LAJUR.CO, KENDARI – Belakangan sejumlah negara di Eropa tengah menghadapi gelombang panas. Prancis misalnya, negara tersebut konsisten mencatat suhu panas di atas 40 derajat celcius hingga angka kematian dilaporkan melonjak 30 persen dalam sepekan.
Meski Indonesia tidak mencatat tren serupa, BMKG mewanti-wanti puncak musim kemarau di periode Juli hingga Agustus.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin ikut menyoroti risiko kesehatan di balik cuaca panas, termasuk kemungkinan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
“Suhu panas, ya kita rasa masyarakat harus menjaga kesehatannya, makannya cukup karena itu bagus untuk menjaga imunitas,” jelas dia kepada wartawan, Jumat (10/7/2026).
Ditemui terpisah, Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr Andi Saguni mewanti-wanti hal yang sama. Cuaca panas disebutnya bisa lebih kuat dibandingkan tahun lalu.
“Ya, jadi betul sekarang kita sedang transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Dan kelihatannya kemarau kita itu lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya. Tren ISPA meningkat,” jelas dia.
Risiko tersebut jelas perlu diwaspadai bagi kelompok berisiko tinggi termasuk orang dengan imunitas rendah, lansia, ibu hamil, hingga pekerja dengan paparan panas lebih intens.
“Tentunya kondisi alam yang panas, kemudian kering, perubahan cuaca yang mendadak, itu sebaiknya diantisipasi oleh seluruh masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya Juli hingga September 2026. Antisipasi dini diperlukan guna mengurangi risiko kekeringan, gangguan kesehatan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
Pada Juli 2026, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi tersebut kemudian meluas pada Agustus menjadi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan.
Sementara pada September 2026, puncak kemarau diprediksi masih terjadi di 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta berbagai sektor mulai melakukan langkah mitigasi, termasuk sektor pangan, sumber daya air, hingga kesehatan masyarakat.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah agar menyiapkan mekanisme respons cepat jika kualitas udara memburuk akibat cuaca kering yang berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA,” imbau BMKG. Adm
Sumber : Detik.com



