BERITA TERKINIHEADLINE

UHO – Dispar Sultra Susun Konsep Wisata Bahari Tematik Berbasis Riset & Konservasi

×

UHO – Dispar Sultra Susun Konsep Wisata Bahari Tematik Berbasis Riset & Konservasi

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Sejumlah kawasan pesisir di Sulawesi Tenggara (Sultra) segera ditata menjadi destinasi wisata bahari terpadu dengan konsep modern dan berkelanjutan. Untuk merealisasikan program tersebut, Dinas Pariwisata (Dispar) Sultra menggandeng Universitas Halu Oleo (UHO) menyusun konsep pengembangan wisata bawah laut tematik berbasis riset dan konservasi.

Beberapa lokasi yang masuk dalam rencana pengembangan yakni Kendari Water Sport, Pulau Bokori, Pulau Labengki, Pulau Hari, Pulau Wawosunggu, dan Pulau Senja. Setiap kawasan akan dikembangkan sesuai karakteristik ekosistemnya. Dengan begitu konsep wisata yang dibangun tidak hanya menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi juga tetap menjaga kelestarian lingkungan bawah laut.

Saat pertemuan, Akademisi dan ilmuwan kelautan UHO Assoc Prof Dr Baru Sadarun mengatakan, Dispar meminta agar pihak kampus menyusun konsep, melakukan pengawasan, serta terlibat langsung dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan.

“Kalau sesuai dengan pertemuan kemarin, mereka meminta kita buatkan konsepnya seperti apa,” ucap Baru Sadarun saat diwawancarai awak LAJUR.CO, Kamis (12/02/2026).

Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Kendari Water Sport. Fasilitas yang dibangun sejak 2019 akan dihidupkan kembali. Fungsinya ditingkatkan sebagai tempat kapal labuh kapal wisata. Lengkap dengan penataan rute serta sarana pendukung infrastruktur pariwisata.

Baca Juga :  UHO Resmi Buka PPDS Ilmu Bedah, Siapkan Spesialis Bedah Pesisir untuk Sultra

Selain itu, UHO menawarkan konsep besar berupa underwater landscape atau kawasan wisata bawah laut yang ditata secara modern. Konsep ini tidak hanya menampilkan keindahan alami, tetapi juga menghadirkan kebun karang terstruktur dengan jalur trekking wisata bawah laut. Wisatawan dengan mudah menikmati panorama bawah laut dengan adanya roadmap wisata bawah laut.

“Jadi bagaimana di bawah laut itu kita buat menjadi kawasan wisata yang modern. Jangan hanya di atas laut saja tetap di bawahnya juga. Jalurnya ditata,” tutur akademisi UHO yang pernah menerima penghargaan UNESCO tersebut.

Untuk pengembangan Pulau Bokori, lanjutnya, ada konsep tracking underwater tourism, hamparan pasir putih, artificial reef dari mobil bekas dan struktur lainnya, serta karakter dasar laut yang landai. Keunikan Bokori terletak pada hamparan lamun yang luas dan jarang dimiliki daerah lain.

“Bokori itu unik, kita punya taman lamun yang besar di Indonesia dan itu jarang ada yang punya lamun seperti di Pulau Bokori. Kalau selama ini, orang menyelam tidak tahu apa yang ada di dalamnya, tapi kalau mereka sudah menyelam dan masuk ke jalur tertentu dan sudah ada alurnya itu berbeda,” ujar Baru Sadarun.

Baca Juga :  UHO Gelar Wisuda Perdana 2026 Berbasis Kuota, Kukuhkan 767 Lulusan

Ia menjelaskan, kondisi perairan Bokori yang landai serta lokasinya yang dekat dengan Kota Kendari memudahkan pengembangan artificial reef, seperti penenggelaman kapal bekas atau struktur tertentu untuk dijadikan rumah ikan sekaligus spot wisata selam.

Pulau Senja akan dikembangkan dengan konsep tracking underwater tourism, transplantasi karang, sumber karang hias, serta karakter dasar laut berpasir dan rubble. Sementara itu, Pulau Hari juga masuk dalam rencana pengembangan dengan konsep tracking underwater tourism, kapal tenggelam, kelimpahan dan keindahan terumbu karang, serta dasar laut yang landai hingga dalam.

Adapun Labengki difokuskan pada pengembangan tracking underwater tourism, coral garden, kelimpahan biota endemik, serta struktur pulau dan dasar laut yang unik. Dalam konsep tersebut, karang-karang indah yang selama ini tumbuh alami akan ditata menyerupai taman. Karang dengan berbagai warna dan bentuk bercabang, masif, lembaran, hingga merambat akan dipindahkan dan dikonsentrasikan pada titik tertentu agar mudah dinikmati wisatawan.

“Kalau Pulau Bokori ada lamun. Sedangkan di Labengki dia karakteristiknya berbeda dimana airnya lebih cerah sehingga penanaman karang bisa lebih bagus. Karang – karang yang bagus kadang tersembunyi disela batu, kita akan ambil dan simpan di tempat yang jalurnya dilewati wisatawan agar bisa dilihat,” kata Baru Sadarun.

Baca Juga :  UHO Sebar 610 Mahasiswa KKN Reguler Batch I ke 10 Kecamatan dan 41 Desa di Sultra

Penataan kawasan dilanjutkan menyusun ekosistem karang yang punya karakteristik unik melalui metode transplantasi pada jalur wisata. Karang ditata bak taman koral.

Ketua Jurusan Ilmu Kelautan UHO itu menyebut, konsep kebun karang terintegrasi seperti ini masih jarang diterapkan di Indonesia.

“Selama ini riset transplantasi karang memang sudah ada, namun penataan menjadi kawasan underwater tour lengkap dengan jalur, papan nama, dan desain tematik belum banyak dikembangkan,” ungkap Baru Sadarun.

Konsep wisata yang digagas tersebut menyasar wisatawan mancanegara yang secara value bisa menarik PAD tinggi

“Kemudian targetnya turis dari luar. Turis luar kecenderungan uang yang mereka keluarkan untuk wisata tinggi. Mereka mau keluar uang banyak untuk wisata. Secara nilai rupiah lebih banyak dari turis lokal. Nilai jual wisata untuk turis asing jauh lebih mahal. Potensi PAD lebih besar ,” ujar Baru Sadarun.

Program tersebut diharapkan mampu mendorong Sultra menjadi destinasi unggulan wisata bahari nasional, sekaligus memperkuat pariwisata berbasis konservasi, riset akademik, dan pemberdayaan sumber daya lokal.

Laporan: Ika Astuti

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x