LAJUR.CO, KENDARI — Kemarau panjang yang melanda Sulawesi Tenggara (Sultra) membuat 4.202,35 hektare lahan persawahan berstatus puso alias gagal panen. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Bombana menjadi wilayah dengan areal puso terluas, yakni mencapai 2.090,75 hektare.
Data per 22 September 2026 itu menunjukkan, dampak kemarau tidak hanya membuat tanaman kekurangan air, tetapi sebagian lahan sudah tidak lagi dapat diselamatkan untuk musim panen berjalan.
Setelah Bombana, areal puso terluas berada di Konawe Selatan dengan 1.092,20 hektare, kemudian Kolaka Timur 882 hektare. Status sawah gagal panen juga tercatat di Muna Barat 49 hektare, Konawe 41 hektare, Kolaka 21,75 hektare, Buton 17,25 hektare, Kota Kendari 5 hektare, Kolaka Utara 2,50 hektare, dan Kota Bau-Bau 0,90 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra, Prof Muh Taufik, mengatakan areal puso tersebut merupakan bagian dari total 11.017,54 hektare lahan yang terdampak kekeringan.
Dari luasan tersebut, sekitar 7.000 hektare masih memiliki peluang untuk diselamatkan melalui pemenuhan kebutuhan air. Sementara sekitar 4.000 hektare lainnya telah masuk kategori puso dan tidak lagi dapat dipertahankan hingga masa panen.
“Kalau yang status kekeringan ada yang masih bisa kita selamatkan. Kecuali yang puso, itu sudah tidak bisa diselamatkan. Ini bedanya,” kata Prof Muh Taufik, Kamis (24/9/2026).
Adapaun daerah dengan luas sawah yang mengalami kekeringan masih dipegang Kabupaten Bombana. Luasnya mencapai 3.002,25 hektare. Berikutnya Kolaka Timur 2.748,83 hektare, Konawe Selatan 2.569,20 hektare, dan Konawe 1.711,26 hektare.
Wilayah lainnya yang masuk laporan kekeringan yakni Kota Kendari 337 hektare, Kolaka 318,75 hektare, Muna Barat 192,50 hektare, Kota Bau-Bau 91,50 hektare, Buton 40,25 hektare, Kolaka Utara 4 hektare, serta Buton Tengah 2 hektare.
Untuk menyelamatkan areal yang masih memiliki peluang panen, Distanak Sultra mengoptimalkan petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) di lapangan. Mereka memantau perkembangan tanaman sekaligus memetakan lahan yang masih memungkinkan dipulihkan.
“Kami dari Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra telah mengambil langkah-langkah kuratif maupun preventif,” ujarnya.
Intervensi dilakukan dengan mengerahkan mesin pompa air atau Alkon. Peralatan tersebut diberikan kepada kelompok tani dengan sistem pinjam pakai dan dapat digulirkan ke lokasi lain setelah kebutuhan di satu kawasan terpenuhi.
“Statusnya pinjam pakai dan digulirkan dari satu kelompok ke kelompok lain, atau dari satu lokasi ke lokasi lain ketika permasalahan di satu lokasi tersebut sudah selesai diselesaikan,” tutur Prof Muh Taufik.
Pemenuhan kebutuhan air turut diperkuat melalui kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS). Pompa air mobile disiapkan untuk membantu petani yang masih membutuhkan pasokan air, dengan pelaksanaannya menyesuaikan ketersediaan anggaran.
“Kalau ada petani yang membutuhkan air, bisa dibantu. Semua berbasis pada ketersediaan anggarannya,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas panen di sejumlah sentra pertanian Sultra masih berlangsung. Tidak seluruh persawahan kehilangan hasil akibat kemarau. Beberapa kawasan bahkan telah memasuki masa panen meski pasokan air terbatas.
Salah satunya berada di Kecamatan Basala, Kabupaten Konawe Selatan. Di wilayah itu terdapat hamparan persawahan sekitar 1.500 hingga 1.600 hektare yang tercatat siap panen.
“Alhamdulillah, di tengah kondisi seperti ini, beberapa lokasi persawahan kita telah melakukan panen seperti di Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, dan beberapa lokasi lainnya,” katanya.
Distanak Sultra menyatakan produksi padi sejauh ini masih relatif aman dan mampu memenuhi kebutuhan domestik. Lahan yang berstatus puso dinilai belum memberikan pengaruh signifikan terhadap total produksi karena sejumlah wilayah lainnya tetap melakukan panen, ditambah adanya perluasan areal tanam.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, produksi dan produktivitas tanaman pangan Sultra justru masih mencatat sedikit kenaikan.
“Berdasarkan data BPS terakhir, tidak ada penurunan secara keseluruhan. Bahkan ada sedikit kenaikan pada angka produksi maupun produktivitas tanaman pangan kita. Karena beberapa wilayah tetap panen dan ada perluasan areal tanam, jadi bisa menutupi, bahkan angka produksi sedikit naik,” ungkap Prof Muh Taufik. Adm



