LAJUR.CO, KENDARI – Di balik toga yang dikenakannya pada momen hari wisuda, tersimpan kisah perjuangan yang tak banyak diketahui orang. Ia adalah Dwi Pratiwi Aprilya Wahid, penyandang status lulusan terbaik Universitas Haluoleo (UHO) 2026.
Selain sibuk menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah, Dwi sehari-hari membantu kedua orang tuanya berjualan kue demi menopang ekonomi keluarga.
Kerja keras itu kini berbuah manis. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99, ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik Universitas Halu Oleo (UHO) pada Wisuda Program Magister ke-79 dan Sarjana ke-110.
Mahasiswi Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik (FT) tersebut menuntaskan pendidikan sarjananya dalam waktu 3 tahun 8 bulan. Selain menjadi lulusan terbaik Fakultas Teknik, Dwi juga meraih predikat lulusan terbaik tingkat universitas pada prosesi wisuda yang digelar Rabu (15/7/2026).
Dwi mengaku bersyukur dan bahagia atas pencapaian yang berhasil diraihnya. Baginya, momen wisuda terasa semakin istimewa karena dapat disaksikan langsung oleh kedua orang tuanya yang selama ini menjadi sumber semangat selama menjalani perkuliahan.
“Kalau perasaannya, jujur ada kebahagiaan tersendiri karena disaksikan langsung oleh orang tua. Perjuangan selama empat tahun juga tidak sia-sia karena tujuan saya memang ingin memberikan hasil yang terbaik di setiap semester,” ujarnya kepada awak media.
Di balik prestasi akademiknya, Dwi menyimpan kisah perjuangan yang penuh pengorbanan. Putri dari pasangan penjual kue itu mengaku hampir setiap hari membantu kedua orang tuanya berjualan di kawasan Pasar Anduonohu, Kota Kendari.
Rutinitas itu dimulainya setelah pulang kuliah. Sejak sore hingga menjelang tengah malam, ia membantu membuat dan menjual kue. Aktivitasnya belum berhenti di situ. Menjelang subuh, Dwi kembali mengantarkan kue sebelum berangkat ke kampus. Barulah setelah seluruh aktivitas itu selesai, ia meluangkan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah.
“Kalau orang tua basicnya buat kue terus dititipkan. Jadi kalau habis dari kampus, jam 6 sampai 10 atau 12 malam fokus untuk bantu orang tua. Habis itu, jam 4 sampai 5 antar kue. Pergi ke kampus, pulang dari kampus baru fokus untuk kerjakan tugas,” ungkapnya.
Meski harus membagi waktu antara kuliah dan membantu orang tua, Dwi tetap mampu mempertahankan prestasi akademiknya hingga lulus dengan IPK hampir sempurna.
Menurutnya, kunci keberhasilannya adalah disiplin mengerjakan setiap tugas sebelum batas waktu pengumpulan serta mempersiapkan diri secara maksimal untuk setiap ujian dan presentasi.
“Tugas dikerjakan sesuai dengan waktunya, sebelum deadlinenya memang harus dikumpul. Kalau saya di Teknik itu kebanyakan bukan tertulis, tapi praktik buat website dan dipresentasikan. Jadi harus maksimalkan persiapannya,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Dwi belum berencana langsung melanjutkan studi. Ia ingin mencari pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum mengejar cita-citanya menempuh pendidikan magister.
Perempuan berhijab itu menargetkan dapat melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun depan dengan tetap mengambil Program Studi Teknik Informatika.
“Untuk saat ini fokus cari kerja dulu mungkin sekitar enam bulan. Nanti di semester genap atau ganjil tahun depan berencana melanjutkan S2,” ujarnya.
Kisah Dwi menjadi bukti jika keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan kerja keras, disiplin, dan dukungan keluarga, putri seorang penjual kue itu berhasil menorehkan prestasi sebagai lulusan terbaik Universitas Halu Oleo dengan IPK nyaris sempurna.
Laporan: Ika Astuti



