LAJUR.CO, KENDARI – Sebanyak 4.000 botol plastik bekas terkumpul selama perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Sulawesi Tenggara (Sultra) di kawasan Eks MTQ Kendari. Mesin Reverse Vending Machine (RVM) atau yang kerap dijuluki “ATM sampah” menjadi magnet utama, karena mampu mengubah limbah plastik menjadi poin bernilai ekonomi.
Fasilitas yang dihadirkan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung. Botol plastik jenis PET yang biasanya dibuang, kini bisa ditukarkan menjadi poin senilai Rp500 per botol.
Poin yang terkumpul dapat dicairkan melalui berbagai platform pembayaran digital seperti OVO, DANA, GoPay, ShopeePay, hingga LinkAja, maupun ditransfer ke rekening bank.
Strategic Communication & Partnership, Zelvia Meliani, menjelaskan sistem penukaran tersebut dirancang agar mudah diakses masyarakat.
“Dari pengumpulan sampah botol plastik, masyarakat akan mendapatkan reward berupa poin Rp500 rupiah untuk satu botol. Nantinya bisa di diredeem ke dalam e-wallet dan juga ke bank account,” ucapnya.
Selama pelaksanaan acara, antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Antrian panjang sempat terjadi di sekitar mesin. Bahkan kuota harian cepat terpenuhi sebelum waktu penutupan.
“Antusiasnya sangat besar sekali, dimana masyarakat berbondong-bondong untuk mengarti. Bahkan dari sore kita sudah tutup artian karna sudah sampai sekitar 80 orang, yang belum masukan sampah plastiknya,” ungkapnya.
Untuk menggunakan fasilitas ATM sampah, pengunjung hanya perlu mengunduh aplikasi Plastic Pay dan melakukan registrasi. Tahap selanjutnya, botol plastik bekas dimasukkan ke dalam mesin RVM.
Tak hanya berhenti pada penukaran poin, seluruh botol yang terkumpul kemudian masuk ke proses daur ulang sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Pengolahan dilakukan oleh PT Inocycle Technology Group Tbk menjadi bahan baru yang lebih bermanfaat.
Prosesnya dimulai dari pencucian, pencacahan menjadi serpihan (flake), lalu dilelehkan menjadi serat poliester. Material tersebut kemudian diolah menjadi dacron hingga kain felt.
“Kain felt inilah yang kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti backpack, totebag, dan lainnya sesuai kebutuhan,” tambahnya.
Produk akhir dari proses tersebut tidak hanya bernilai guna, tetapi juga melibatkan pelaku UMKM, termasuk kelompok disabilitas dan mitra produksi di Bali. Kolaborasi ini membuka peluang ekonomi sekaligus memperpanjang siklus hidup plastik.
Kehadiran “ATM sampah” dalam momentum HUT Sultra ke-62 menunjukkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah. Selain membantu mengurangi sampah plastik, skema insentif yang ditawarkan terbukti mampu mendorong partisipasi masyarakat secara masif.
Laporan : Ika Astuti





