LAJUR.CO, KENDARI – Keramahan tuan rumah penyelenggaraan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG-ASPAC) langsung mencuri perhatian delegasi internasional yang tiba di Kota Kendari untuk menghadiri forum pemimpin Asia Pasifik dipusatkan di Kota Kendari, Ibu Kota Sulawesi Tenggara (Sultra).
Delegasi asal Singapura menjabat Strategic Advisor and Mayors Forum (AGMF) UCLG-ASPAC, Lee Yoong Yoong, mengaku terkesan sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota yang digawangi Siska Karina Imran. Perjalanan udara yang cukup panjang dari Singapura dan kedatangan pada malam hari langsung terbayar oleh sambutan hangat dari pemerintah daerah setempat.
Mr Yoong tiba di Bandara Haluoleo, Selasa (5/5/2026). Begitu landing, ia disambut dengan prosesi adat berupa pengalungan bunga. Momen penyambutan semakin berkesan ketika Mr Yoong menerima tambahan ornamen khas Sultra, Kampurui, penutup kepala tradisional yang dikenakan sebagai bentuk penghormatan bagi tamu.
Ia dengan bangga memperlihatkan beberapa pose kala mengenakan tutup kepala khas masyarakat lokal Sultra, kampurui yang diabadikan di layar hanphone miliknya.
Usai prosesi penyambutan, agenda berlanjut dengan jamuan makan malam bersama Wakil Gubernur Sultra, Dr Hugua. Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC, Bernadia Irawati Tjandradewi, delegasi Daegu Metropolitan City Andra Kwon, serta sejumlah delegasi lain yang lebih dulu mendarat di Kota Kendari.
Meski belum sempat menikmati panorama kota lantaran tiba malam hari, Yoong mendapat kesan awal yang memikat. Terutama dari sisi sambutan tim panitia saat landing di bandara hingga sajian kuliner lokal. Pengalaman tersebut membuatnya ingin kembali berkunjung ke Kendari.
“I have never even, to be honest, I have never even heard of Kendari until I come. But now that I’m here, I will make sure I will come back again, I promise (Saya bahkan belum pernah, jujur saja, belum pernah sama sekali mendengar tentang Kendari sampai saya datang ke sini. Tapi sekarang setelah saya di sini, saya akan memastikan untuk datang kembali lagi, saya janji),” ujar Mr Yoong.
Di tengah kesan positif tersebut, Lee turut menyoroti pentingnya konektivitas transportasi bagi kota-kota di Asia Tenggara. Khususnya daerah berkembang seperti Kendari yang dinilai yang relatif masih terjangkau meski akses penerbangan lumayan panjang.
“I think that for small cities in South East Asia, the connectivity, the flight is sometimes difficult. But for Kendari, I think it’s still reachable. It’s connected to Makassar, or to Surabaya, so it’s easy. (Saya pikir untuk kota-kota kecil di Asia Tenggara, konektivitas terutama penerbangan terkadang sulit. Tapi untuk Kendari, menurut saya masih cukup mudah dijangkau. Kota ini terhubung ke Makassar atau Surabaya, jadi relatif mudah),” ungkapnya.
Mr Lee Yoong Yoong diketahui menjabat Strategic Advisor and Mayors Forum (AGMF) UCLG-ASPAC. Sebagai penasihat strategis dalam forum tersebut, Lee menekankan peran penting pemerintah daerah dalam memperkuat komunitas ASEAN.
“ASEAN community building cannot be done only by the central government… Who are the ones who are close to the people? It’s the local governments, it’s the Governors, it’s the Mayors,” jelas Mr Yoong.
Bernadia menambahkan, penunjukan Kendari sebagai tuan rumah merupakan hasil keputusan pada pertemuan sebelumnya di Korea Selatan, setelah mengungguli kandidat lain dari Tiongkok.
Diplomasi dan komitmen kuat Wali Kota Kendari Siska Karina Imran diakui memberi andil besar keputusan menetapkan Kota Kendari sebagai tuan rumah forum UCLG – ASPAC 2026. Jelang persiapan, Siska Karina Imran cukup intens melakukan koordinasi lintas negara dan lembaga, termasuk pemerintah pusat demi suksenya perhelatan internasional tersebut di Kota Lulo.
Tampilnya Kota Kendari menandai simpul penting dalam diplomasi pemerintah daerah kawasan Asia Pasifik yang patut mendapat apresiasi.
Bernadia menjelaskan UCLG ASPAC merupakan bagian dari jaringan pemerintah daerah terbesar di dunia. Sekretariat regional Asia Pasifik yang berbasis di Jakarta menaungi sekitar 240 pemerintah daerah dari 154 negara. Kawasan Asia Pasifik tercatat sebagai yang terbesar karena melibatkan negara berpopulasi besar seperti Tiongkok, India, dan Indonesia.
Ia menegaskan, penyelenggaraan forum UCLG ASPAC di Kendari menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antar pemerintah daerah sekaligus menghasilkan komitmen konkret bersama.
Tahun ini, forum mengusung tema sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan yang dinilai sejalan dengan potensi Kendari sebagai kota pesisir yang berkembang pesat.
Hasil utama yang ditargetkan dari pertemuan ini adalah dokumen “Kendari Joint Action” yang akan diumumkan pada 8 Mei. Dokumen tersebut berisi komitmen bersama terkait pengembangan pariwisata berkelanjutan, community-based tourism, penguatan ekonomi lokal, hingga ketahanan terhadap perubahan iklim.
Forum UCLG-ASPAC diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai negara, termasuk kepala daerah, akademisi, dan mitra internasional seperti Tiongkok dan Turki. Agenda pembahasan turut mencakup implementasi visi ASEAN 2045 di tingkat pemerintah daerah.
Dalam rangkaian kegiatan, Kota Kendari dijadwalkan menandatangani kerja sama sister city dengan Kota Yiwu, Tiongkok. Sektor pendidikan turut dilibatkan melalui agenda pertemuan di Universitas Halu Oleo yang membahas pembangunan kota tangguh dan berkelanjutan.
Di akhir wawancara, Bernadya berpesan, kehadiran ratusan delegasi dari berbagai negara asia pasifik mesti ditangkap sebagai peluang besar bagi Kendari untuk memperkenalkan potensi daerah, termasuk produk UMKM ke kancah global. Adm






