sinyal kuat adanya harapan besar terhadap keberlanjutan penerbangan.

Baca Juga :  Potret TPS Kumuh di Kota Adipura 'Kendari': Sampah Tak Terangkut, Meluber hingga Jalanan

Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan potensi penumpang dan kargo yang menjanjikan, sekaligus menjadi dasar optimisme bahwa Bandara Sugimanuru ke depan dapat berkembang lebih besar dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

“Dengan melihat antusias ini kita berharap bahwa penumpang dan juga cargo yang bisa diangkut dapat berjalan dalam jangka waktu yang panjang. Dengan banyaknya penerbangan ke sini tentu menumbuhkan ekonomi yang lebih baik,” ujar Capt Muhammad Mauludin.

Penerbangan perdana tersebut menjadi tonggak penting bagi masyarakat Pulau Muna yang meliputi Kabupaten Muna Barat, Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton Tengah.

Haroa yang mengiringi pendaratan Sriwijaya Air tidak hanya menjadi ritual seremonial, tetapi juga simbol doa kolektif agar Bandara Sugimanuru terus hidup, berkembang, dan menjadi penghubung utama Pulau Muna dengan daerah lain di Indonesia. Red

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x