LAJUR.CO, KENDARI – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Program Prioritas Pendidikan Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 26 hingga 28 Januari 2026, di Kota Kendari.
Rakor tersebut menjadi agenda perdana BGTK Sultra di awal tahun 2026 yang bertujuan memperkuat sinergi, meningkatkan koordinasi lintas pemangku kepentingan, sekaligus menyosialisasikan arah kebijakan dan program prioritas pendidikan di Sultra.
Kegiatan ini diikuti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Bidang Perencanaan, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota se-Sultra, serta perwakilan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Halu Oleo, IAIN Kendari, dan Universitas Muhammadiyah Kendari.

Kepala BGTK Sultra, Surip Widodo, mengungkapkan bahwa rakor membahas sejumlah program unggulan yang akan menjadi fokus pada 2026. Program tersebut meliputi penguatan calon kepala sekolah, pelatihan guru Sekolah Dasar (SD), pelatihan Bahasa Inggris bagi guru SD, pengembangan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), serta penguatan numerasi nasional.
“Rakor ini kami gelar untuk memperkenalkan peran strategis BGTK kepada pemerintah daerah, agar dinas pendidikan memahami bahwa kami memiliki kekuatan fungsional yang dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan,” ujar Surip Widodo.
Rakor juga membahas kebijakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) terkait penetapan sekolah model untuk implementasi pembelajaran mendalam (deep learning), termasuk pengenalan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Para peserta mendapatkan pemaparan mengenai regulasi beban kerja guru serta distribusi guru, yang selama ini menjadi isu krusial dalam pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Tak hanya itu, rakor turut menyoroti peran strategis jabatan fungsional widyaiswara dalam peningkatan kompetensi guru, serta kontribusi pengembang teknologi pembelajaran (BTP) yang difokuskan pada pemanfaatan media pembelajaran dan percepatan digitalisasi pendidikan.
“Kami memiliki tugas untuk mengembangkan berbagai model pelatihan dan pembelajaran, baik secara luring, daring, augmented reality, maupun model inovatif lainnya,” tutur Surip Widodo.
Ia menambahkan, dalam setahun terakhir BGTK Sultra secara konsisten melakukan sosialisasi dan optimalisasi pemanfaatan smart board Merah Putih. Fokusnya tidak hanya pada penggunaan perangkat, tetapi juga mendorong guru mampu menciptakan konten pembelajaran interaktif yang berjalan di Interactive Flat Board (IFB).
“Hingga saat ini, guru-guru dari 17 kabupaten/kota telah menghasilkan 42 karya media pembelajaran interaktif yang dapat dijalankan di smart board Merah Putih,” ungkapnya.
Ke depan, BGTK Sultra menargetkan peningkatan kompetensi guru ke level lanjutan, seperti pengembangan game-based learning yang berjalan di IFB, hingga pembuatan media pembelajaran berbasis augmented reality.
Menurut Surip, pengembangan konten pembelajaran yang kontekstual menjadi sangat penting, mengingat banyak materi umum yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi lingkungan belajar serta keterbatasan waktu pembelajaran di sekolah.
“Kami sudah mulai memberikan materi yang disesuaikan dengan konteks lingkungan belajar, sekaligus menyesuaikan alokasi waktu agar lebih efektif,” pungkasnya.
Laporan: Ika Astuti



