BERITA TERKINIEKOBISMETRO

BI : Kemarau Picu Perlambatan Sektor Usaha Pertanian di Sultra

×

BI : Kemarau Picu Perlambatan Sektor Usaha Pertanian di Sultra

Sebarkan artikel ini
Pimpinan BI Sultra, Suharman Tabrani (Tengah)

SULTRABERITA.ID, KENDARI – Pada triwulan III 2019, perekonomian Sulawesi Tenggara (Sulawesi Tenggara) mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,2% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,0% (yoy). Dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,3% (yoy), ekonomi Sulawesi Tenggara mengalami moderasi pertumbuhan sejalan dengan penurunan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode laporan.

Dari sisi penawaran, moderasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara disebabkan oleh perlambatan yang terjadi pada beberapa lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.

Namun dampak perlambatan pertumbuhan pada dua lapangan usaha utama tersebut tertahan oleh adanya peningkatan laju pertumbuhan pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha konstruksi. Perlambatan yang terjadi pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan di Sulawesi Tenggara disebabkan oleh kondisi cuaca selama triwulan laporan.

Kemarau yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya berdampak pada penurunan produksi pertanian. Sedangkan di subsektor perikanan, rata-rata gelombang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu juga menyebabkan terbatasnya hasil tangkapan ikan.

Penurunan produksi di kedua subsektor tersebut juga memberikan dampak lanjutan terhadap kinerja lapangan usaha lain. Lapangan usaha industri pengolahan yang didominasi oleh industri makanan dan minuman mengalami penurunan karena berkurangnya bahan baku. Selain itu, moderasi pada lapangan usaha industri pengolahan juga disebabkan oleh based effect yaitu tingginya pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  AHY Disambut Anies Baswedan Nonton Formula E di Sirkuit Ancol

Perlambatan pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, serta lapangan usaha industri pengolahan turut berdampak pada penurunan kinerja lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Faktor pendorong lainnya yakni telah usainya momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang berlangsung pada periode sebelumnya.

BACA JUGA :

Di tengah kondisi menurunnya kinerja beberapa lapangan usaha, akselerasi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara tetap berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini didukung oleh meningkatnya kinerja pertambangan nikel untuk memenuhi kuota ekspor dan untuk memenuhi permintaan dari smelter di Sulawesi Tenggara. Sementara itu akselerasi pada lapangan usaha konstruksi didorong oleh kondisi cuaca yang kondusif turut memberikan dampak positif pada kinerja kedua lapangan usaha tersebut.

Dari sisi permintaan, moderasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara disebabkan oleh perlambatan yang terjadi pada konsumsi pemerintah. Perlambatan lebih jauh dapat ditahan oleh akselerasi kinerja investasi dan terjaganya konsumsi rumah tangga. Setelah pada triwulan II 2019 mengalami akselerasi, serapan konsumsi pemerintah pada periode ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Telah usainya penyelenggaraan Pemilu pada triwulan II menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya perlambatan konsumsi pemerintah. Namun perlambatan pada konsumsi pemerintah tersebut dapat tertahan oleh terakselerasinya kinerja investasi yang didukung oleh kembali optimalnya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta setelah terkendala curah hujan yang sangat tinggi pada periode sebelumnya.

Baca Juga :  Polisi Memastikan Pergantian Pelat Nomor Putih, Gratis!

Selain itu, terjaganya konsumsi rumah tangga yang didukung oleh masih terjaganya optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian saat ini dan periode mendatang mampu menahan perlambatan perekonomian Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2019.

Secara umum struktur perekonomian Sulawesi Tenggara masih belum mengalami perubahan yang signifikan dan masih didominasi lapangan usaha primer. Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan serta lapangan usaha pertambangan dan penggalian masih mendominasi perekonomian Sulawesi Tenggara dengan pangsa masing-masing sebesar 22,8% dan 22,0% dari total Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, lapangan usaha konstruksi, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran dan lapangan usaha industri pengolahan tetap memiliki peran yang cukup tinggi dengan pangsa masing-masing sebesar 13,9%, 12,7% dan 6,3%.

Pada periode mendatang, perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan akan mengalami peningkatan laju pertumbuhan. Dari sisi penawaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi akan didukung oleh akselerasi kinerja hampir seluruh lapangan usaha utama kecuali lapangan usaha pertambangan.

Akselerasi pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan diperkirakan disebabkan oleh peningkatan produksi perikanan seiring dengan kondisi gelombang yang lebih kondusif serta peningkatan produksi hasil pertanian karena dukungan cuaca pada masa panen.

Baca Juga :  Selain Mengonsumsi Makanan Sehat, Berikut 3 Cara Menjaga Imunitas

Peningkatan produksi pada lapangan usaha tersebut diproyeksikan akan meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk mendorong kinerja lapangan usaha industri pengolahan makanan dan minuman. Peningkatan produksi pada smelter di Sulawesi Tenggara juga diperkirakan akan turut mendorong peningkatan kinerja lapangan usaha industri pengolahan.

Target penyelesaian pembangunan Jembatan Teluk Kendari dan dimulainya pekerjaan lapangan pada 3 mega proyek yang diinisiasi pada triwulan sebelumnya akan mendorong kinerja lapangan usaha konstruksi. Kinerja pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran juga akan terakselerasi sejalan dengan penyelenggaraan beberapa event besar di Sulawesi Tenggara serta HBKN dan libur akhir tahun.

Di sisi permintaan, akselerasi perekonomian Sulawesi Tenggara diperkirakan akan bersumber dari peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi. Berlangsungnya beberapa event besar serta HKBN dan libur akhir tahun diperkirakan dapat menjadi stimulus dan mendorong peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga dan pemerintah.

Selain itu, memasukinya tahap penyelesaian atas proyek Jembatan Teluk Kendari dan masih berlangsungnya pembangunan beberapa proyek seperti 3 mega proyek pemerintah provinsi dan berlangsungnya pembangunan smelter oleh swasta diperkirakan mampu mendorong peningkatan kinerja investasi pada periode laporan.

Dalam upaya untuk berkontribusi nyata mengendalikan inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi dan menekan current account defisit, Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah (baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota) dan pihak terkait akan terus mendorong peningkatan produksi dan kapasitas sektor unggulan Sulawesi Tenggara pada bidang pertanian, perikanan dan komoditas potensial ekspor.

Rls

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x