LAJUR.CO, KENDARI – Pedagang buah di Kota Kendari mengeluhkan kenaikan harga sejumlah komoditas buah impor dalam beberapa pekan terakhir. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat biaya pengadaan buah dari luar negeri ikut meningkat. Kondisi tersebut diperparah dengan gangguan distribusi akibat konflik global, sehingga harga berbagai buah impor di pasaran mengalami lonjakan.
Kenaikan harga tersebut dirasakan pada sejumlah komoditas favorit masyarakat, mulai dari varian anggur, pir, apel, kelengkeng, hingga berbagai jenis jeruk impor. Sebagian besar buah tersebut didatangkan dari luar negeri seperti China, Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand, sehingga perubahan kurs mata uang asing serta biaya logistik berpengaruh langsung terhadap harga jual di tingkat konsumen.
Karyawan toko buah Kendari Fruits, Dinda, membenarkan adanya kenaikan harga sejumlah buah impor. Ia mengatakan, perubahan harga mulai terasa sejak sekitar satu bulan terakhir akibat meningkatnya biaya operasional dan pengadaan barang.
“Naiknya dari bulan lalu, pas naik harga plastik. Pas perang dan dolar berpengaruh sekali juga,” kata Dinda kepada Lajur.co, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu buah yang mengalami kenaikan adalah pir jenis Xiang Lie asal China. Buah tersebut kini dijual seharga Rp75 ribu per kilogram, meningkat dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp69 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada apel Red Delicious asal Amerika Serikat. Harga buah tersebut kini mencapai Rp75 ribu per kilogram, naik sekitar Rp7 ribu dari sebelumnya yang hanya Rp68 ribu per kilogram.
Sementara itu, kelengkeng Gold Thailand menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan cukup signifikan. Buah tersebut kini dibanderol Rp98 ribu per kilogram, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp75 ribu per kilogram.
Tidak hanya buah segar seperti apel dan kelengkeng, harga berbagai jenis jeruk impor juga ikut mengalami kenaikan. Jeruk Papagan asal Jepang yang sebelumnya dijual Rp98 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp120 ribu per kilogram.
Kemudian, jeruk Sunkist asal Amerika Serikat mengalami kenaikan dari Rp45 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan jeruk Wogan asal China yang sebelumnya dijual Rp60 ribu kini menjadi Rp65 ribu per kilogram.
Dinda menyebut, anggur Shine Muscat asal Jepang menjadi komoditas buah impor dengan kenaikan harga paling tinggi. Anggur premium tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp20 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya Rp138 ribu menjadi Rp158 ribu per kilogram.
“Yang paling tinggi itu anggur Shine Muscat yang warna hijau,” ujarnya.
Menurut Dinda, kenaikan harga buah impor tidak hanya dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Faktor lain seperti meningkatnya biaya distribusi dan kendala pengiriman akibat kondisi global turut membuat harga komoditas tersebut semakin tinggi.
Selain harga yang naik, ketersediaan sejumlah buah impor di toko juga mulai mengalami kendala. Beberapa jenis buah bahkan untuk sementara tidak tersedia karena pasokan dari distributor mengalami keterlambatan.
Dinda mengatakan, sebagian besar buah impor yang dijual Kendari Fruits didatangkan melalui distributor yang berada di Surabaya. Namun, proses pengiriman mengalami hambatan karena sejumlah kontainer pengangkut buah masih tertahan di pelabuhan.
Akibat kondisi tersebut, beberapa komoditas seperti kiwi Zespri yang biasanya dijual dengan harga Rp120 ribu per kemasan saat ini mengalami kekosongan stok.
“Lagi kosong, karena biasanya kontainer itu terjebak di pelabuhan,” ungkapnya.
Meski harga buah impor terus mengalami kenaikan, Dinda menyebut daya beli masyarakat masih relatif stabil. Menurutnya, pelanggan tetap membeli buah impor karena lebih mempertimbangkan kualitas dibandingkan perubahan harga.
“Menurut saya sama saja, karena buah tetap habis. Orang-orang tidak terlalu memikirkan harganya karena lebih penting kualitas. Jadi berapa pun harganya, tetap ada yang datang beli,” tuturnya.
Ia berharap kondisi distribusi dan harga mata uang asing dapat kembali stabil sehingga harga buah impor di pasaran tidak terus mengalami kenaikan.
Laporan: Ika Astuti




