LAJUR.CO, KENDARI — Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka bersama Ketua Yayasan Asmar Abadi, Arinta Nila Apsari resmi menyalurkan beasiswa Sultra Cerdas 2026 kepada 150 penerima melalui Yayasan Asmar Abadi di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sultra, Jumat (22/5/2026). Program beasiswa tersebut diberikan kepada mahasiswa terpilih hasil seleksi yang dilakukan secara terbuka dengan melibatkan tim akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO).
Besaran beasiswa yang diterima beragam. Khusus jenjang S1 Rp7,5 juta, S2 Rp15 juta dan S3 Rp30 juta. Arinta yang tak lain isteri Gubernur Sultra menyebut, yayasan berkomitmen menghadirkan proses seleksi yang adil dan inklusif agar bantuan pendidikan benar-benar diterima pihak yang membutuhkan.
Gubernur menjelaskan alasan program Beasiswa Sultra Cerdas disalurkan melalui Yayasan Asmar Abadi yang tak lain adalah yayasan pribadi ASR. Bukan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) seperti tradisi tahun lalu. Menurut dia, mekanisme penggunaan APBD harus mengikuti nomenklatur dan prosedur birokrasi yang ketat sehingga realisasi program mengalami keterlambatan.
“Kalau menggunakan anggaran APBD, dia harus sesuai dengan nomenklatur. Kalau tidak ada nomenklaturnya, tidak bisa. Karena berpotensi menjadi masalah hukum,” kata ASR.
Ia mengatakan, awalnya program Sultra Cerdas telah diumumkan sejak tahun lalu. Namun, proses realisasinya tertunda karena harus melalui tahapan panjang. Mulai dari pembentukan peraturan daerah (Perda) hingga pembahasan bersama DPRD.
“Kita sudah umumkan tahun lalu akan ada beasiswa. Tapi harus ada perda dan pembahasan di DPRD, rantai birokrasinya panjang,” ujarnya.
Karena proses dinilai terlalu lama, sementara seleksi dan penilaian mahasiswa sudah dilakukan sejak setahun lalu, ASR akhirnya memutuskan program tersebut dialihkan ke Yayasan ASR Abadi. Prosesnya jadi lebih ringkas.
“Ini sudah terlalu lama. Sudah satu tahun lalu dilakukan penilaian dan seleksi, tapi belum terealisasi. Akhirnya diambil alih oleh Yayasan ASR Abadi,” katanya.
Mantan Pangdam Hasanuddin itu menjelaskan, setelah program dialihkan ke yayasan, proses seleksi dilakukan ulang sesuai kriteria yang ditetapkan pihak yayasan dengan melibatkan tim akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO).
“Nah, karena diambil alih oleh yayasan, maka penilaiannya harus dari mereka. Maka dilakukan lagi seleksi sesuai kriterianya,” jelasnya.
Sebanyak 150 mahasiswa akhirnya ditetapkan sebagai penerima Beasiswa Sultra Cerdas 2026. Adapun besaran bantuan yang diberikan berbeda di setiap jenjang pendidikan beraga. Total Rp7,5 juta diporsikan untuk S1, Rp15 juta bagi mahasiswa S2, dan Rp30 juta untuk jenjang S3.
Arinta Nila Apsari mengatakan proses seleksi dilakukan secara terbuka dan inklusif agar bantuan pendidikan tepat sasaran.
“Yayasan berkomitmen menghadirkan seleksi yang adil dan inklusif dibantu tim akademisi dari UHO,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah indikator digunakan dalam proses seleksi, mulai dari indeks prestasi kumulatif (IPK), capaian prestasi, kesesuaian jurusan dengan kebutuhan strategis daerah, kondisi ekonomi keluarga, hingga pemerataan wilayah di Sultra.
Menurut Arinta, indikator tersebut digunakan agar penerima beasiswa benar-benar merupakan mahasiswa yang membutuhkan dan berpotensi memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
“Mohon dimanfaatkan sebaik-baiknya, jadi bagian kemajuan Sultra di masa depan,” katanya kepada para penerima beasiswa.
Dalam kesempatan itu, ASR mengungkapkan kondisi fiskal daerah menjadi penyebab utama program Sultra Cerdas sebelumnya tertunda. Ia menyebut pendapatan daerah mengalami penurunan signifikan akibat efisiensi anggaran.
“Kondisi fiskal kita turun. Dari Rp800 miliar turun Rp207 miliar. Sultra juga kena potongan Rp1,8 triliun, sehingga harus dilakukan penyesuaian,” ujarnya.
Akibat keterbatasan anggaran tersebut, sejumlah program pemerintah daerah ikut terdampak, termasuk program beasiswa Sultra Cerdas.
“Alhasil program Sultra Cerdas kena dampak. Silpa tahun lalu juga tidak bisa dilakukan,” katanya.
ASR menjawab pertanyaan terkait nasib mahasiswa calon penerima Beasiswa Sultra Cerdas tahun lalu yang belum terakomodasi di tahun 2026. Menurut dia, pemerintah daerah masih akan melihat kemampuan anggaran dan kesesuaian nomenklatur APBD sebelum melanjutkan program serupa.
“Kalau nanti tersedia anggarannya dan sesuai nomenklatur, maka akan kita kerjakan. Tapi kalau tidak memungkinkan, mungkin tahun depan baru kita lakukan lagi,” ucapnya.
Ia pun meminta maaf kepada masyarakat yang sebelumnya berharap mendapatkan bantuan melalui mekanisme lama, namun belum tercover dalam tahap penyaluran kali ini.
“Kalau ada kekurangan, namanya manusia. Saya mohon maaf,” katanya.
ASR menambahkan, sebagian anggaran jamuan makan dan minum gubernur turut dialihkan untuk mendukung program beasiswa tersebut.
Ia berharap para penerima beasiswa tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi Bumi Anoa. Adm





