LAJUR.CO, KENDARI – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kerap identik dengan kebaya, sanggul, dan nuansa tradisional dalam berbagai perayaan. Namun sejatinya, Hari Kartini menyimpan nilai-nilai perjuangan perempuan yakni kesetaraan, keberanian, dan kesempatan mengambil peran.
Nilai-nilai itu tercermin dalam perjalanan Lydiana Nono, finalis Putri Indonesia 2025 asal Sulawesi Tenggara. Bagi Lydiana, semangat Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi yang terus hidup dalam diri perempuan masa kini.
Ia meyakini bahwa perempuan memiliki ruang luas untuk bertumbuh dan berdaya tanpa batas. Keyakinan itu juga terwujud saat dirinya berhasil meraih predikat ‘Unique Face’ dalam ajang tersebut.

“Kalau aku pribadi memaknai Hari Kartini bukan sekadar peringatan sejarah, tapi sebagai pengingat bahwa perempuan punya ruang untuk terus bertumbuh dan berdaya,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurut mahasiswi Universitas Bakrie Jakarta ini, semangat Kartini tetap relevan hingga sekarang. Terutama dalam hal keberanian untuk meraih mimpi, menyuarakan aspirasi, dan mengambil peran di tengah perubahan zaman.
“Semangat Kartini itu menurutku masih sangat relevan tentang keberanian untuk bermimpi, bersuara, dan mengambil peran, tanpa harus kehilangan jati diri,” lanjutnya.
Ia juga menilai bahwa tantangan perempuan saat ini memang berbeda dibandingkan masa lalu. Namun, kondisi tersebut justru menjadi dorongan agar perempuan semakin siap menghadapi peluang sekaligus memberi dampak positif di sekitarnya.
Lydiana menjadikan Hari Kartini sebagai momentum refleksi sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Hal ini sejalan dengan kiprahnya di dunia modeling dan seni peran, termasuk melalui perannya dalam film “Kang Mak”.
Ia juga memanfaatkan kesempatan di ajang Putri Indonesia untuk mempromosikan potensi Sulawesi Tenggara yang dikenal dengan julukan Bumi Anoa. Tak hanya itu, ia mengangkat keberagaman standar kecantikan yang tidak dapat dibatasi oleh satu definisi saja. Red




