LAJUR.CO, KENDARI – Ketika kompor modern semakin menjamur di dapur rumah tangga, tungku tradisional berbahan tanah liat ternyata masih tetap menjadi favorit sebagian masyarakat. Di Pulau Muna, alat masak sederhana ini masih terus dicari dan terbilang laris di pasaran.
Tungku tradisional pun tetap bertahan di tengah arus modernisasi perabot dapur. Bahkan, keberadaannya masih menjadi sumber rezeki bagi sebagian warga yang menekuninya.
Salah satunya La Ode Milu, warga Desa Labaha, Kabupaten Muna. Beberapa tahun terakhir, pria paruh baya ini menekuni usaha pembuatan sekaligus penjualan tungku.
Setiap hari, ia membawa dagangannya menggunakan mobil kampas, berkeliling dari pasar ke pasar di wilayah Muna dan Muna Barat. Dari hasil jualan itu, ia menggantungkan kebutuhan hidup keluarganya.
“Kalau saya kampas itu paling empat hari sudah selesai kalau 60 buah masuk,” ujar La Ode Milu kepada lajurco, Rabu (20/5/2026).
Ia mengaku penghasilan dari jualan tungku memang tidak selalu tetap. Namun, dari usaha itu dirinya tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
La Ode Milu bercerita, pembuatan tungku awalnya ia lakukan di Kabupaten Konawe Utara. Namun karena proses pengangkutan barang jadi cukup berat, ia kemudian memindahkan proses produksi ke Muna Barat.
Tepat di area perkantoran Bumi Praja Laworo, ia bersama rekannya membuat tungku sebagai mata pencaharian. Adapun bahan-bahan yang digunakan, katanya, masih didatangkan dari Kendari dan Pure, Kabupaten Muna.
Menurutnya, tungku buatannya masih banyak dicari karena kualitasnya yang kuat dan tahan lama. Hal ini membuat dagangannya tetap memiliki pembeli hingga sekarang.
Proses pembuatannya juga tidak singkat. Tanah liat sebagai bahan utama digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan material seperti abu gosok dan air khusus sebagai penguat.
Setelah proses pencetakan, tungku dijemur, dihaluskan, lalu diangin-anginkan sampai benar-benar kering. Setelah kering, tungku masuk tahap pengecatan dan diikat dengan kawat sebelum akhirnya siap digunakan.
Dalam sehari, La Ode Milu bisa menjual sekitar 10 tungku, baik di pasar maupun saat perjalanan. Jika membawa sekitar 60 buah, biasanya dalam waktu sekitar empat hari sudah habis terjual.
Harga tungku ini cukup bervariasi tergantung ukuran. Untuk ukuran jumbo dibanderol Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, sementara ukuran kecil dan menengah berkisar Rp160 ribu hingga Rp180 ribu.
Dari usaha sederhana itu, terlihat bahwa tungku tradisional masih tetap bertahan dan menjadi penopang rezeki bagi pembuatnya. Red





