LAJUR.CO, KENDARI – PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatat kinerja keuangan yang kuat pada triwulan pertama 2026 di tengah penurunan produksi dan pengiriman nikel matte. Perusahaan tetap mampu menjaga performa berkat kenaikan harga jual, disiplin pengelolaan biaya, serta efisiensi operasional yang terus ditingkatkan.
Sepanjang kuartal I 2026, produksi nikel matte tercatat sebesar 13.620 metrik ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 17.052 ton maupun periode yang sama tahun lalu sebesar 17.027 ton. Penurunan ini sejalan dengan strategi perusahaan yang tengah melakukan optimalisasi pemeliharaan, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester pertama 2026, serta penyesuaian akibat persetujuan RKAB 2026. Pengiriman nikel matte ikut terkoreksi sekitar 25 persen secara triwulanan. Meski begitu, PT Vale tetap optimistis dapat mencapai target produksi tahunan sebesar 67.645 ton, seiring peluang kenaikan harga nikel global.
Tahun 2026 menjadi fase penting bagi ekspansi bisnis PT Vale. Perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok tambang utama secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Langkah ini membuka peluang peningkatan volume produksi di masing-masing wilayah. Pada awal tahun, PT Vale juga mencatat penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa, yang memperluas portofolio komersial sekaligus mendorong diversifikasi sumber pendapatan.
Dari sisi penjualan bijih, volume saprolit di Bahodopi mencapai 886.094 wet metric ton (wmt), sementara Pomalaa mencatat 88.983 wmt limonit. Angka tersebut menunjukkan perkembangan operasional di kedua blok, terutama Pomalaa yang mulai berkontribusi terhadap bisnis perusahaan.
Kinerja keuangan PT Vale turut terdongkrak oleh membaiknya harga nikel dunia. Harga rata-rata nikel matte tercatat sebesar AS$14.213 per ton, naik 15 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini mendorong pendapatan perusahaan mencapai AS$252,7 juta. Tahun ini juga menjadi periode penuh pertama penerapan tingkat pembayaran 82 persen untuk penjualan nikel matte, yang memperkuat struktur pendapatan dan memberikan visibilitas margin lebih baik.
Di sisi biaya, perusahaan mampu menjaga daya saing. Biaya tunai per unit nikel matte berada di level AS$10.382 per ton, sedikit meningkat dari triwulan sebelumnya akibat kenaikan harga input komoditas. Untuk bisnis bijih nikel, biaya tetap stabil, yakni sekitar AS$21 per ton di Bahodopi dan AS$13 per ton di Pomalaa, termasuk komponen royalti dan logistik. Ke depan, peningkatan volume penjualan dari Pomalaa diperkirakan akan mendorong efisiensi melalui skala ekonomi yang lebih besar.
Pertumbuhan kinerja juga tercermin dari lonjakan indikator profitabilitas. EBITDA tercatat sebesar AS$80,1 juta, meningkat 29 persen secara triwulanan. Laba bersih melonjak 85 persen menjadi AS$43,6 juta. Peningkatan ini dipicu oleh kombinasi harga jual yang lebih tinggi dan efisiensi operasional yang berkelanjutan.
Sementara itu, konsumsi energi mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Penggunaan High Sulphur Fuel Oil (HSFO) tercatat 267.927 barel dengan harga rata-rata AS$76,65 per barel. Konsumsi diesel sebesar 14.142 kiloliter dengan harga rata-rata AS$0,82 per liter. Adapun konsumsi batu bara mencapai 90.378 ton dengan harga rata-rata sekitar AS$127,97 per ton. Penurunan konsumsi ini sejalan dengan aktivitas pemeliharaan Furnace 3. Efisiensi pengadaan turut menekan harga rata-rata energi, mendukung strategi pengendalian biaya dan pengurangan emisi.
Dalam aspek pembiayaan, PT Vale menorehkan pencapaian penting melalui penandatanganan Sustainability-Linked Loan senilai AS$750 juta pada 23 April 2026. Fasilitas pinjaman sindikasi berbasis ESG ini menjadi yang pertama di industri pertambangan Asia Tenggara, memperkuat posisi perusahaan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan dalam strategi keuangan.
Sepanjang kuartal pertama, belanja modal yang telah direalisasikan mencapai sekitar AS$139 juta untuk mendukung proyek strategis dan operasional berkelanjutan. Posisi kas dan setara kas tercatat AS$220,1 juta per akhir Maret 2026, turun dari AS$376,4 juta pada akhir 2025, mencerminkan penggunaan dana untuk investasi. Meski demikian, perusahaan menegaskan komitmen menjaga likuiditas serta disiplin alokasi modal guna menopang pertumbuhan jangka panjang.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, menyatakan perusahaan tetap mampu menjaga margin positif di tengah tantangan operasional. Ia menambahkan, dimulainya penjualan limonit dari Pomalaa menjadi langkah strategis dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan bisnis ke depan.
Secara keseluruhan, PT Vale menunjukkan fondasi kinerja yang solid pada awal 2026. Dengan dukungan harga nikel yang cenderung meningkat, ekspansi tambang, serta efisiensi berkelanjutan, perusahaan berada dalam posisi yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan sepanjang tahun. Rls





