BERITA TERKINIKESEHATANNASIONAL

Pemerintah Terbitkan SKB Kesehatan Jiwa Anak untuk Cegah Kasus Pengakhiran Hidup

×

Pemerintah Terbitkan SKB Kesehatan Jiwa Anak untuk Cegah Kasus Pengakhiran Hidup

Sebarkan artikel ini
Pemerintah kesehatan mental anak
Ilustrasi. Foto : Ist

LAJUR.CO, KENDARI – Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang ditandatangani sembilan menteri usai maraknya kasus anak yang mengakhiri hidup di Indonesia.

Sembilan menteri yang meneken SKB ini adalah Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

“Kami menandatangani dan menyepakati SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ini adalah momen penting karena isu tekait kesehatan jiwa anak tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi dalam keterangan pers, Sabtu (7/3/2026).

Baca Juga :  Curiga Anak Terjerat 'Child Grooming'? Ini Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai

Arifah menyoroti hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, yang salah satu poin utamanya adalah masalah kesehatan jiwa.

“Berdasarkan survei tersebut, ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa,” kata Arifah.

Dari angka tersebut juga, sebanyak 62,19 persen di antaranya mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual, dalam 12 bulan terakhir.
“Survei ini menunjukkan ketika seorang anak pernah mengalami kekerasan, baik kekerasan seksual, emosional, maupun fisik, hal tersebut berkontribusi besar terhadap munculnya masalah kesehatan jiwa pada anak,” tuturnya.

Baca Juga :  Rekomendasi Tanaman Rambat Menambah Keasrian Rumah, Berkembang Baik di Tempat Minim Cahaya

Sementara dari sisi kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa konflik keluarga menjadi salah satu faktor utama yang memicu masalah kesehatan jiwa pada anak.

Berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup.

“Pertama, konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen,” kata dia.

Selain itu, data Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Baca Juga :  Mahasiswa Geologi UHO yang Tersesat di Perkebunan Sawit Konawe Ditemukan Selamat

Skrining pada anak usia 7–17 tahun menunjukkan 4,8 persen mengalami gejala depresi dan 4,4 persen mengalami gejala kecemasan.

Karena itu, Budi menggarisbawahi mengenai pentingnya pengasuhan positif dan edukasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).

“Kementerian Kesehatan akan mulai memberikan pendidikan P3LP. Kalau luka fisik, misalnya kalau sobek menggunakan obat merah, dan lain sebagainya.

Jadi, kita memberikan pengajaran juga P3K untuk luka psikologis, bukan luka fisik, istilahnya P3LP,” ucap Budi.

Budi menuturkan, dari sisi kuratif dan rehabilitatif, Kemenkes akan menugaskan tenaga kesehatan jiwa di semua fasilitas kesehatan mulai tahun ini.

Sumber: Kompas.com

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x