LAJUR.CO, KENDARI – Tingginya permintaan masyarakat terhadap transaksi non tunai mendorong pesatnya adopsi QR Code Indonesian Standard (QRIS) di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sepanjang 2025, QRIS kian mengukuhkan perannya sebagai game changer dalam sistem pembayaran ritel, seiring melonjaknya jumlah pengguna, merchant, hingga volume transaksi.
Pada Triwulan IV 2025, jumlah pengguna baru QRIS di Sultra bertambah sebanyak 31.723 pengguna. Dengan tambahan tersebut, total pengguna QRIS di Sultra mencapai 303.254 pengguna atau tumbuh 12 persen (yoy) dibandingkan Triwulan IV 2024 yang tercatat sebanyak 271.531 pengguna.
Dari sisi akseptansi, jumlah merchant QRIS di Sultra mengalami peningkatan signifikan. Secara tahunan, merchant QRIS tumbuh 37,65 persen (yoy) menjadi 239.463 merchant, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 173.964 merchant.

Sejalan dengan itu, volume transaksi QRIS melonjak tajam menjadi 4.364.680 transaksi pada Triwulan IV 2025, atau meningkat 184,61 persen (yoy) dibandingkan Triwulan IV 2024 yang hanya mencapai 1.533.544 transaksi.
Capaian tersebut diperkirakan terus meningkat seiring semakin luasnya penggunaan QRIS di berbagai sektor ekonomi masyarakat Sultra.
Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Sultra, Edwin Permadi, mengatakan meningkatnya adopsi QRIS mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan transaksi digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“QRIS telah menjadi pendorong penting dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di Sultra. Pertumbuhan pengguna dan merchant yang konsisten menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap transaksi non tunai,” ujar Edwin saat Bincang Bareng Media, Senin (9/2/2026.
Ia menambahkan, BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha guna memperluas akseptansi QRIS, sehingga manfaat digitalisasi pembayaran dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.
“Ke depan, kami akan terus mendorong perluasan penggunaan QRIS sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi digital dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Sejalan dengan pesatnya transaksi digital, perekonomian Sultra juga menunjukkan kinerja yang solid sepanjang 2025. Ekonomi Sultra tumbuh sebesar 5,79 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 5,40 persen (yoy) dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen (yoy). Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,94 persen (yoy) dibandingkan Triwulan IV 2024.
Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Sultra terutama didorong oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan yang tumbuh 17,27 persen (yoy), seiring ekspansi kredit dan meningkatnya transaksi digital.
Kinerja positif juga ditunjukkan oleh Lapangan Usaha Akomodasi dan Makan Minum yang didukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penyelenggaraan berbagai ajang nasional. Selain itu, Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi turut menopang pertumbuhan akibat meningkatnya aktivitas digital masyarakat, meski tertahan oleh kinerja Lapangan Usaha Pengadaan Air dan Administrasi Pemerintahan.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi masih tertahan oleh kontraksi ekspor besi baja serta peningkatan impor bahan bakar minyak (BBM).
Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sultra pada Januari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,69 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 sebesar 0,22 persen (mtm) dan berlawanan arah dengan inflasi nasional yang mencatat deflasi sebesar 0,15 persen (mtm). Inflasi tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan serta sejumlah komoditas ikan laut akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung aktivitas melaut nelayan.
Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, BI Sultra bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui fasilitasi Gerakan Pangan Murah (GPM), distribusi pangan, serta percepatan pemanfaatan Kios Pangan.
Selain itu, BI juga menyiapkan layanan kas melalui Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri) 2026 dengan menyediakan uang rupiah layak edar sebesar Rp1,2 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Adm




