LAJUR.CO, KENDARI — Semarak perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai sudut Kota Kendari. Namun, di balik deretan bendera Merah Putih dan atribut kemerdekaan yang menghiasi ruas jalan, pedagang bendera musiman justru menghadapi penjualan yang tak seramai tahun sebelumnya.
Kondisi itu dirasakan Hanura, pedagang bendera musiman yang berjualan di sekitar RSUD Abunawas Kendari. Perempuan asal Kota Palu tersebut telah hampir sebulan menjajakan bendera dan sejumlah atribut kemerdekaan milik orang lain untuk mendapatkan tambahan pemasukan.
Hanura mengaku penjualan tahun ini jauh merosot dibandingkan momentum kemerdekaan tahun lalu. Jika sebelumnya ia bisa mengantongi omzet hingga lebih dari Rp1 juta dalam sehari, kini pendapatannya bahkan tak sampai Rp100 ribu per hari.
“Tidak sama dengan tahun lalu. Menurun ini, tidak lari, tidak lancar, tidak seperti tahun lalu,” ujar Hanura kepada awak Lajur, Kamis (14/8/2026).
Menurutnya, omzet yang diperoleh tahun ini rata-rata hanya sekitar Rp80 ribu per hari. Angka tersebut terpaut jauh dari pendapatan tahun lalu yang bisa menembus Rp1 juta, bahkan lebih dalam sehari.
Hanura masih mengingat tingginya penjualan beberapa hari menjelang 17 Agustus tahun lalu. Dalam catatan pembukuannya, pemasukan selama tiga hari bahkan bisa mencapai Rp6 juta hingga Rp7 juta.
“Ini kan kalau tiga hari kita menjual, sudah ada pemasukan sama bos paling rendah itu Rp6 juta, Rp7 juta. Kita baku saing dengan anggota-anggota lainnya. Tapi sekarang, uuhh, enda ada,” ujarnya.
Untuk menarik minat pembeli, Hanura menyediakan beragam atribut kemerdekaan, mulai dari bendera Merah Putih, bendera berukuran besar untuk kebutuhan perkantoran, umbul-umbul, hingga berbagai aksesori berukuran kecil.
Ia juga memberikan kelonggaran bagi pembeli untuk menawar harga. Menurut Hanura, selama masih menyisakan keuntungan, harga yang ditawarkan pembeli tetap akan diterima.
Bendera Merah Putih yang semula dibanderol sekitar Rp70 ribu, misalnya, masih bisa diperoleh pembeli dengan harga Rp50 ribu. Sementara bendera berukuran lebih besar untuk kebutuhan perkantoran dipatok sekitar Rp300 ribu dan dapat turun menjadi Rp250 ribu setelah melalui proses tawar-menawar.
“Kalau kita jual ini Rp70 ribu, kalau dia tawar pembeli Rp50 ribu, ya kita kasih karena ada untung,” jelasnya.
Selain bendera, Hanura menjual umbul-umbul sekitar Rp40 ribu serta sejumlah atribut lain di kisaran Rp30 ribu. Harga tersebut masih dapat dinegosiasikan hingga Rp20 ribu-Rp25 ribu, dengan keuntungan rata-rata hanya sekitar Rp5 ribu.
Khusus atribut berukuran kecil seperti gantungan, harganya mulai dari Rp10 ribu. Sementara bendera kecil untuk kendaraan dibanderol sekitar Rp20 ribu, baik untuk mobil maupun sepeda motor.
Meski cukup banyak jenis barang yang ditawarkan, keuntungan dari penjualan atribut berukuran kecil terbilang sangat tipis.
“Untung-untung seribu rupiah itu,” kata Hanura sambil tertawa.
Bagi Hanura, berjualan bendera hanya menjadi pekerjaan musiman untuk menambah penghasilan menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI. Setelah rangkaian peringatan 17 Agustus berakhir, ia berencana kembali ke kampung halaman dan melanjutkan aktivitas berkebun.
“Kembali ke kampung, kerja kebun lagi,” ungkapnya.
Laporan: Ika Astuti



