LAJUR.CO, KENDARI – Masyarakat di Pulau Sulawesi hingga kini masih lebih banyak memilih atap seng dibandingkan genteng tanah liat.
Namun, di tengah dominasi penggunaan seng tersebut, Sulawesi Tenggara (Sultra) justru tercatat sebagai provinsi dengan persentase penggunaan atap genteng tertinggi, mengungguli provinsi lain di kawasan Sulawesi.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2025, sebanyak 3,35 persen rumah tangga di Sultra menggunakan atap genteng. Angka ini menempatkan Bumi Anoa di peringkat pertama pengguna atap genteng se-Sulawesi.

Posisi Sultra disusul oleh Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan persentase 3,24 persen, kemudian Sulawesi Tengah (Sulteng) sebesar 2,78 persen. Lalu Sulawesi Utara (Sulut) 2,59 persen, Sulawesi Barat (Sulbar) 2,24 persen, dan Gorontalo menjadi provinsi dengan persentase terendah yakni 0,90 persen.
Meski menjadi yang tertinggi, secara umum penggunaan atap genteng di wilayah Sulawesi masih tergolong rendah. Mayoritas masyarakat lebih memilih bahan atap lain seperti seng, kayu, maupun sirap yang dinilai lebih mudah diperoleh dan praktis digunakan.
Ada beberapa alasan masyarakat lebih memilih material seng, kayu dan sirap sebagai atap rumah mereka. Faktor tersebut di antaranya meliputi ketersediaan bahan bangunan lokal, kondisi geografis, serta faktor kebiasaan dan tradisi masyarakat.
Di sejumlah daerah, seng dianggap lebih ringan, tahan terhadap kondisi cuaca tertentu, serta lebih efisien dari sisi biaya dan distribusi.
Namun demikian, capaian Sultra menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan material bangunan yang lebih permanen, khususnya di kawasan perkotaan dan wilayah dengan akses infrastruktur yang semakin berkembang. Red




