LAJUR.CO, KENDARI – Menjalani ibadah Ramadan jauh dari kampung halaman menjadi pengalaman tersendiri bagi Heni Ardagarini, diaspora asal Sulawesi Tenggara (Sultra), yang kini bekerja di Oman.
Heni Ardagarini sudah hampir dua tahun menetap di negara tersebut. Perempuan asal Kota Kendari itu kini tinggal di Kota Bahla dan bekerja sebagai pekerja kontrak di bidang perdagangan.
Selama di Oman, ia tinggal bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah asrama yang tidak jauh dari kantor.

“Sudah hampir dua tahun saya di sini. Saya tinggal bersama rekan-rekan sekantor di asrama yang tidak jauh dari lingkup kantor,” cerita Heni Ardagarini, Jumat (13/3/2026).
Menjalani puasa di negara dengan iklim gurun tentu memberikan pengalaman yang berbeda baginya. Selain jauh dari keluarga, kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Heni, suhu siang hari di Oman bisa mencapai sekitar 42 derajat Celsius. Meski begitu, ritme aktivitas selama Ramadan tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa.
“Kalau siang hari suhunya cukup ekstrem, kadang bisa sampai 42 derajat. Memang cukup menantang, tapi secara waktu kurang lebih sama saja,” katanya.
Di Oman sendiri, Heni mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah diaspora asal Sultra yang berada di negara tersebut. Di tempat kerjanya, ia bahkan menjadi satu-satunya orang dari Bumi Anoa.
Namun ia kerap bertemu sesama warga Indonesia di tempat-tempat umum, seperti pusat perbelanjaan di Muscat.
“Kalau orang Indonesia di Oman cukup banyak. Biasanya saya temui di mall atau tempat umum di Muscat,” jelasnya.
Meski aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa, Heni dan diaspora lainnya tetap mendapat imbauan khusus dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Oman. Mereka bahkan diberi hotline khusus agar selalu waspada dan segera melapor jika terjadi keadaan darurat.
Imbauan tersebut dikeluarkan KBRI setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari lalu.
Belakangan ini kawasan Timur Tengah, termasuk Oman, menjadi sorotan global. Ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut bahkan berdampak pada beberapa wilayah di negara teluk.
Beberapa wilayah yang dilaporkan terdampak antara lain kawasan Al-Wusta (Port of Duqm) dan wilayah Salalah. Serangan di wilayah tersebut menyebabkan tangki bahan bakar terbakar serta sejumlah pekerja mengalami luka-luka.
“Kami sudah mendapat imbauan dari KBRI agar lebih berhati-hati. Kami juga diberikan hotline khusus jika terjadi keadaan darurat,” kata Heni.
Selain itu, kepolisian Kesultanan Oman juga meminta masyarakat untuk segera melaporkan jika melihat drone yang melintas di wilayah tertentu.
Meski ada rasa khawatir sebagai perantau yang jauh dari keluarga, Heni mengatakan kondisi di kota tempat ia tinggal masih aman dan aktivitas warga tetap berjalan seperti biasa.
“Rasa khawatir tentu ada karena kami jauh dari keluarga. Tapi kami tidak panik karena keamanan di sini juga cukup baik, terutama di ruang-ruang publik,” ujarnya.
Ia berharap situasi konflik di kawasan Timur Tengah dapat segera mereda sehingga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman dan tenang.
Heni juga menitipkan pesan kepada keluarganya di Kendari agar tidak terlalu khawatir dengan kondisi para diaspora di Oman.
“Kami di sini insya Allah masih aman dan kondusif. Mohon doa dari keluarga di kampung halaman supaya kami semua tetap selamat dan suatu saat bisa pulang dengan baik,” tutupnya. Red





