BERITA TERKINIDAERAHHEADLINE

Buka Festival Lia Ngkabhori di Muna, Fadli Zon Umumkan Gua Metanduno Segera Naik Status Jadi Cagar Budaya Nasional

×

Buka Festival Lia Ngkabhori di Muna, Fadli Zon Umumkan Gua Metanduno Segera Naik Status Jadi Cagar Budaya Nasional

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, MUNA – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengumumkan kompleks Gua Metanduno di Kabupaten Muna, Sultra, akan segera ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Penetapan tersebut dijadwalkan diumumkan pada awal Agustus 2026 setelah seluruh tahapan sidang penetapan rampung.

Status baru itu menjadi pijakan penting dalam upaya mendorong Gua Metanduno bersama Gua Lia Ngkabhori menuju daftar Warisan Dunia UNESCO. Kedua situs prasejarah yang menyimpan lukisan cadas berusia 67.800 tahun berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dinyatakan sebagai lukisan cadas tertua di dunia.

Pengumuman itu disampaikan Fadli Zon saat membuka Festival Lia Ngkabhori di Desa Kondongia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sultra, Sabtu (11/7/2026). Festival budaya tersebut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Ahmad Wiyagus, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka, beberapa bupati dan wali kota di Sultra, serta berbagai elemen masyarakat. Festival digelar sebagai bentuk perayaan atas pengakuan dunia terhadap kompleks gua prasejarah di Muna yang kini menjadi perhatian komunitas arkeologi internasional.

Saat ditanya mengenai kepastian penetapan status Cagar Budaya Nasional, Fadli memastikan seluruh proses telah memasuki tahap akhir.

“Penetapan status, sidangnya sudah selesai minggu lalu. Tinggal nanti akan diumumkan. Insyaallah awal Agustus sebagai Cagar Budaya Nasional,” kata Fadli.

Penetapan sebagai Cagar Budaya Nasional, menurut Fadli, menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan kawasan sekaligus membuka jalan agar Gua Metanduno dan Gua Lia Ngkabhori dapat diusulkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Bagi Fadli, kunjungan ke Muna merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan secara langsung kawasan gua prasejarah yang menyimpan jejak awal ekspresi budaya manusia. Ia mengaku takjub melihat banyaknya lukisan cadas yang tersebar di kawasan perbukitan cadas Kabupaten Muna.

“Ya, ini yang diinisiasi oleh pemerintah provinsi, kabupaten, dan juga daerah Muna untuk menyaksikan langsung festival ini. Ini merupakan satu festival budaya sekaligus melihat lukisan tertua di dunia, atau yang sudah ditetapkan sebagai lukisan cadas atau rock art yang usianya 67.800 tahun di Liang Metanduno,” ujarnya.

Baca Juga :  Live Instagram OJK Sultra - Bank Sultra: Bagikan Tips Cek Rekam Jejak Kredit Lewat SLIK

Menurutnya, kawasan tersebut bukan hanya memiliki satu lukisan purba, melainkan ratusan gambar dengan usia yang beragam. Temuan-temuan itu menjadi bukti penting perjalanan panjang manusia di Nusantara.

“Dan kita lihat di situ, luar biasa banyak sekali lukisan-lukisan purba yang umurnya beragam. Ada yang dekat beberapa senti saja dari yang berusia 67.800 tahun itu, ada yang 60.000 tahun. Di Liang Kobori juga banyak sekali. Nah, kita ingin dokumentasikan ini ke depan dan kita ingin sebarkan ke dunia, gambar-gambar ekspresi budaya yang menunjukkan dan membuktikan bahwa Indonesia, Nusantara, Sulawesi, dan Muna ini adalah bagian dari jejak perjalanan yang luar biasa panjang dari manusia Nusantara,” katanya.

Ia mengatakan, temuan arkeologi di Muna berpotensi mengubah berbagai teori mengenai migrasi manusia dan asal-usul peradaban dunia. Kata dia, masih banyak misteri yang harus dijawab melalui penelitian lanjutan.

“Ini juga tentu bisa mengubah teori-teori tentang migrasi manusia, teori-teori tentang dari mana asal-usulnya peradaban. Apakah mereka yang mempengaruhi kita, atau dari kita yang mempengaruhi dunia luar. Ya, ini subjek untuk penelitian-penelitian berikutnya,” ucapnya.

Meski demikian, Fadli menegaskan situs prasejarah tersebut harus dipandang sebagai kekayaan budaya bangsa yang wajib dijaga keberlangsungannya.

“Saya kira masih cukup banyak PR, tapi kita menyaksikan kekayaan budaya ini, aset budaya ini adalah bagian dari national treasure kita, atau kekayaan budaya kita.”

Ia berharap pelestarian situs dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata.

“Kekayaan budaya ini harus dilindungi, dipromosikan, dikembangkan, dan juga tentu saja dimanfaatkan bagi ekonomi budaya yang berada di sekitar Muna ini. Saya yakin nanti dengan infrastruktur dan ekosistem yang baik, akan semakin banyak orang yang akan datang ke Muna untuk melihat bukti-bukti perjalanan peradaban manusia yang panjang itu yang ditemukan ada di sini,” lanjutnya.

Baca Juga :  Beasiswa Kalla 2026 Kembali Dibuka, Khusus Maba Asal Sultra, Sulsel, Sulteng dan Sulbar

Optimisme terhadap masa depan wisata budaya Muna juga datang dari Bank Indonesia Perwakilan Sultra yang menjadi salah satu stakeholder yang mendukung penyelenggaraan Festival Lia Ngkabhori. Deputi Kepala Perwakilan BI Sultra, Thatit Suryono, menilai pengakuan dunia terhadap Gua Metanduno sebagai lokasi lukisan cadas tertua di dunia menjadi momentum besar untuk memperkenalkan Muna dan Sultra ke tingkat internasional.

Menurutnya, predikat tersebut bukan sekadar capaian ilmiah, tetapi juga menjadi bukti penting jejak peradaban Homo sapiens yang dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

“Ya, ini Guinness Book of Records, salah satu lukisan cadas tertua di dunia. Harapannya, ini jadi salah satu bukti jejak peradaban Homo sapiens. Harapannya bisa mengangkat daerah Muna, Sultra lebih ke global lagi,” ujar Thatit.

Senada dengan itu, Fadli menegaskan pemerintah pusat akan menyiapkan berbagai langkah lanjutan untuk memperkuat perlindungan kawasan. Selain penetapan sebagai Cagar Budaya Nasional, Kementerian Kebudayaan juga akan membangun pusat informasi, museum skala kecil, serta menempatkan juru pelihara untuk menjaga kelestarian gua-gua prasejarah di Pulau Muna.

“Dan saya kira, kita tentu perlu mempersiapkan itu. Kita membangun pusat informasi, tadi saya sudah bicara, satu museum kecil mungkin, dan juga kita siapkan juru pelihara dari Kementerian Kebudayaan yang bisa membantu memelihara gua-gua yang ada di sekitar Pulau Muna,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sultra, LM Masrul, mengatakan Festival Lia Ngkabhori sengaja dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi wisata arkeologi Muna kepada pemerintah pusat maupun masyarakat luas.

Selama festival berlangsung, berbagai atraksi budaya khas Muna ditampilkan, mulai dari Pogolu, Ewa Wuna, Dea Tunuha, Modero, Linda hingga atraksi penerbangan layang-layang tradisional yang disebut sebagai salah satu peninggalan layang-layang tertua di dunia. Rangkaian kegiatan diisi kunjungan Menteri Kebudayaan ke Gua Metanduno, melihat langsung wujud lukisan cadas yang kini banyak menyedot perhatian dunia.

Baca Juga :  Gua Metanduno Masuk Guinness World Records, Kades Lia Ngkabhori Harap Dongkrak Kesejahteraan Warga

Kata dia, Gua Metanduno naik pamor sejak BRIN bersama Griffith University mempulikasikan hasil penelitiannya pada awal 2026. Mereka menyimpulkan usia lukisan tangan di Gua Metanduno mencapai 67.800 tahun sehingga dinyatakan sebagai lukisan cadas tertua di dunia.

“Metanduno keistimewaannya karena pada awal 2026 kemarin telah dirilis hasil penelitian dari Griffith University dan BRIN. Setelah diukur umurnya, ternyata usianya 67.800 tahun. Jadi disimpulkan bahwa itu menjadi lukisan cadas tertua di dunia. Itu yang membuat Metanduno sekarang menjadi istimewa,” katanya.

Ia berharap kehadiran Menteri Kebudayaan bersama jajaran pemerintah pusat menjadi momentum lahirnya berbagai program konservasi sekaligus pembangunan infrastruktur penunjang kawasan wisata budaya tersebut.

“Harapan kami tentunya Pak Menteri, dengan kedatangan Pak Menteri dan Gubernur beserta jajarannya, mudah-mudahan ada keberpihakan program untuk konservasi area ini dan pembangunan sarana prasarana infrastruktur pariwisatanya. Sehingga ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat Kabupaten Muna,” ujarnya.

Masrul mengungkapkan kawasan yang telah bersertifikat memiliki luas sekitar 5,4 hektare. Namun berdasarkan hasil penelitian terbaru BRIN, terdapat sedikitnya 66 gua yang memiliki lukisan cadas di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, Gua Metanduno dan Gua Lia Ngkabhori menjadi dua situs yang paling menonjol karena memiliki jumlah lukisan purba paling banyak dan menjadi fokus penelitian para arkeolog.

Penetapan Gua Metanduno sebagai Cagar Budaya Nasional pada awal Agustus mendatang diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat perlindungan situs prasejarah tersebut sekaligus membuka jalan menuju pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Pemerintah berharap status tersebut tidak hanya menjaga salah satu situs arkeologi terpenting di Indonesia, tetapi juga menjadikan Muna sebagai destinasi wisata budaya dan penelitian kelas dunia yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x