LAJUR.CO, KENDARI – Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Kolaka berkapasitas 25 megawatt (MW) resmi memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) pada Jumat, 31 Januari 2026. Peresmian yang dilakukan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ir Hugua menjadi penanda penting penguatan sistem kelistrikan sekaligus penopang percepatan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut.
Beroperasinya PLTG Kolaka diharapkan mampu meningkatkan keandalan pasokan listrik, tidak hanya bagi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung aktivitas industri yang terus tumbuh di Bumi Anoa.
General Manager PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar), Ediyansyah, menyampaikan bahwa proyek PLTG Kolaka memberikan dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Selama proses pembangunan, proyek ini juga mencatatkan capaian zero accident, sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sultra, Pemerintah Kabupaten Kolaka, seluruh mitra kerja, kontraktor, serta pegawai PLN yang telah berkontribusi dalam penyelesaian proyek ini. Ini merupakan hasil kerja sama untuk menghadirkan listrik yang andal bagi masyarakat,” ujar Ediyansyah.
Bupati Kolaka, Amri, turut mengapresiasi peresmian PLTG Kolaka. Ia berharap kehadiran pembangkit ini dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan penguatan perekonomian daerah.
“Kami berharap ke depan PLN terus berkolaborasi dan bersinergi dengan program-program Pemerintah Daerah, sehingga manfaat kehadiran PLTG ini benar-benar dirasakan masyarakat Kolaka,” kata Amri.
Wagub Hugua menilai operasional PLTG Kolaka menjadi elemen penting dalam memperkuat fondasi energi daerah, khususnya untuk mendukung agenda hilirisasi industri yang tengah didorong pemerintah provinsi.
“Kehadiran PLTG ini sangat strategis karena memperkuat pasokan energi yang dibutuhkan untuk mendorong hilirisasi industri di Sulawesi Tenggara,” ujar Hugua.
Pemerintah Provinsi Sultra saat ini fokus mendorong hilirisasi di berbagai sektor, mulai dari agroindustri berbasis pertanian, peternakan, perkebunan, hingga perikanan. Pengolahan komoditas lokal seperti kelapa dan ikan diarahkan agar memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Selain itu, hilirisasi industri nikel menjadi prioritas, dengan pengembangan produk setengah jadi dan turunan seperti ferronickel, bahan baku baterai kendaraan listrik, hingga produk logam lainnya.
Seluruh agenda hilirisasi tersebut membutuhkan pasokan listrik yang besar dan andal. Karena itu, beroperasinya PLTG Kolaka 25 MW dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan energi untuk mendukung pertumbuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kolaka dan Sultra secara keseluruhan. Adm



