LAJUR.CO, KENDARI – Konektivitas menuju Wakatobi, destinasi wisata bahari kelas dunia di Sulawesi Tenggara (Sultra) kini semakin mudah. Beroperasinya penerbangan langsung rute Bali (Denpasar)-Wakatobi menggunakan maskapai TransNusa menjadi angin segar bagi sektor pariwisata, sekaligus membuka peluang meningkatnya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Bumi Anoa.
Penerbangan jet komersial tersebut resmi beroperasi mulai 16 Juli 2026. TransNusa dijadwalkan melayani rute Bali (DPS)-Wakatobi (WNI) pulang pergi setiap Senin, Kamis, dan Minggu. Kehadiran rute baru ini menjadi salah satu upaya memperkuat akses menuju Wakatobi yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi menyelam terbaik di dunia.
Wakil Gubernur Sultra Dr Hugua, menyambut positif beroperasinya penerbangan langsung tersebut. Menurutnya, peningkatan aksesibilitas merupakan faktor penting untuk mendorong pertumbuhan industri pariwisata di Sulawesi Tenggara.
“Pada 16 Juli 2026 telah dibuka penerbangan menggunakan pesawat jet TransNusa untuk rute Wakatobi-Bali pulang pergi. Ini menjadi langkah besar karena selama ini tantangan utama pengembangan pariwisata Wakatobi adalah akses transportasi,” kata Hugua kepada Lajur.co, Sabtu (18/7/2026).
Hugua menuturkan, Wakatobi memiliki modal besar untuk menjadi magnet wisata dunia. Selain berstatus sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Wakatobi juga merupakan Taman Nasional dan Cagar Biosfer UNESCO yang menyimpan kekayaan biodiversitas laut kelas dunia.
Ia menyebut, kawasan yang berada di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia itu memiliki hampir seluruh jenis terumbu karang yang ada di dunia.
“Dari sekitar 750 sampai 800 jenis terumbu karang di dunia, semuanya bisa ditemukan di Wakatobi. Belum lagi budaya maritimnya, sejarah Kesultanan Buton sejak abad ke-15, hingga kekayaan alam bawah lautnya. Karena itu Wakatobi bukan lagi destinasi wisata kelas lokal, tetapi sudah menjadi destinasi kelas dunia,” ujarnya.
Dengan dibukanya penerbangan langsung dari Bali, wisatawan mancanegara yang selama ini menjadikan Pulau Dewata sebagai pintu masuk utama ke Indonesia kini memiliki akses yang lebih praktis menuju Wakatobi tanpa harus melalui jalur penerbangan yang panjang.
“Kalau wisatawan dari luar negeri datang ke Bali, sekarang mereka bisa langsung melanjutkan penerbangan ke Wakatobi. Ini tentu jauh lebih mudah dibanding sebelumnya,” katanya.
Selain melalui Bali, akses menuju Wakatobi juga tersedia melalui transit Kota Kendari. Hugua menjelaskan, wisatawan dapat terbang dari Jakarta menuju Kendari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Wakatobi menggunakan maskapai FlyJaya.
Dengan demikian, saat ini terdapat dua pilihan jalur penerbangan menuju Wakatobi, baik melalui Bali maupun melalui ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Jadi sekarang Wakatobi bisa dijangkau dari dua arah. Ini memberi fleksibilitas bagi wisatawan dalam menentukan perjalanan,” ucapnya.
Praktis penerbangan menuju Wakatobi kini dilayani sekitar lima kali dalam sepekan melalui kombinasi kedua rute tersebut. Untuk jalur Kendari-Wakatobi, FlyJaya menggunakan pesawat ATR berkapasitas sekitar 75 penumpang, sedangkan TransNusa mengoperasikan pesawat jet dengan kapasitas sekitar 95 penumpang pada rute Bali-Wakatobi.
Menurut Hugua, pembukaan rute Bali-Wakatobi juga menjawab persoalan connecting flight yang selama ini menjadi keluhan wisatawan.
“Selama ini kendala utamanya adalah penerbangan lanjutan yang sering tidak tersambung. Sekarang jadwalnya jauh lebih mudah diatur sehingga wisatawan lebih leluasa merencanakan perjalanan,” jelasnya.
Ia optimistis peningkatan konektivitas tersebut akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, usaha jasa perjalanan, hingga sektor ekonomi kreatif yang menopang industri pariwisata.
Lebih jauh, Hugua meyakini Wakatobi akan menjadi lokomotif pengembangan pariwisata Sulawesi Tenggara. Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, perkembangan Wakatobi diproyeksikan memberi efek berganda bagi destinasi wisata lain yang tersebar di 17 kabupaten dan kota.
Menurutnya, peluang tersebut harus dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem pariwisata yang saling terhubung.
Ia menyebut sejumlah destinasi yang dapat ikut terdongkrak, di antaranya Keraton Buton melalui konsep Wakatobi Beyond Seven Wonders, Liang Kabori di Kabupaten Muna, Rawa Opa, Pulau Padamarang di Kolaka Utara, Labengki di Konawe Utara, Desa Wisata Sani-Sani, Bandara Sangia Ni Bandera, Kota Kendari, hingga kawasan mangrove di Muna yang dikenal sebagai salah satu kawasan mangrove tunggal terbesar di Asia Tenggara.
“Pengembangan Wakatobi akan menjadi motor penggerak pariwisata Sulawesi Tenggara. Karena itu saya mengajak seluruh pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan momentum ini agar seluruh destinasi di Sultra ikut berkembang,” tutup Hugua. Adm



