BERITA TERKINIOPINI

Urgensi Sosialisasi Finansial ke Generasi Milenial di Kota Kendari

×

Urgensi Sosialisasi Finansial ke Generasi Milenial di Kota Kendari

Sebarkan artikel ini

Penulis
Nurhaeni
(Mahasiswa Magister Manajemen FEB Universitas Nasional, Jakarta)

Dalam beberapa tahun terakhir, ramai dibahas maraknya tawaran investasi yang tidak logis, seperti mendapat profit dalam waktu singkat. Di tengah era globalisasi dimana perekonomian semakin mengalami pertumbuhan dan peningkatan, mayoritas masyarakat termasuk generasi milenial mengelola keuangannya untuk kepentingan jangka panjang.

Kemudahan yang ditawarkan platform investasi digital mendorong generasi milenial tertarik untuk mengambil keputusan berinvestasi. Ajakan berinvestasi ini banyak beredar di media sosial dan kerap diterima secara serta merta oleh kelompok sasarannya. Banjirnya informasi tersebut perlu disikapi generasi milenial dengan bijak, agar tidak mudah tergiur pada tawaran investasi bodong. Dikutip dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 30-40 persen korban investasi bodong adalah milenial dan Gen Z. Kaum milenial yang terjebak investasi bodong ini umumnya karena ikut-ikutan, ingin cepat kaya atau biasa disebut sebagai generasi instan.

Risiko munculnya penipuan investasi bodong di kalangan generasi milenial memang cukup tinggi. Hal ini tidak terlepas dari tinggi atau rendahnya literasi keuangan dan minimnya sosialisasi finansial. Menurut Reserve Bank of India dalam National Strategy for Financial Education 2020 – 2025, literasi bidang keuangan sebagai kombinasi dari awareness, pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku tentang keuangan dimana diperlukan untuk membuat pengambilan keputusan keuangan yang baik dan berdampak pada pencapaian kesejahteraan keuangan individu. Individu yang puas secara finansial sering kali menunjukkan tingkat kenikmatan, kesejahteraan, dan merasa bebas dari tekanan finansial.

Berdasarkan Survei Nasional, Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen, lebih meningkat dibandingkan tahun 2019 sebesar 38,03 persen. Sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 85,10 persen meningkat dibanding tahun 2019 yaitu 76,19 persen. Hal ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat literasi dan tingkat inklusi semakin menurun, dari 38,16 persen di tahun 2019 menjadi 35,42 persen di tahun 2022. Kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan ini menjadi salah satu penyebab masih adanya korban pinjol ilegal atau investasi bodong.

Baca Juga :  Kemeriahan HUT Koltim: Ditutup Band Gigi, Dihadiri Eks Gubernur, Anggota DPR RI hingga Bupati di Sultra

Bila dilihat berdasarkan strata wilayah, untuk wilayah perkotaan tingkat literasi dan inklusi keuangan mencapai 41,41% dan 83,60%. Sementara tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat perdesaan adalah 34,53% dan 68,49%. Hal ini menunjukkan bahwa baik dari sisi pemahaman maupun penggunaan produk/layanan keuangan, masyarakat yang berada di wilayah perdesaan masih cukup tertinggal dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah kota. Hasil survei OJK juga menunjukkan bahwa berdasarkan gender, tingkat literasi dan inklusi keuangan laki-laki sebesar 39,94% dan 77,24%, relatif lebih tinggi dibanding perempuan sebesar 36,13% dan 75,15%.

Banyak alternatif untuk membangun resiliensi generasi milenial dalam menghadapi ranjau – ranjau investasi keuangan digital. Namun yang menjadi arus utama adalah peningkatan literasi keuangan dan sosialisasi finansial. Literasi keuangan juga berkaitan erat dengan tingkat kepuasan keuangan seseorang. Sebuah studi menunjukkan bahwa peningkatan literasi finansial berpengaruh positif terhadap kepuasan keuangan. Pemahaman dasar tentang pengelolaan keuangan perlu dipahami oleh milenial. Hal ini bertujuan agar para generasi milenial dapat mengelola keuangannya, menghindari praktik investasi yang tidak rasional atau mempunyai risiko kerugian. Tingkat literasi keuangan masyarakat memiliki korelasi positif dengan pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dari studi yang dilakukan pada September 2023 terhadap 240 responden di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) diperoleh kesimpulan bahwa kontribusi sosialisasi finansial terhadap kepuasan keuangan masih sangat kecil. Secara umum Sosialisasi Finansial kepada generasi milenial termasuk rendah. Berbeda dengan literasi keuangan, menjadi variabel utama yang mempengaruhi kepuasan keuangan. Namun penilaian terendah oleh responden tentang literasi keuangan terletak pada pernyataan compound interest dan inflation. Oleh karena itu generasi milenial diharapkan dapat meningkatkan pemahamannya terkait compound interest, dan inflation.

Baca Juga :  Mobilisasi Masyarakat Jelang Pemilu Tinggi, Pertamina Bentuk Satgas Pantau Ketersediaan BBM

Survey serupa yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development/International Network on Financial Education (OECD/INFE) terkait literasi keuangan yang diukur berdasarkan tiga komponen yaitu pengetahuan (financial knowledge), perilaku (financial behaviour), dan sikap (financial attitude), rata-rata skor literasi keuangan semua negara yang berpartisipasi pada survei ini sebesar 12,7 sedangkan rata-rata skor literasi keuangan dari negara anggota OECD sebesar 13,0. Indonesia menempati posisi ke-6 dari 26 negara yang berpartisipasi dalam survei ini dengan skor pengetahuan sebesar 3,7, perilaku sebesar 6,3, dan sikap 3,3 sehingga skor literasi keuangannya sebesar 13,3.

Jumlah generasi milenial di Kota Kendari berdasarkan Hasil Survei Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 adalah 49.713 jenis kelamin laki laki, dan 49.531 jenis kelamin perempuan. Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan (ILK) di Provinsi Sultra pada tahun 2019 sebesar 36,75 persen dan indeks inklusi keuangan (IIK) sebesar 75,07 persen. Artinya 75,07 persen penduduk Sultra telah mendapatkan akses terhadap sektor jasa keuangan. Sedang tahun 2022 tercatat literasi keuangan mengalami penurunan sebesar 31,95 persen. OJK Sultra harus terus meningkatkan inklusi keuangan dan literasi keuangan bagi masyarakat agar mencapai target nasional 90 persen inklusi dan 50 persen literasi di tahun 2024.

Berdasarkan klasifikasi pekerjaan, persentase literasi keuangan pelajar/mahasiswa/pemuda sebesar 31,69%. Sebaran kegiatan literasi dan Edukasi keuangan tahun 2018 – 2020, angka kegiatan di Sultra hanya 396 kegiatan. Sasaran kegiatan literasi dan Edukasi keuangan tahun 2018 – 2020, jumlah kegiatan kepada mahasiswa adalah 857 kegiatan, sedangkan kepada pemuda hanya 59. Digitalisasi kegiatan edukasi keuangan memegang peran penting dalam menjangkau wilayah serta masyarakat yang lebih luas dalam meningkatkan literasi keuangan. Pelaksanaan kegiatan literasi dan edukasi keuangan perlu ditingkatkan secara merata ke seluruh wilayah khususnya di wilayah yang indeks literasinya masih rendah. Sementara berdasarkan data indeks literasi keuangan berdasarkan provinsi, Sulawesi Tenggara menjadi satu dari 21 provinsi di Indonesia yang tingkat literasinya berada di bawah indeks literasi keuangan nasional (SNLKI 2021 – 2025).

Baca Juga :  Telkom & Indosat Ooredoo Hutchison Gaet Kemitraan Strategis Antara NeutraDC dan BDx Indonesia

Oleh karena itu, penting untuk dilakukan sosialisasi finansial baik melalui media sosial dan televisi, serta platform lainnya sehingga dapat mempercepat transfer informasi terkait produk keuangan kepada para generasi milenial. Generasi milenial juga dapat lebih fokus memperbanyak sumber informasi soal produk dan layanan keuangan yang akan mempengaruhi keputusannya dalam mengelola pendapatan. Jika generasi milenial memiliki pengetahuan keuangan yang tinggi, dan sosialisasi keuangan yang baik maka akan menciptakan perilaku pengelolaan keuangan yang bijak dan efektif sehingga akan meningkatkan kepuasan keuangan.

Pemerintah setempat dan OJK harus meningkatkan intensitas edukasi berinvestasi. Edukasi tentang sikap risiko dalam pengelolaan keuangan juga sangat penting untuk diberikan kepada generasi milenial. Memahami risiko akan berguna untuk mengambil langkah – langkah dalam melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan keuangan digital di era teknologi yang terus berkembang. Bila perlu, edukasi finansial ditetapkan melalui legislasi, dalam artian literasi keuangan masuk ke dalam kurikulum pendidikan.



0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x